Lewati ke konten

Sungai Watch Kerahkan Operasi Darurat Hadapi Krisis Sampah Laut

| 3 menit baca |Ekologis | 20 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Realease Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Gelombang sampah plastik serentak menghantam pesisir Bali dan Jawa Timur, mendorong Sungai Watch mengerahkan operasi darurat lintas wilayah demi mencegah penyebaran global.

Arus laut yang bergeser akibat musim monsun memusatkan tumpukan besar sampah plastik laut di dua wilayah pesisir krusial Indonesia secara bersamaan: Bali dan Jawa Timur. Situasi ini mendorong organisasi lingkungan Sungai Watch meluncurkan operasi darurat lintas wilayah di Pantai Kedonganan, Bali, serta kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi.

Kedua lokasi tersebut dinilai sebagai titik intersepsi terakhir sebelum sampah plastik menyebar lebih jauh ke Samudra Hindia dan berpotensi mencapai Australia, Afrika Timur, hingga Kepulauan Pasifik. Menurut Sungai Watch, kondisi tahun ini belum pernah terjadi sebelumnya karena konsentrasi sampah muncul serentak di lebih dari satu garis pantai utama.

“Gelombang sampah bergerak sangat tidak terduga di sepanjang pesisir Indonesia,” ujar Co-Founder Sungai Watch, Gary Bencheghib, dalam keterangan tertulis, Kamis (23/1/2026). Ia menjelaskan bahwa di Bali, tim pembersih mengangkat lebih dari 17 ton sampah sebelum tengah hari, namun keesokan paginya pantai kembali tertimbun material serupa.

Di Jawa Timur, Balai Taman Nasional Alas Purwo mengonfirmasi masih adanya volume besar sampah plastik yang belum terangkut, terutama di Pantai Pancur. Kondisi tersebut mendorong penetapan status darurat dan perpanjangan operasi pembersihan hingga Maret 2026.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sampah laut tidak lagi menjadi persoalan lokal, melainkan ancaman lintas wilayah dan lintas negara. Arus laut yang sama dapat memindahkan sampah dari Bali ke Jawa Timur dalam hitungan hari, atau bahkan membawanya langsung ke perairan internasional.

Dua garis pantai, satu ancaman bersama. Sungai Watch mengerahkan respons cepat menghadapi akumulasi sampah laut akibat pergeseran arus monsun. | Foto: Sungai Watch

#Respons Darurat dan Kekuatan Komunitas

Di Bali, arus monsun menimbun kawasan pantai dari Jimbaran hingga Canggu dengan lapisan sampah plastik, limbah organik, serta batang pohon tumbang. Pantai Kedonganan menjadi titik akumulasi terparah. Pada Minggu (11/1/2026), lebih dari 1.000 relawan dikerahkan dalam satu pagi dan berhasil mengumpulkan 17.300 kilogram sampah hanya dalam waktu empat jam.

Hingga Senin (26/1/2026), Sungai Watch mencatat total 68.454 kilogram sampah telah diangkat dari Pantai Kedonganan selama 29 hari operasi. Pembersihan dilakukan setiap pagi dengan melibatkan relawan, komunitas lokal, pelaku usaha, pelajar, serta wisatawan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sementara itu, di pesisir Jawa Timur, Sungai Watch bersama relawan dan otoritas taman nasional mengangkat 24.562 kilogram sampah dalam 11 hari operasi. Sebanyak 170 relawan terlibat langsung di Pantai Pancur dan Pantai Trianggulasi, dua lokasi yang mengalami akumulasi terberat akibat arus monsun barat daya.

Co-Founder Sungai Watch lainnya, Sam Bencheghib, menegaskan bahwa respons cepat menjadi kunci. “Gelombang sampah tidak mengenal batas wilayah. Apa yang tiba di Bali hari ini bisa berada di Jawa Timur besok, atau sudah mengarah ke pantai utara Australia,” ujarnya.

Menurut Sungai Watch, ketika sampah plastik telah menyebar ke laut lepas, upaya pemulihan menjadi hampir mustahil dan sangat mahal. Karena itu, intersepsi di hulu—melalui penghalang sampah di sungai dan pembersihan di titik akumulasi pesisir—dinilai sebagai pendekatan paling efektif dan efisien.

Selain operasi pembersihan, Sungai Watch mengoperasikan jaringan penghalang sampah di sungai-sungai di Pulau Jawa, dikombinasikan dengan program edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Donasi publik digunakan untuk mendukung River Warriors yang bekerja setiap hari, penyediaan perlengkapan keselamatan, logistik pengerahan cepat, serta perluasan intersepsi di wilayah hulu.

“Setiap kontribusi membantu melindungi sistem laut bersama yang menghubungkan seluruh garis pantai di dunia,” ujar Kelly Bencheghib. “Ini bukan sekadar pembersihan, tetapi pembuktian bahwa pencegahan berbasis komunitas dapat menjadi model perlindungan pantai secara global.”

Sungai Watch juga mengajak masyarakat melaporkan akumulasi sampah laut yang tidak biasa di wilayah masing-masing, sebagai bagian dari pemantauan kolektif krisis plastik yang kian meningkat.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *