BOJONEGORO – Desa Sobontoro, Kecamatan Balen, Sabtu (11/10/2025). Gamelan mengalun, selendang berputar, di antara wajah-wajah warga yang sumringah. Bukan kampanye, bukan pula konser koplo—melainkan Lomba Seblak Sampur Tayub Bojonegoro 2025, ajang yang membuktikan bahwa tradisi masih punya ruang istimewa di tengah riuh dunia digital.
Para penari tayub, dengan riasan lembut dan senyum yang tulus, menari diiringi kendang dan gong. Lenggak-lenggok mereka bukan sekadar hiburan, tapi juga bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang terus hidup lintas zaman.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Welly Fitrama, dalam sambutannya menegaskan bahwa arah besar pembangunan Bojonegoro adalah “Bojonegoro Bahagia, Makmur, dan Membanggakan.” Salah satu jalannya, kata dia, adalah melalui pemajuan kebudayaan.
“Kita ingin agar kebudayaan tidak hanya lestari, tapi juga menjadi sumber kebanggaan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dan pagi itu, di Sobontoro, kalimat itu benar-benar menemukan maknanya. Budaya tak lagi berhenti di spanduk atau slogan, tapi berdenyut di tengah masyarakat — hidup di panggung desa, di antara tawa warga, denting gamelan, dan aroma kacang rebus yang menandai kehangatan khas hajatan rakyat.
#Tayub: Warisan Takbenda yang Terasa Nyata
Tayub Bojonegoro bukan hanya tarian; ia adalah ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini. Sebuah bahasa tubuh yang bercerita tentang keramahan, keseimbangan, dan kebersamaan. Maka, ketika Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menetapkan Tayub Bojonegoro sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) pada 2021, rasa bangga itu meluas ke seluruh penjuru kabupaten.
Namun, seperti kata Welly, pengakuan itu bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab baru, menjaga dan menghidupkannya. Amanat UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menegaskan pentingnya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan nasional.
“Melalui Seblak Sampur, kita ingin Tayub terus mengakar di tengah masyarakat, menjadi media ekspresi seni, mempererat silaturahmi antarseniman, sekaligus menghidupkan ekonomi kreatif daerah,” lanjutnya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
TitikTerang hadir di WhatsApp
#Dari Lenggak-Lenggok ke Perputaran Ekonomi
Yang menarik dari Seblak Sampur 2025, panggungnya tak hanya diisi penari. Di pinggir arena, stan kuliner dan kerajinan ramai diserbu penonton. Ada yang jual es dawet, anyaman bambu, hingga suvenir bertuliskan “Tayub Bojonegoro Pride.”
Kegiatan budaya ini dengan sendirinya memutar roda ekonomi desa. Tayub menjadi alasan orang datang, tapi yang pulang tak hanya membawa kenangan, melainkan juga dagangan yang laris dan kebanggaan yang tumbuh.
Di sinilah seni dan ekonomi bertemu dalam bentuk yang paling alami: tanpa jargon, tanpa paksaan. Budaya bukan cuma untuk dilestarikan, tapi juga untuk menghidupi.
#Bojonegoro Menuju Geopark, Budaya Jadi Pondasinya
Tak berhenti di panggung Tayub, Bojonegoro kini tengah bersiap menapaki panggung dunia. Kabupaten ini resmi menjadi Aspiring UNESCO Global Geopark 2026—sebuah langkah besar yang menandakan bahwa potensi alam dan budaya Bojonegoro mendapat perhatian nasional dan internasional.
Kegiatan Seblak Sampur Tayub Bojonegoro 2025 juga menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-348 bertema “Bersinergi untuk Bojonegoro Mandiri.” Sebagai penutup, Pemkab memberikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Sobontoro atas perannya melestarikan kesenian Oklik Sobontoro, yang juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Dua warisan dalam satu desa—Oklik dan Tayub—menjadi bukti bahwa Bojonegoro bukan sekadar punya tanah yang subur, tapi juga akar budaya yang kuat. Di tengah dunia yang serba cepat, masyarakat Sobontoro memilih menari perlahan. Sebab dalam setiap ayunan sampur, mereka menemukan cara paling sederhana untuk menjaga jati diri: dengan bergendhing bersama, dan tak lupa bahagia.***