BOJONEGORO – Kalau biasanya kita senang kalau musim panen, bagi petani tembakau Bojonegoro, musim panen tahun ini ibarat main monopoli dengan dadu curang: untung bisa ada, tapi langit seringkali bikin plot twist.
Di Desa Sitiaji, Kecamatan Sukosewu, M. Syukur tampak sumringah. Meski tanaman tembakaunya sempat kedinginan karena hujan yang datang tanpa diundang, panen tetap berjalan. Daun tembakau kering dijual di kisaran Rp 35.000 hingga Rp 40.000 per kilogram, bahkan ada yang menyebut bisa nyentuh Rp 47.000 per kilogram kalau dapet daun yang “wah” banget.
“Memang hasilnya tidak sebanyak tahun lalu,” kata Syukur sambil mengelus daun tembakaunya yang seolah ikut mengeluh karena kehujanan. Tapi ya, ia tetap bersyukur. Toh, lebih baik sedikit tapi kualitasnya oke daripada banyak tapi daun tembakaunya nyungsep.
#Cuaca: Bos yang Paling Galak
Kalau ada kompetisi “siapa paling bikin petani stress,” cuaca pasti naik podium juara satu, bawa piala emas plus bonus hujan deras tanpa sopan santun. Awal tanam kemarin, hujan datang seenaknya, bikin lahan basah kuyup. Akibatnya, produksi tembakau menurun dibanding tahun sebelumnya.
Syukur, petani yang sudah familiar dengan lakon alam ini, cuma bisa pasrah sambil berharap bantuan pemerintah. “Kalau pemkab bisa bantu bibit dan pupuk, setidaknya pengeluaran kami bisa lebih ringan. Masa tanam berikutnya bisa lebih tenang,” ujarnya. Tapi, ya… kalau cuaca tetap main curang, bantuan apapun cuma jadi aksesori tambahan di panggung pencak silat petani.
Nah, update terbaru bikin lakon ini makin seru: hujan deras beberapa hari terakhir menghajar puluhan hektar tembakau di beberapa desa, termasuk Blongsong, Kecamatan Baureno. Tanaman yang baru setengah umur? Layu. Tanaman yang lebih tua? Ada yang mati. Harga tembakau rajang yang semula Rp35.000/kg, turun drastis jadi Rp20.000/kg.
Petani pun mulai belajar seni “memetik daun seadanya”. Sisa yang masih layak dipanen, diambil. Sisanya? Yaudah, ditinggal sambil berharap cuaca cepat normal. Karena kalau hujan bandel terus, gagal panen bukan cuma mimpi buruk, tapi potensi bencana skala desa.
Intinya, panen tembakau Bojonegoro tahun ini kayak menonton sinetron horor: ada ketegangan, ada drama, ada harga yang anjlok, tapi tetap bikin petani tersenyum tipis. Optimisme? Ya, itu cuma senjata terakhir sebelum dompet benar-benar nangis.
#Pemerintah: Penonton atau Pemain?
Di Bojonegoro, pemerintah lewat Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) memang mencoba jadi pemain yang kompeten. Bambang Wahyudi, Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda, bilang mereka nggak cuma nongkrong sambil minum kopi di kantor.
Mereka aktif memberikan benih bersertifikat dan rindik tembakau gratis ke kelompok tani, plus pantau harga tembakau dari petikan pertama hingga kelima. Harga rajangan kering stabil di Rp 35.000–40.000/kg, sementara daun basah berkisar Rp 2.000–3.000/kg. Lumayan lah, masih bisa bikin dompet tersenyum tipis.
DKPP juga rutin memberi pelatihan Good Agricultural Practices (GAP). Mulai dari pengolahan lahan, meninggikan guludan, sampai bikin saluran air agar tanaman nggak gampang layu kalau hujan atau panas datang bersamaan.
Intinya, pemerintah berusaha supaya tembakau Bojonegoro nggak cuma jadi daun kering di gudang, tapi juga uang di kantong petani.
#Tembakau Bojonegoro: Komoditas atau mBekso?
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Kalau diamati, tembakau Bojonegoro itu kayak tayub yang selalu comeback tiap musim nyadran: ada drama, ada klimaks, selalu bikin penonton—eh, petani—deg-degan. Musim hujan datang, produksi turun. Harga naik, petani tersenyum tipis. Pemerintah ikut nimbrung, petani makin semangat.
Tapi jangan salah, di balik senyum itu, ada tarian mbekso yang nggak kelihatan: biaya tanam yang bikin dompet meringis, risiko gagal panen yang bikin hati dag-dig-dug, dan persaingan harga dengan tembakau dari daerah lain yang kadang bikin mikir panjang. Kadang harga oke, kadang Bojonegoro kayak ikut main lotre sama alam—hasil panen bisa bikin senyum atau langsung nge-blank.
“Kalau tiap musim ada bibit dan pupuk dari pemkab, kita nggak perlu pusing. Tapi kalau hujan masih bandel, ya yaudahlah… kita terima nasib,” kata Syukur, nada suaranya kayak orang yang terbiasa hidup di dunia absurd tapi tetap optimis.
#Optimisme: Tanpa Itu, Petani Bisa Ngambek
Di tengah hujan, panas, dan harga yang fluktuatif, petani tetap memilih senyum. Sebab, selain kerja keras mereka sendiri, ada DKPP yang mencoba jadi teman seperjuangan. Benih bersertifikat, pelatihan GAP, hingga pemantauan harga bukan cuma formalitas, tapi penopang moral bagi petani yang setiap hari berinteraksi dengan tanah dan cuaca yang susah ditebak.
Bambang Wahyudi menegaskan, penggunaan benih berkualitas plus teknik budidaya yang tepat bisa membuat hasil panen lebih optimal. Jadi, meski hujan atau panas menggila, tembakau Bojonegoro tetap punya peluang untuk jadi komoditas unggulan yang menyejahterakan petani.
#Panen Itu Bukan Sekadar Daun
Bojonegoro membuktikan, panen tembakau itu bukan sekadar menghitung daun yang terkumpul. Ada drama cuaca, strategi pemerintah, dan optimisme petani yang saling tarik-menarik seperti sinetron tanpa jeda iklan. Harga bagus? Petani tersenyum. Hujan bandel? Dada sesak sedikit, tapi tetap semangat, sambil berharap alam nggak main curang lagi.
Bagi M. Syukur dan teman-temannya, tembakau Bojonegoro lebih dari sekadar tanaman. Ia adalah simbol ketekunan, drama mini, dan harapan bahwa meski dunia kadang absurd, tetap ada hasil manis di akhir musim.
Tapi ya gitu harus tahu, tembakau Bojonegoro dengan varietas Virginia nggak cuma eksis di Bojonegoro saja. Tetangganya Lamongan—terutama Kecamatan Modo bagian barat seperti Desa Jegreg, Kedungpengaron, Kedunglerep, dan Sumberagung—juga menanamnya. Hasil panen mereka biasanya dijual ke Kepohbaru, Bojonegoro, bikin rantai tembakau ini terasa seperti drama lintas kabupaten: sama-sama panen, sama-sama berharap harga tetap ramah di dompet.***
Hamim Anwar, jurnalis tinggal di Bojonegoro berkontribusu atas artikel ini | Editor: Supriyadi