Lewati ke konten

Sinyal Bahaya Air Baku: Suara Kritis Pelajar Menagih Masa Depan Ekosistem Kali Surabaya!

| 7 menit baca |Pelajar Mbois | 17 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Pelajar Driyorejo dan Tarik bersuara di Kali Surabaya Festival 2026, meneliti mikroplastik hingga sejarah sungai demi menjaga ekosistem!
  • Mengungkap ancaman mikroplastik bagi habitat ikan lokal, Naylus Anisa ajak generasi muda bergerak nyata menyelamatkan aliran Kali Surabaya!
  • Menelusuri jejak Kali Surabaya dari gerbang Kerajaan Majapahit hingga era kolonial, Adriana ungkap peran strategis sungai kita!
  • Pencemaran sampah plastik makin mengancam air baku, Safa Tasya tegaskan pentingnya kolaborasi warga dan ECOTON jaga sungai!
  • Aksi nyata pelajar Sidoarjo-Gresik di Wringinanom membuktikan kepedulian Gen-Z menjaga kelestarian Kali Surabaya demi masa depan bersama!

KEPEDULIAN nyata generasi muda terhadap kelestarian lingkungan terpancar jelas dalam gelaran Kali Surabaya Festival 2026 yang berlangsung di Taman Suaka Ikan, Bantaran Kali Surabaya, Wringinanom, pada 21–25 September 2026. Ajang edukasi ini menjadi wadah kolaborasi lintas sekolah bagi para pelajar untuk mengamati kondisi perairan secara langsung, mendalami riset lingkungan, sekaligus menyuarakan gagasan kritis mereka demi keberlanjutan ekosistem sungai.

Kumpulan tulisan dari Naylus Anisa Putri (SMAN 1 Driyorejo Gresik), Adriana Hermanda A. S. (SMAN 1 Tarik Sidoarjo), dan Safa Tasya Kamila (SMAN 1 Driyorejo Gresik) menghadirkan sudut pandang yang kaya dan beragam.

Mulai dari catatan observasi lapangan mengenai ancaman mikroplastik bagi keberadaan ikan lokal, kilas balik sejarah fungsi Kali Surabaya sejak era Kerajaan Majapahit hingga masa kolonial, hingga seruan aksi bersama antara pelajar, masyarakat, dan organisasi seperti ECOTON dalam menjaga pasokan air baku kehidupan. Selamat membaca, semoga deretan karya ini mampu memantik kepedulian kita semua untuk terus merawat sungai![]

 

Momen seru dan penuh semangat dari para pelajar pas lagi menyampaikan materi tentang penyelamatan ikan lokal Kali Surabaya! Di depan baliho “SAVE IWAK PAPAR”, mereka dengan luwes menjelaskan pentingnya menjaga spesies ikan yang terancam punah dari gempuran pencemaran. Suara kritis anak SMA emang gak ada obatnya kalau udah urusan bela lingkungan! | Foto: Fully Syafi

Naylus Anisa Putri
Kelas: X-3 | SMAN 1 Driyorejo Gresik

Menyingkap Realita Kali Surabaya: Rumah Ikan, Ancaman Mikroplastik, dan Aksi Nyata Kita

PAGI itu, aku dan Azka melipir ke tepi Kali Surabaya buat ngamatin sebuah papan informasi besar yang merangkum kondisi sungai ini secara komprehensif, mulai dari hulu sampai hilir. Dari papan itu, kita berdua makin paham betapa pentingnya peran Kali Surabaya sebagai sumber kehidupan warga. Alirannya yang membentang luas dari kawasan Mlirip di Mojokerto sampai membelah Kota Surabaya ini melewati permukiman, area pertanian, hingga kawasan industri yang ramai aktivitas.

BACA JUGA:  Mikroplastik Menyusup Udara hingga Cairan Manusia

Bukan cuma sekadar tempat mengalirnya air, Kali Surabaya itu sebenarnya rumah nyaman bagi berbagai jenis ikan air tawar. Berdasarkan data penelitian dan sensus ikan, tercatat masih banyak spesies lokal yang bertahan di sini, kaya ikan Jendil, Rengkik, Bader Merah, Bader Putih, Palung, Keting, Papar, sampai Montok. Bahkan, hasil penelitian ngebongkar kalau sebagian besar ikan yang ditemukan di sini didominasi oleh ikan betina. Makanya, pemantauan kualitas air, pengujian mikroplastik, dan sensus ikan rutin digelar tiap tahun demi memastikan ekosistemnya tetap terpantau.

Tapi di balik fungsinya yang super vital, ancaman pencemaran yang dihadapi Kali Surabaya bener-bener gak bisa dianggap sepele. Tantangan terbesar datang dari tumpukan sampah plastik rumah tangga dan limbah domestik yang dibuang sembarangan. Sampah-sampah ini lambat laun terurai jadi partikel super kecil alias mikroplastik yang meracuni sungai. Penelitian ngebuktiin adanya konsentrasi mikroplastik yang lumayan tinggi—terutama di area hilir—plus kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) yang drop di bawah baku mutu. Kondisi ini jelas bikin kesehatan ekosistem dan kelangsungan hidup ikan-ikan di dalamnya makin terancam!

Melihat fakta-fakta ngeri ini, aku dan Azka jadi sadar banget kalau menjaga Kali Surabaya itu bukan cuma tugas pemerintah atau peneliti aja, tapi tanggung jawab kita bersama. Sebagai pelajar, kita juga punya peran nyata yang bisa dilakukan sehari-hari: mulai dari rajin ngamatin kondisi sungai, memotret keadaan sekitar, mewawancarai warga, melaporkan pencemaran, stop pakai plastik sekali pakai, sampai aktif ikut aksi kampanye kebersihan sungai kaya festival tahunan.

Dari pengalaman langsung di tepi sungai ini, aku dan Azka belajar satu hal penting: merawat Kali Surabaya itu sama artinya dengan menjaga masa depan kita sendiri agar tetap bersih, sehat, dan berkelanjutan!***


Antusiasme kawan-kawan pelajar pas lagi tampil di depan audience dalam acara Kali Surabaya Festival! Sambil membentangkan poster “KALI BRANTAS BUKAN TEMPAT SAMPAH” dan megang papan peranti edukasi, mereka berhasil membawakan pertunjukan teaterikal/presentasi edukasi lingkungan yang seru dan mengena. Bukti nyata kalau aksi bela sungai dari Gen-Z itu keren dan kompak! | Foto: Fully Syafi

Adriana Hermanda A. S.
Kelas: 10 | SMAN 1 Tarik, Sidoarjo

Menelusuri Sejarah Kali Surabaya: Urat Nadi Perdagangan dari Era Majapahit sampai Kolonial

BIACARA soal sejarah panjang Kota Surabaya, kita nggak bakal bisa lepas dari peran vital sungai-sungai yang membelahnya. Nggak sedikit orang yang masih suka keliru dan menyamakan antara Kali Surabaya, Kali Mas, dan Kali Jagir. Padahal ketiganya punya percabangan dan arah aliran yang berbeda:

  • Kali Mas: Mengalir meliuk ke arah utara melewati pusat Kota Surabaya sampai bermuara di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak.
  • Kali Jagir: Mengalir lurus ke sisi timur menuju area konservasi Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya).

Sebagai anak aliran dari Daerah Aliran Sungai Brantas yang membentang dari kawasan hulu di Mojokerto menuju timur laut hingga bermuara di Selat Madura, Kali Surabaya dan sistem perairannya menjadikan kawasan muara ini disulap sebagai pelabuhan tradisional sejak berabad-abad lalu.

Jejak sejarah perairan ini bener-bener panjang dan berkelas, bahkan sudah dimulai sejak abad ke-13 di era Kerajaan Majapahit! Waktu itu, aliran sungai ini berfungsi sebagai pintu gerbang utama menuju pusat kerajaan di Trowulan. Tokoh legendaris seperti Raden Wijaya, sang pendiri Majapahit, punya ikatan sejarah kuat di kawasan ini pas pertempuran sengit melawan pasukan Tartar-Mongol. Berlanjut ke tahun 1743 pada era kolonial Belanda, alur sungai yang awalnya alami dan berkelok-kelok mulai direkayasa dan diluruskan demi memperlancar arus transportasi logistik.

Sejak kejayaan Majapahit hingga era kolonial, jaringan sungai ini memegang peran super strategis sebagai jalur transportasi air, pusat perdagangan, sekaligus penghubung utama wilayah pedalaman dengan jalur maritim Selat Madura. Berbagai perahu dan sampan sibuk hilir mudik membawa hasil bumi hingga tangkapan nelayan dari Pelabuhan Tanjung Perak ke pedalaman kota. Perairan ini bener-bener jadi saksi bisu tumbuh kembangnya peradaban dan denyut nadi perekonomian di Jawa Timur!***

Potret keakraban kawan-kawan pelajar pas lagi diskusi seru di area pameran edukasi Kali Surabaya Festival! Di antara papan dokumentasi riset dan instalasi seni dari sampah plastik, para siswa saling bertukar ide buat menyusun strategi aksi lingkungan. Kekompakan anak SMA kalau udah turun tangan urusan ekologi emang gak ada tandingannya! | Foto: Fully Syafi

Safa Tasya Kamila
Kelas: XI-7 | SMAN 1 Driyorejo Gresik

Menjaga Kali Surabaya: Kerja Bareng Demi Ekosistem dan Masa Depan Kita

BIACARA soal peran penting perairan di Jawa Timur, Kali Surabaya jelas punya posisi vital buat kehidupan masyarakat di Surabaya dan sekitarnya. Sungai ini menjadi bagian utama dari ekosistem perairan sekaligus penopang utama kebutuhan air bersih harian warga. Tapi sayangnya, kondisi Kali Surabaya sampai saat ini masih menghadapi gempuran masalah lingkungan yang cukup berat, terutama pencemaran akibat tumpukan sampah rumah tangga, limbah cair, dan sampah plastik sekali pakai.

BACA JUGA:  Alarm Infertilitas di Pesta Media AJI Jakarta: Ecoton Ungkap Nanoplastik Telah Masuk ke Sperma

Masalah pencemaran ini bikin ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation) turun tangan. Sebagai organisasi yang fokus di bidang pelestarian ekosistem sungai dan lahan basah, ECOTON rajin mengadakan berbagai kegiatan buat memantau kondisi air sekaligus mengedukasi masyarakat. Mereka turun langsung ke kawasan Wringinanom dan sepanjang bantaran Kali Surabaya buat meneliti paparan sampah plastik. Data dan hasil riset lapangan ini kemudian diolah jadi sumber informasi penting buat memantik kesadaran publik dan memacu respon cepat dari berbagai pihak.

Isu pencemaran Kali Surabaya ini bener-bener butuh penanganan serius. Sampah dan limbah yang masuk ke aliran air bisa merusak kualitas lingkungan dan mengancam kelangsungan hidup organisme di dalamnya. Apalagi kalau sudah bicara soal sampah plastik yang terbawa arus dan menumpuk di mana-mana, proses pembersihannya bakal makin sulit kalau nggak ada tindakan pencegahan dari hulu.

Aksi menyelamatkan Kali Surabaya jelas nggak bisa cuma mengandalkan ECOTON sendirian. Butuh kolaborasi dan kerja sama solid antara pemerintah, masyarakat, sekolah, sampai komunitas pemuda. Kita sebagai pelajar dan warga bisa mulai ambil peran lewat langkah-langkah simpel: stop buang sampah ke sungai, kurangi penggunaan kantong atau botol plastik sekali pakai, rajin memilah sampah di rumah, dan aktif menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Lewat aksi pemantauan, riset, edukasi, dan kampanye yang berjalan berkelanjutan, kesadaran kita semua terhadap kondisi Kali Surabaya diharapkan bisa makin terasah. Dengan bergandengan tangan, kelestarian ekosistem Kali Surabaya bakal lebih terjaga dan manfaat sungainya tetap bisa dirasakan sampai ke generasi-generasi mendatang!***

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan bagian dari kolaborasi antara Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) dan PT Petrokimia Gresik (Persero) melalui Program Petro Tirta.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *