Lewati ke konten

Sungai Cisadane Tercemar Usai Kebakaran Gudang

| 6 menit baca |Sorotan | 19 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Kebakaran gudang pestisida di Tangerang Selatan diduga mencemari Sungai Cisadane. Air berubah warna, berbau, berbusa, dan ikan mati, memicu kekhawatiran warga.

Sungai Cisadane, yang mengalir dari Bogor hingga Tangerang, menjadi pusat perhatian setelah kebakaran gudang pestisida di kawasan Taman Tekno BSD, Tangerang Selatan, Senin, 9 Februari 2026. Warga di sekitar bantaran sungai merasakan dampak langsung: bau menyengat, perubahan warna air, hingga kematian ikan.

Pemerintah daerah bergerak cepat menelusuri sumber pencemaran, mengambil sampel air, dan mengimbau masyarakat untuk berhati-hati. Fakta berikut menguraikan dampak kejadian ini terhadap lingkungan dan warga.

Kebakaran gudang pestisida di Tangerang Selatan berbuntut panjang. Sungai Cisadane berubah keruh dan berbau, ikan-ikan mati mendadak, distribusi air sempat dihentikan, dan warga dilarang mengonsumsi ikan sungai. DLH melakukan uji laboratorium di empat titik, sementara pintu bendung dibuka untuk menetralisasi aliran. Krisis lingkungan ini menjadi alarm serius bagi pengawasan industri dan perlindungan sumber air publik. | Infografis

#1. Pencemaran Diduga dari Gudang Pestisida Terbakar

Kebakaran di gudang milik PT Biotek Saranatama membuat sejumlah bahan kimia terbawa aliran air ke Sungai Cisadane. Warga bantaran sungai panik, khawatir dampak jangka panjang terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Kebakaran ini juga menimbulkan kekhawatiran akan kerusakan ekosistem sungai yang mungkin membutuhkan waktu lama untuk pulih. Daerah padat penduduk di hilir sungai pun berpotensi terdampak langsung dari aliran air tercemar.

Di Babakan, Kota Tangerang, beberapa warga sempat panen, menjual, dan bahkan mencicipi ikan yang tampak “mabuk” sebelum mengetahui ikan-ikan itu tercemar pestisida akibat kebakaran gudang. Ahlan (67), warga Babakan, awalnya tak percaya.

“Ponakan saya bilang di Serpong ada ikan mabok. Saya bilang, mana ada ikan mabok. Biasanya kalau mabok itu dari arus air atau habis hujan besar,” ujar Ahlan saat ditemui Kompas.com di bantaran Sungai Cisadane, Rabu (11/2/2026).

Kejadian ini menambah kekhawatiran warga mengenai potensi risiko kesehatan dan dampak lingkungan yang lebih luas, karena ikan yang tampak mabuk menjadi indikator awal kontaminasi bahan kimia di sungai.

#2. Air Sungai Berubah Warna, Berbau Menyengat, dan Berbusa

Beberapa warga melaporkan air Sungai Cisadane berubah menjadi putih dan berbusa, dengan aroma menyengat menyerupai bahan bakar. Tamam, warga sekitar, mengatakan, “Iya, kemarin baunya menyengat sampai ada busa di aliran air,” kepada Kompas.com.

Petugas memastikan cairan tersebut bukan bahan bakar yang mudah terbakar. Meski demikian, bau yang tercium hingga pemukiman menimbulkan kekhawatiran risiko inhalasi zat kimia, terutama bagi anak-anak.

Ikan berukuran kecil hingga besar terlihat mengambang di kawasan Sukarasa, Kecamatan Tangerang, dan sejumlah warga tampak berkumpul untuk menangkap ikan-ikan itu. Penampakan air yang berubah warna dan berbusa memicu kekhawatiran warga terhadap keselamatan ekosistem sungai dan potensi kontaminasi zat kimia.

Nur, salah satu warga yang berada di jembatan anak Sungai Cisadane dekat Perumahan Delatinos, mengatakan, “Menyengat, baunya kayak minyak tanah,” dikutip BBC Indonesia.

Penampakan dan aroma kuat langsung menarik perhatian warga. Beberapa orang berkumpul di tepi sungai, memperhatikan aliran air sekaligus memastikan ikan yang mengapung tidak dikonsumsi sebelum ada kepastian kondisi air.

#3. Ikan di Sungai Banyak Ditemukan Mati

Selain perubahan fisik air, banyak ikan ditemukan mati di aliran Sungai Cisadane. Kejadian ini menjadi indikator awal pencemaran berbahaya yang dapat merusak rantai makanan lokal.

Nelayan skala kecil yang menggantungkan hidup dari sungai turut terdampak. Beberapa warga sempat menangkap ikan untuk dikonsumsi, tetapi segera menghentikan setelah melihat kondisi air dan mencium bau menyengat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mengatakan ada risiko jangka panjang dari paparan zat kimia. “Kalau risiko jangka panjang zat kimia ini salah satunya menimbulkan kanker. Kalau masuk ke lambung, bisa jadi kanker usus,” ujarnya kepada Antara, Rabu (11/2/2026).

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dia menyarankan masyarakat di bantaran Cisadane, termasuk wilayah Cisauk, Teluknaga, Kosambi, Pakuhaji, dan Sepatan, sementara tidak mengonsumsi ikan sungai hingga hasil laboratorium memastikan aman.

“Kita berharap masyarakat tidak mengonsumsi ikan yang terpapar di sungai terlebih dahulu, karena kita belum pasti benar-benar aman,” kata Hendra.

#4. DLH Tangsel Ambil Sampel Air di Empat Titik

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan menurunkan petugas untuk menelusuri pencemaran Sungai Cisadane akibat kebakaran gudang pestisida di Taman Tekno, Kecamatan Setu.

Sampel diambil di empat titik: titik kebakaran, aliran sungai terdampak, gorong-gorong, dan kawasan The Green. Hasil uji laboratorium diperkirakan keluar dalam 14 hari kerja, menjadi dasar langkah pemerintah daerah untuk pengendalian dampak lebih luas atau mitigasi tambahan.

Kepala DLH Kota Tangsel, Bani Khosyatulloh, mengatakan pengambilan sampel juga dilakukan di Kali Jaletreng. “Terkait cemaran di Kali Jaletreng ini, kita sudah mengambil sampel air dan menguji di laboratorium. Kami koordinasi dengan DLH Kota Tangerang di pintu air 10, dan DLH Kabupaten Tangerang di Sepatan. Kita sama-sama uji lab dan nanti diinformasikan ke masyarakat,” ujarnya di Serpong, Selasa (10/2/2026).

Ia menambahkan, sesuai instruksi Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie, DLH bersama Satpol PP dan Dinkes turun langsung ke lapangan untuk mitigasi dampak pasca pencemaran. “Tim kami melakukan komunikasi dengan pengelola Taman Tekno dan masyarakat terkait hal-hal yang bisa menimbulkan bencana,” tutur Bani.

Warga di sekitar aliran Sungai Jaletreng menunjukkan ikan mati yang diduga terpapar cairan insektisida dari kebakaran gudang di Kawasan Pergudangan Kelurahan Setu. | Foto: Tirto/Romy Ramdhan

#5. Warga Diimbau Tidak Mengonsumsi Ikan dari Sungai

DLH mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi ikan dari aliran Sungai Cisadane sampai hasil uji laboratorium keluar. Imbauan ini bertujuan mencegah risiko kesehatan akibat zat kimia yang terakumulasi pada ikan. Informasi disebarkan melalui pengeras suara kelurahan, media sosial resmi, dan spanduk di bantaran sungai.

Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan juga mengingatkan warga. Kepala Dinkes Allin Hendalin Mahdaniar menyatakan, “Tidak mengonsumsi ikan atau hasil perikanan lainnya dari wilayah terdampak kebakaran sebelum dinyatakan aman oleh instansi berwenang,” Selasa (10/2/2026).

Imbauan ini dilakukan karena kebakaran gudang pestisida berpotensi mencemari perairan dengan zat kimia berbahaya.

#6. PDAM Tirta Benteng Sempat Hentikan Produksi Air

Dampak pencemaran juga dirasakan pada layanan air bersih. PDAM Tirta Benteng menghentikan produksi selama tujuh jam, dari Senin malam hingga Selasa dini hari.

Pemeriksaan awal menemukan bau menyerupai minyak tanah pada air sungai. Meski distribusi kembali berjalan, PDAM menekankan agar warga sementara menghindari penggunaan air untuk mandi, cuci, dan kakus.

Direktur Teknik Perumda TB, Joko Surana, mengatakan kejadian pencemaran air baku Sungai Cisadane akibat kebakaran gudang bahan kimia terjadi pada Senin (9/2/2026) pukul 22.00 WIB. Air tercemar limbah kimia berbahaya, berminyak, dan ikan mati mendadak.

“Langkah awal, seluruh IPA Perumda TB stop operasi. Kemudian pukul 22.30 kami koordinasi ke Bendung 10 untuk membuka pintu 9 dan 10 agar limbah terbuang ke laut. Pada pukul 00.00 WIB air sudah tidak lagi terindikasi cemaran bahan kimia,” ujarnya.

“Kualitas air terus kami pantau secara fisika dan kimia setiap 30 menit. Pada pukul 05.00 air baku membaik, dan IPA Perumda TB bertahap kami operasikan kembali,” jelas Joko.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *