SETIAP kali ada video tentang bahaya rokok, selalu muncul komentar klasik: “nonton sambil ngerokok.” Antara satire, bandel, dan jujur, kolom komentar di Instagram justru berubah jadi museum humor hitam paling hidup tentang kebiasaan yang katanya mematikan itu.
Kisah tragis seorang perokok berat bernama Rizky Pratama malah melahirkan parade komentar absurd. Dari “rokok separuh napasku” sampai “baru ngidupin tiga batang,” para netizen membuktikan: rokok mungkin membunuh paru, tapi tidak dengan selera humor mereka.
#Dari Kamar Asap ke Kolom Komentar
Kabar tentang Rizky Pratama, 29 tahun, asal Bekasi, meninggal dengan paru-paru rusak akibat kebiasaan merokok, seharusnya bikin bulu kuduk berdiri. Tapi di dunia maya, tragedi sering berubah jadi panggung satir. Di akun @snapfacts0, video tentang kasus ini justru dihujani komentar yang lebih mirip festival komedi ketimbang ruang duka.
“Satu-satunya hal sia-sia di dunia adalah nasehatin perokok,” tulis akun @erpanepran.
Komentar itu dapat ratusan suka, seolah jadi kesimpulan bersama bahwa kampanye antirokok cuma cocok buat presentasi seminar kesehatan, bukan buat ngelawan nikmatnya sebatang Marioboro setelah makan soto.
Nah, memang ada merek rokok Marioboro. Ya, sudahlah, baca saja di akun Instagram yang memposting. “Samsu, Marioboro…ah!”
Baca saja ini, ada juga yang lebih ekstrem di kolom komentar, “Setelah lihat video ini saya matikan rokok, untuk nyambung satu batang lagi.” Netizen ini tak hanya nyindir, tapi juga memperagakan betapa kuatnya cinta segitiga antara manusia, nikotin, dan pengabaian.
Rokok, bagi banyak orang, bukan cuma kebiasaan, ia sudah naik pangkat jadi ritual eksistensial.
#Rokok, Iritasi yang Disalahartikan Sebagai Kepuasan
Akun lain mencoba pakai logika ilmiah, “Sensasi padat di dada itu iritasi, bukan kepuasan. Kasihan, saluran napasnya dibilang nikmat.” Tapi sebelum komentar ini sempat terasa bijak, puluhan balasan datang: “Rokok separuh napasku.” dan “Marioboro merah penambah oksigen.”
View this post on InstagramWhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
Begitulah, perdebatan di kolom komentar soal rokok jarang menang lewat data medis. Justru satire dan ironi yang jadi juaranya. Ketika dokter bilang paru-paru rusak, para perokok menjawab dengan filosofi, “Ngrokok iya, olahraga juga harus, insyaallah mati juga.”
Lucunya, argumen mereka tak lagi bicara soal bahaya atau sehat, tapi soal hak eksistensi, “Gak ngerokok juga nanti bakal mati.” Kalimat ini sederhana tapi punya daya magis luar biasa. Ia mereduksi seluruh wacana kesehatan jadi satu kebenaran universal, bahwa kematian tak bisa dinegosiasikan, jadi biarkan saja rokok jadi perantara menuju takdir.
#Dari ICU ke Warung Kopi: Agama Baru Bernama Nikotin
Yang paling menarik dari fenomena ini bukan soal merokoknya, tapi soal bagaimana komunitas perokok membangun solidaritas. Saat seseorang menulis, “Mana liatnya gw lagi ngerokok, gw sambil ngerokok ini,” yang lain langsung membalas, “Yang nonton sambil ngerokok sini kumpul bareng.”
Ada semacam rasa persaudaraan absurd di sana, persaudaraan yang terbentuk bukan karena kesamaan ideologi, tapi karena sebatang kretek yang dibakar bersamaan di bawah naungan WiFi publik. Di warung kopi, para perokok ini bisa bicara politik, cinta, bahkan kematian dengan nada Santai, “Percuma ngomong sama perokok, apalagi suami sendiri.”
Dan benar saja, di dunia nyata, mereka tetap hidup, tetap menghisap, dan tetap punya kisah yang tak bisa disangkal. “Tetangga saya mbah Tugiman umur 97 masih ngerokok, sehat waras,” tulis seorang warganet, yang mungkin sedang menghisap kretek sambil mengetik, argumen empiris paling klasik. Kalau Mbah Tugiman saja kuat, siapa kita menolak warisan nikotin leluhur?
Akhirnya, mungkin bukan rokok yang perlu dimusuhi, tapi cara kita menilai. Setiap batang rokok punya kisah, setiap kepulan asap membawa semacam puisi patah hati yang tak bisa dijelaskan logika medis. Mungkin benar kata netizen itu, menasihati perokok itu seperti meniup asap melawan angin, sia-sia, tapi tetap romantis.***