Sungai Cipinang, aliran 30,4 km yang menghidupi warga Jakarta–Depok, kini menanggung limbah domestik, industri, dan sampah berat.
Sungai Cipinang, dengan panjang sekitar 30,4 kilometer, sumber kehidupan yang membentang dari Depok hingga bermuara ke Banjir Kanal Timur dan Sungai Sunter di Jakarta Timur. Aliran itu dulu dikenal jernih dan penuh ikan. Tapi kini tersapu beban kota, yang terus mendesak.
Apa yang terjadi pada Cipinang bentuk gambaran nyata, bagaimana sungai di kota besar berubah dari sumber kehidupan menjadi kanal limbah. Di sepanjang alirannya, air yang dulu bisa dipakai mandi, bercocok tanam, dan menopang ekosistem lokal kini tampak hitam, bau, dan penuh tumpukan sampah yang berpadu dengan limbah rumah tangga.
Bukan hanya sampah plastik yang bermasalah. Limbah grey water – air bekas mencuci, mandi, dan memasak – mengalir ke sungai tanpa pengolahan, mencapai sekitar 91 persen dari total limbah domestik yang dibuang ke Cipinang.
Ironisnya, bagian dari aliran sungai ini melewati kawasan di mana keputusan menyangkut lingkungan diambil. Termasuk dekat dengan kantor kementerian lingkungan hidup. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, pernah secara terbuka menyatakan keprihatinannya atas kondisi itu, mengingat sungai ini berada sangat dekat dengan “fondasi” kementeriannya sendiri.
#Selain Plastik: Pencemaran yang Tak Kasat Mata

Di luar sampah padat seperti plastik dan popok, pencemaran Sungai Cipinang datang dari pelbagai sumber yang lebih halus namun merusak:
- Limbah domestik tak terolah: Seperti disebutkan, sekitar 91 persen grey water rumah tangga masuk langsung tanpa pengolahan, memicu turunnya kualitas air dan pertumbuhan bakteri yang membahayakan kesehatan.
- Limbah kecil (UMKM): Usaha kecil, warung, laundry, bahkan pemotongan unggas dan bangkai yang tidak punya sistem pengolahan limbah turut menyumbang zat pencemar ke aliran sungai.
- Pencemaran industri: Pada Oktober 2025, Menteri Hanif Faisol mengungkap bahwa 21 pabrik di wilayah Depok terbukti membuang limbah industrinya langsung ke Sungai Cipinang – dan mendapat ultimatum tegas untuk memperbaiki pembuangan sebelum sanksi diberlakukan.
Jenis pencemar lain – seperti deterjen, minyak, bahan kimia rumah tangga, dan sisa limbah industri kecil — turut memperburuk kondisi fisik dan kimia air sungai. Zat-zat ini tidak selalu terlihat, tetapi berdampak besar pada ekosistem dan kesehatan manusia.
#Sungai yang Menelan Ton Sampah
Berbagai aksi bersih sungai mengungkap seberapa berat beban yang ditanggung Cipinang. Data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menunjukkan bahwa beban sampah di aliran Sungai Cipinang telah mencapai sekitar 302 ton dalam satu bulan saja – angka yang mencerminkan betapa sistem drainase sungai dipadati oleh limbah padat.
Upaya kolaboratif yang dipimpin Pemerintah bersama sektor swasta, misalnya PT Vale Indonesia Tbk dan komunitas peduli sungai, berhasil mengangkat lebih dari 56 ton sampah dari badan serta bantaran sungai pada Oktober 2025.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelSementara di sisi Depok, program bersih-bersih Sungai Cipinang sepanjang kurang lebih 7 kilometer berhasil mengangkut lebih dari 10 ton sampah rumah tangga dalam sebulan, dominan berupa plastik dan limbah domestik lain.

#Sungai yang Tak Bisa Berbicara — Tapi Meminta Didengar
Sungai Cipinang tak bisa protes. Aliran ini tak bisa menolak ketika limbah dibuang. Namun ia tetap “berbicara” melalui bau, kualitas air yang memburuk, banjir yang tak kunjung hilang, dan masalah kesehatan di sekitar bantaran sungai.
Kisahnya bukan hanya soal polusi atau angka. Tapi cermin dari hubungan manusia terhadap alam, betapa sering kita memanfaatkan tanpa tanggung jawab, dan betapa sulit kita membangun kembali kepercayaan dengan alam itu sendiri.
Upaya pemulihan yang terjadi – pembentukan 21 komunitas peduli Sungai Cipinang dari hulu hingga hilir, pemasangan trash boom dan CCTV untuk mengurangi arus sampah, serta kolaborasi pemerintah-masyarakat-swasta. Cara ini langkah awal, bukan akhir.
Memulihkan sungai berarti memulihkan hubungan kita dengan lingkungan yang menopang hidup bersama. Karena sungai yang sehat bukan sekadar soal air bersih, tetapi juga kehidupan yang lebih layak bagi semua.***

*) Davin Jauhar Bernarddien, mahasiswa Kelautan, Angkatan 2023, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.