Lewati ke konten

Bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo Ambruk: Jangan Ada Tanggung Jawab Tertimbun

| 4 menit baca |Sorotan | 10 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Tim Editor: Supriyadi

SIDOARJO  – Pada Jumat yang seharusnya penuh doa dan tadarus, gedung tiga lantai Pesantren Al Khoziny justru memberi “kejutan” yang tak diundang. Beton dan bata yang selama ini menopang aktivitas belajar santri, tiba-tiba menyerah pada hukum gravitasi, menelan puluhan nyawa muda yang sedang menimba ilmu agama.

Hingga Minggu (5/10/2025), tercatat 37 santri meninggal dunia, sementara puluhan lainnya masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan. Angka ini bukan sekadar statistik; setiap nomor adalah cerita yang terhenti di tengah doa dan harapan.

“Kami hanya ingin belajar, tapi tiba-tiba dunia kami runtuh,” ujar Alfatih seorang santri yang berhasil selamat, suaranya masih bergetar antara sedih dan trauma.

#Puing, Doa, dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Dijawab

Tim SAR bekerja siang-malam, menyingkirkan puing demi puing dengan kesabaran yang hampir heroik. Tapi di balik kesibukan itu, muncul pertanyaan getir: kenapa gedung yang seharusnya menjadi tempat belajar, bisa ambruk begitu saja?

Apakah ini soal perawatan, konstruksi, atau sekadar nasib buruk? Pemeriksaan masih berjalan, tapi rakyat kecil di Buduran sudah cukup paham bahwa pembangunan yang asal-asalan selalu punya harga.

“Bangunan itu baru, tapi kok bisa roboh secepat itu? Kalau pondok saja nggak aman, lalu kita ini bisa percaya sama apa lagi?” ujar Sujoko Sahid, warga Buduran yang sejak pagi membantu relawan menyalurkan logistik di lokasi kejadian.

Tak sedikit warga yang datang membawa doa, sembari menatap reruntuhan yang dulu adalah rumah belajar dan rumah ibadah. Aroma debu bercampur tangis, menjadi pengingat keras bahwa keamanan fasilitas publik—apalagi untuk anak-anak dan santri—tak boleh dianggap remeh.

.#Malam Panjang di Bawah Cahaya Lampu SAR

Di tengah kabut duka ini, media terus mengabarkan perkembangan, sementara netizen menyuarakan empati melalui media sosial. Seolah-olah seluruh dunia ikut menahan napas, berharap keajaiban kecil—korban selamat lebih banyak dari yang tercatat.

Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit, menjelaskan bahwa proses evakuasi kali ini tidak mudah. Tim harus bekerja hati-hati karena korban tertimbun material di bawah reruntuhan bangunan.

“Tim SAR perlu mengangkat puing-puing reruntuhan, memotong rangka-rangka, baru kemudian bisa mengevakuasi korban dari timbunan material,” jelas Nanang.

Dalam prosesnya, tim SAR gabungan menggunakan alat berat dan peralatan ekstrikasi. Penggunaan alat berat juga sempat dihentikan sementara untuk memberi ruang bagi petugas yang melakukan pemotongan besi dan pengangkatan manual demi faktor keselamatan.

#Data, DNA, dan Duka yang Belum Usai

Dari total 37 korban yang meninggal dunia, lima di antaranya telah berhasil diidentifikasi. Mereka adalah Maulana Alfan Ibrahim, Mochammad Mashudulhaq, Muhammad Soleh, Rafi Catur Octa Multa, dan M. Agus Ubaidillah. Nama-nama itu kini bukan sekadar deretan huruf di daftar korban, melainkan potongan kehidupan yang terhenti di tengah perjalanan menuntut ilmu.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sementara itu, 32 jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi oleh Tim DVI Polri di RS Bhayangkara Polda Jawa Timur. Setiap kantong jenazah yang datang disambut doa, setiap hasil identifikasi membawa campuran antara rasa lega dan duka.

Dengan temuan ini, total korban reruntuhan bangunan Ponpes Al Khoziny mencapai 140 orang—104 orang selamat, dan 37 lainnya meninggal dunia. Angka-angka itu dingin, tapi di baliknya ada pelukan yang tertunda, ada kursi kosong di ruang makan, dan ada sandal kecil yang tak akan lagi dipakai.

Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto, menjelaskan bahwa proses identifikasi dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari data biometrik, DNA, hingga barang pribadi korban.

“Pendataan awal dari Dukcapil—mulai dari sidik jari, retina mata, darah, DNA, sampai properti atau baju yang dipakai—semuanya sedang kita identifikasi,” ujarnya sebagaimana dikutip dari kantor berita Antara.

Menurutnya, proses ini penting agar keluarga korban bisa segera mengetahui kejelasan nasib orang-orang tercinta yang hingga kini masih ditunggu. Karena dalam situasi seperti ini, bahkan kepastian yang paling pahit pun lebih baik daripada harapan yang terus menggantung.

#Bukan Sekadar Reruntuhan Bangunan

Tragedi Al Khoziny bukan hanya tentang bangunan yang ambruk, tapi juga tentang kewaspadaan, tanggung jawab, dan rasa kemanusiaan—yang jangan sampai ikut tertimbun. Beton bisa runtuh, tapi kepedulian seharusnya tetap berdiri tegak.

Di balik setiap puing dan angka korban, ada sistem yang longgar, ada pengawasan yang lalai, dan ada kesadaran publik yang datangnya selalu setelah bencana.

“Kita ini sering baru sadar pentingnya keselamatan setelah ada korban. Padahal, keselamatan itu bukan urusan nasib, tapi hasil dari niat baik dan kebijakan yang benar,” ujar Abdul Shomat, warga Buduran, yang tengah berbincang dengan warga lainnya di dekat lokasi kejadian.

Jika duka ini tak dijadikan pelajaran, maka yang akan roboh berikutnya bukan hanya bangunan—melainkan kepercayaan kita pada mereka yang seharusnya menjaga dan melindungi. Karena tragedi seperti ini bukan sekadar soal retaknya dinding, tapi juga retaknya rasa aman di tengah masyarakat yang sudah terlalu sering dikecewakan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *