Di perbatasan Surabaya-Gresik, Taman Hutan Kota Jeruk menjadi oase hijau yang tersisa, menawarkan ruang bernapas bagi warga di tengah tekanan pembangunan perkotaan yang terus meluas.
Hamparan rumput hijau membentang membentuk bukit-bukit kecil di kawasan Taman Hutan Kota Jeruk, Lakarsantri, Kota Surabaya. Lanskap sederhana ini menghadirkan suasana tenang yang semakin sulit ditemukan di tengah kepadatan kota. Pepohonan muda tumbuh berbaris, sementara bayangan dedaunan jatuh pelan di atas tanah, menciptakan ruang yang terasa lebih sejuk dan lega.
Di kawasan perbatasan Surabaya dan Gresik itu, taman ini menjadi satu ruang terbuka yang masih tersisa. Di tengah pertumbuhan permukiman yang terus meluas, keberadaan ruang hijau seperti ini perlahan menjadi langka. Taman Jeruk tak hanya dilihat sebagai tempat rekreasi, tetapi juga ruang bernapas bagi warga yang sehari-hari bergulat dengan hiruk-pikuk aktivitas kota.
Vegetasi yang tumbuh di area ini memiliki fungsi ekologis penting. Selain menjaga suhu lingkungan tetap sejuk, kawasan ini juga berperan sebagai area resapan air saat musim hujan. Peran tersebut menjadi krusial di tengah meningkatnya pembangunan yang kerap mengurangi daya serap tanah.

#Tempat Rehat di Pinggir Kota
Bagi sebagian warga, Taman Jeruk menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan taman kota lain. Rina, warga Lakarsantri, mengaku rutin mengunjungi taman ini setiap akhir pekan bersama keluarganya. Ia menilai suasana di tempat ini lebih longgar dan tidak terlalu padat.
Menurutnya, anak-anak dapat bermain lebih bebas tanpa harus berdesakan dengan pengunjung lain. “Kalau di sini rasanya lebih lega,” ujar Rina pada Rabu, 18 Maret 2026. Taman ini menjadi pilihan tak menonjolkan kemewahan untuk melepas penat tanpa perlu bepergian jauh dari rumah.
Fenomena meningkatnya jumlah pengunjung menunjukkan kebutuhan warga akan ruang terbuka yang kian tinggi. Banyak orang datang hanya untuk berjalan santai, duduk di gazebo, atau sekadar menikmati udara yang terasa lebih segar.
Di tengah kehidupan urban yang serba cepat, ruang seperti ini menjadi jeda yang penting. Taman Jeruk, dengan segala kesederhanaannya, menghadirkan alternatif ruang publik yang lebih dekat dengan alam.

#Tantangan Menjaga Kelestarian
Di balik meningkatnya minat pengunjung, muncul tantangan baru dalam pengelolaan kawasan. Andi, salah satu koordinator Taman Hutan Kota Jeruk menyebut, menjaga keseimbangan antara fungsi rekreasi dan kelestarian lingkungan bukan perkara mudah.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelMenurutnya, taman ini awalnya hanyalah lahan terbuka biasa. Seiring meningkatnya jumlah pengunjung, upaya penataan mulai dilakukan agar kawasan tetap nyaman tanpa mengorbankan kondisi lingkungan.
“Namun, persoalan kebersihan menjadi tantangan utama. Meski tempat sampah telah disediakan, masih ada pengunjung yang belum sepenuhnya sadar menjaga lingkungan. Sampah yang tertinggal kerap ditemukan di beberapa titik,” jelas Andi.
“Kita rawat bersama-sama. Pengelolaan ruang terbuka tidak bisa hanya bergantung pada pengelola, tetapi membutuhkan kesadaran kolektif dari setiap pengunjung,” ujar Andi.
Di tengah ekspansi kota yang terus berjalan, Taman Jeruk menjadi simbol sederhana tentang pentingnya mempertahankan ruang hijau. Ia bukan hanya pelengkap, melainkan bagian dari ekosistem kota yang menopang kualitas hidup warganya.
Menjelang siang, cahaya matahari menyapu bukit-bukit kecil itu. Pengunjung datang dan pergi, meninggalkan jejak cerita sederhana. Di tempat ini, harapan tentang keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan masih terasa mungkin.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.