Perubahan warna Sungai Ampel mengubah hidup warga Sletreng. Di antara industri, kesehatan, dan harapan, masyarakat berjuang menjaga sungai tetap hidup demi generasi mendatang.
Samsul (50) selalu punya alasan untuk berjalan menuju Sungai Ampel tiap pagi. Ember plastik biru di tangannya sudah menemaninya lebih dari separuh hidup. Ember itu pernah penuh air jernih, penuh ikan kecil, dan penuh cerita masa lalu yang terasa hangat.
Namun pagi itu, ia hanya berdiri di tepi sungai. Air di hadapannya berwarna cokelat keruh. Tidak lagi bening seperti yang ia kenal sejak kecil. Arusnya tetap mengalir, tetapi rasanya seperti kehilangan suara.
Istrinya datang dari belakang, menggendong cucu mereka.
“Kenapa nggak diambil airnya, Pak?”
Samsul diam cukup lama sebelum menjawab.
“Airnya begini… mau dipakai apa?”
Nada suaranya lirih. Bukan marah, melainkan kecewa yang sudah terlalu lama dipendam.
Dulu, Sungai Ampel, dikatakan sebagai pusat kehidupan warga Desa Sletreng, Kapongan, Situbondo, Jawa Timur. Airnya mengairi sawah, menjadi tempat mandi, mencuci, bahkan sumber lauk sehari-hari.
Anak-anak berenang hingga senja, ibu-ibu mencuci sambil bertukar cerita, dan para lelaki memancing di tepian. Airnya mengalir menjadi ruang sosial, ruang ekonomi, sekaligus ruang kenangan.
Namun beberapa tahun terakhir, perubahan mulai terasa. Air semakin keruh. Bau amis bercampur aroma kimia muncul terutama saat udara panas. Ikan semakin sulit ditemukan.
Awalnya warga mengira itu perubahan musim. Tapi perubahan itu tidak pernah kembali seperti dulu.
Samsul menunjuk ke arah hilir, tempat sebuah pabrik pengolahan udang berdiri megah. Gedungnya besar, cerobongnya tinggi, dan truk keluar masuk hampir tanpa henti. Ia tak punya data, berapa luas lahan yang ditempati pabrik itu. Tapi Samsul menyebut nama perusahaan pengeloh ikan itu, PT Panca Mitra Multiperdana.
Bagi sebagian warga, pabrik itu membawa harapan baru. Lapangan pekerjaan terbuka. Banyak pemuda desa tidak perlu lagi merantau. Warung kopi ramai. Toko kelontong berkembang. Rumah-rumah mulai direnovasi.
Ekonomi desa pun bergerak.
Namun bagi warga yang hidup dari sungai dan sawah, perubahan itu terasa berbeda.
“Tiap hari ada pipa buang air ke sungai,” kata Pak Samsul. “Kadang berbusa. Bau.”
Keluhan itu bukan satu-satunya. Anak-anak mulai sering mengalami gatal-gatal setelah bermain air. Beberapa warga mengeluhkan batuk berkepanjangan.
Sungai yang dulu memberi rasa aman kini menghadirkan kekhawatiran.

#Data Ilmiah dan Dilema Kehidupan Desa
Awal 2022, tim peneliti mengambil sampel air Sungai Ampel di tiga titik, hulu, dekat pembuangan, dan hilir. Hasilnya menyebutkan sungai masuk kategori tercemar ringan berdasarkan indeks pencemaran pemerintah.
Namun angka rinci menunjukkan cerita lain.
Nilai Biological Oxygen Demand (BOD) mencapai lebih dari 26 hingga 30, sementara batas aman hanya 3. Angka itu menunjukkan kebutuhan oksigen di air sangat tinggi akibat banyaknya bahan pencemar organik.
Bagi ekosistem sungai, kondisi ini berarti oksigen semakin sedikit. Ikan dan organisme air perlahan kehilangan ruang hidup.
Istilah “ringan” terasa berbeda ketika diterjemahkan ke kehidupan sehari-hari warga.
Bu Ningsih merasakan dampaknya secara langsung. Anak laki-lakinya, Dimas, sering sakit diare dan demam. Dokter menduga kualitas air menjadi salah satu faktor risiko.
Namun keluarga mereka tidak memiliki sumur. Air sungai tetap menjadi satu-satunya pilihan.
Di sinilah dilema muncul.
Pabrik memberikan pekerjaan bagi ratusan orang. Banyak keluarga bergantung pada gaji bulanan. Menolak industri berarti mempertaruhkan ekonomi desa.
“Tapi kami juga butuh sungai,” kata Samsul.
Penelitian lain dari tim Teknik Kelautan Universitas Abdurachman Saleh Situbondo memperlihatkan hubungan erat antara kualitas air dan keberlanjutan industri udang. Parameter seperti alkalinitas air terbukti sangat menentukan pertumbuhan udang vaname.
Alkalinitas membantu proses molting atau pergantian cangkang. Jika terlalu rendah, udang rentan mati. Jika terlalu tinggi, pertumbuhan terhambat. Pemantauan di wilayah tambak Situbondo menunjukkan nilai alkalinitas masih berada pada kisaran ideal 90–145 ppm.
Artinya, secara teknis lingkungan masih mampu mendukung budidaya.
Namun penelitian itu juga mengingatkan bahwa kualitas air sangat mudah berubah akibat limbah, sisa pakan, dan tekanan lingkungan dari aktivitas manusia. Ketika aliran sungai membawa pencemar, keseimbangan perairan tambak ikut terganggu.
Dengan kata lain, kesehatan industri justru bergantung pada kesehatan sungai.
Fakta ini menempatkan warga dalam posisi rumit: pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan ternyata tidak bisa dipisahkan.

#Ketika Sungai Meminta Hak untuk Hidup
Sore hari, langit Desa Sletreng berubah jingga. Samsul berjalan pelan menyusuri tepian Sungai Ampel. Cahaya matahari yang hampir tenggelam memantul samar di permukaan air yang kini keruh.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Beberapa anak masih bermain di pinggir sungai. Tawa mereka pecah sesekali, polos, seolah belum memahami perubahan yang sedang berlangsung di hadapan mereka.
“Saya cuma pengin sungai ini bersih lagi,” kata Samsul pelan.
Keinginannya sederhana sebetulnya. Ia ingin cucunya bisa berenang seperti dulu, ikan kembali banyak, dan warga tidak lagi takut menggunakan air yang selama puluhan tahun menjadi bagian hidup mereka.
Dari harapan sederhana itu, muncul pertanyaan yang lebih besar, apakah sungai memiliki hak untuk hidup?
Selama ini manusia memperlakukan sungai sebagai objek ekonomi, tempat mengambil manfaat dan membuang sisa aktivitas. Padahal di dalam alirannya hidup ekosistem yang kompleks, menopang kehidupan manusia tanpa pernah meminta imbalan.
Di berbagai negara, gagasan tentang hak alam mulai diakui. Sungai dipandang sebagai entitas hidup yang memiliki hak untuk dilindungi. Bagi desa kecil seperti Sletreng, konsep itu mungkin terdengar jauh.
Namun bagi Samsul, maknanya sangat sederhana, hubungan manusia dengan alam seharusnya saling menjaga. Ia tidak bermaksud menolak keberadaan pabrik. Ia memahami banyak tetangganya menggantungkan hidup dari sana. Yang ia harapkan hanyalah tanggung jawab dijalankan sepenuhnya.
IPAL mungkin ada. Teknologi mungkin tersedia. Tetapi tanpa pengawasan yang konsisten dan keterbukaan informasi, warga tetap hidup dalam ketidakpastian.
“Sungai ini sudah menghidupi banyak generasi,” katanya lirih. “Masa kita nggak bisa jaga dia?”
Pertanyaan itu menggantung bersama suara senja.
Namun kerusakan sungai bukan sekadar cerita tentang lingkungan. Ia hadir nyata dalam kehidupan sehari-hari warga.
Ningsih (47), tetangga Samsul, merasakannya paling berat. Anak laki-lakinya, Dimas, enam tahun, sering demam dan diare dalam beberapa bulan terakhir. Tubuhnya semakin kurus, pipinya cekung, matanya kehilangan cahaya ceria anak seusianya.
“Sudah berkali-kali saya bawa ke puskesmas,” katanya sambil menggendong Dimas yang lemas. “Dikasih obat sembuh sebentar, lalu sakit lagi. Kata dokter mungkin dari air. Tapi mau gimana? Rumah kami nggak punya sumur.”
Mengebor sumur membutuhkan biaya jutaan rupiah, jumlah yang tentu mustahil bagi keluarga buruh tani. Maka sungai tetap digunakan untuk mandi, mencuci, bahkan memasak, meski air harus diendapkan dan direbus lama.
Ketika air sungai tercemar, kelompok paling rentanlah yang pertama merasakan dampaknya: anak-anak dan ibu hamil. Diare berkepanjangan dapat menyebabkan kekurangan gizi, dan kekurangan gizi bukan sekadar soal tubuh kurus—ia dapat memengaruhi perkembangan otak dan masa depan anak.
Penelitian menyebut pencemaran itu “ringan”. Namun bagi Ningsih, kata itu kehilangan makna ketika anaknya terus sakit. Bagi Samsul, “ringan” terasa janggal ketika panen menurun karena air irigasi memburuk. Bagi ikan-ikan di sungai, “ringan” mungkin berarti perlahan kehilangan oksigen untuk bertahan hidup.
Di sinilah dilema muncul.
Pabrik udang memberi pekerjaan bagi ratusan warga. Gaji bulanan menjadi penyelamat banyak keluarga. Warung hidup, ekonomi bergerak, dan desa perlahan berkembang.
Menolak pabrik berarti risiko kehilangan penghasilan. Tetapi membiarkan sungai rusak berarti kehilangan kesehatan dan sumber hidup jangka panjang.
“Kami tahu pabrik itu penting,” ujar Samsul. “Tapi kami juga butuh sungai. Sungai ini yang menolong kami sejak dulu.”
Ia menarik napas panjang.
“Kami cuma mau limbahnya benar-benar dibersihkan. Jangan sungai yang terus menanggung beban.”
Secara teknis, instalasi pengolahan limbah memang ada. Penelitian menunjukkan air yang melewati IPAL mengalami penurunan kandungan pencemar. Artinya, solusi sebenarnya tersedia.
Namun pertanyaan yang tersisa justru paling penting: apakah sistem itu berjalan konsisten setiap hari? Apakah pengawasan dilakukan secara rutin? Dan jika aturan dilanggar, apakah ada konsekuensi nyata?
Warga tidak memiliki akses untuk memastikan itu. Mereka hanya bisa membaca perubahan lewat tubuh mereka sendiri – melalui bau air, kulit gatal, dan ikan yang menghilang.
Padahal sungai bukan sekadar saluran air. Ia adalah rumah bagi ribuan makhluk hidup: ikan, udang, serangga air, tumbuhan, hingga burung yang mencari makan di tepinya. Ketika sungai tercemar, yang hilang bukan hanya sumber daya, tetapi kehidupan.
Air yang tercemar berubah menjadi penyakit. Ekosistem yang rusak perlahan menjadi ancaman pangan. Lingkungan yang kehilangan keseimbangan menjelma krisis masa depan.
Sungai Ampel bukan hanya air yang mengalir. Ia adalah sejarah desa, ruang bermain anak-anak, sumber penghidupan, sekaligus harapan generasi berikutnya.
Melindungi sungai pada akhirnya berarti melindungi manusia sendiri.
Dan mungkin, sebelum semuanya benar-benar terlambat, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mendengar – suara sunyi sungai yang sebenarnya sedang meminta diselamatkan.***

*) Ragita Sari Dewi, mahasiswa Biologi, Angkatan 2023, Universitas Negeri Surabaya. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.