Paparan bahan kimia plastik ditemukan dalam tubuh pekerja sampah perempuan. Riset delapan mahasiswa mengungkap hubungan paparan tersebut dengan inflamasi, hormon, metabolisme, hingga risiko kardiovaskular.
Suasana Auditorium Lantai 1 Universitas Katolik Widya Mandala di Kampus Pakuwon Surabaya tampak lebih serius dari biasanya. Deretan poster ilmiah berdiri di sisi ruangan, menampilkan grafik, bagan alur paparan, hingga tabel hasil uji laboratorium.
Di hadapan dosen, peneliti, dan mahasiswa yang memenuhi kursi auditorium, delapan peneliti muda memaparkan temuan yang sama-sama mengarah pada satu Kesimpulan, yaitu tubuh pekerja sampah perempuan menjadi “laboratorium hidup” bagi berbagai bahan kimia dari plastik dan produk konsumen modern.
Acara yang bertemakan “Expose Temuan Bahan Kimia: Racun Plastik dalam Darah” ini mempertemukan delapan mahasiswa dari dua kampus berbeda. Tujuh di antaranya berasal dari Fakultas Ilmu Keolahragaan – Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang, sementara satu peneliti berasal dari Fakultas Sains dan Teknik – Jurusan Kimia Universitas Bojonegoro, yang semuanya semester enam.
Mereka mempresentasikan hasil penelitian biomonitoring terhadap pekerja perempuan yang bekerja di tempat pengelolaan sampah di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Metode yang digunakan beragam, tetapi sebagian besar menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan pendekatan biomarker, yaitu mengukur langsung kadar bahan kimia dalam urin atau darah.
Hasilnya menunjukkan, berbagai senyawa yang berasal dari plastik dan produk rumah tangga ternyata dapat masuk ke tubuh manusia. Bahkan sebagian di antaranya menunjukkan kaitan dengan respon inflamasi, gangguan metabolik, hingga potensi risiko penyakit kronis.
Penelitian pertama dipresentasikan mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan, Kesehatan Masyarakat, M. Faizul Adhim, yang meneliti hubungan antara kadar Bisphenol A (BPA) dan Bisphenol F (BPF) dalam urin dengan respon inflamasi pada pekerja sampah perempuan.
Penelitian ini dilakukan pada 35 pekerja perempuan di fasilitas pengelolaan sampah. Analisis kadar BPA dan BPF dilakukan menggunakan LC-MS/MS, sementara parameter hematologi diperiksa menggunakan hematology analyzer otomatis.
Hasilnya menunjukkan bahwa BPF berhubungan dengan peningkatan neutrofil absolut, indikator aktivasi inflamasi bawaan. Sementara itu, BPA tidak menunjukkan hubungan serupa.
“Temuan ini menunjukkan bahwa analog pengganti BPA belum tentu lebih aman bagi sistem imun manusia,” kata Faizul saat mempresentasikan hasil penelitiannya, Senin, (9/3/2026).
Menurut dia, selama ini BPF sering digunakan industri sebagai pengganti BPA setelah BPA mendapat sorotan karena potensi dampak kesehatannya.
“Namun penelitian ini justru menunjukkan bahwa BPF dapat berkaitan dengan peningkatan respon inflamasi bawaan,” ujarnya.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kebijakan mengganti satu bahan kimia dengan analog yang serupa belum tentu menyelesaikan masalah.

#Jejak Ftalat dan Logam Berat
Penelitian kedua dari kampus yang sama, Aktha Keasa Maura G., yang meneliti hubungan antara metabolit ftalat dalam urin dengan persentase sel darah putih campuran atau Mixed Cells (MXD) pada pekerja perempuan di Tempat Pembuangan Sampah.
Ftalat merupakan senyawa kimia yang banyak digunakan sebagai plasticizer dalam produk plastik, kosmetik, hingga kemasan makanan.
Dalam penelitian ini, Aktha menemukan bahwa metabolit ftalat MnBP dan MEHHP memiliki hubungan signifikan dengan persentase MXD, yang mencakup eosinofil, basofil, dan monosit.
“Hanya MnBP dan MEHHP yang menunjukkan hubungan bermakna dengan persentase MXD,” kata Aktha.
Menurut dia, temuan ini menunjukkan bahwa paparan ftalat tertentu dapat memengaruhi sistem imun bawaan.
Penelitian lain yang tidak kalah penting dipresentasikan oleh Ni Luh Made Kartika N., yang meneliti paparan kadmium dan nikel pada pekerja perempuan pemilah sampah.
Logam berat ini diketahui dapat berasal dari berbagai limbah industri, baterai, hingga komponen elektronik.
Penelitian tersebut menganalisis hubungan kadar logam berat dalam urin dengan beberapa indikator hematologis, seperti Mean Corpuscular Volume (MCV), Red Cell Distribution Width – Standard Deviation (RDW-SD), serta Plateletcrit (PCT).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadmium menurunkan MCV dan RDW-SD, sementara kadmium dan nikel meningkatkan PCT, indikator inflamasi sistemik.
“Peningkatan PCT menunjukkan adanya potensi efek toksik logam berat terhadap sistem kardiovaskular,” kata Kartika.
Temuan ini menunjukkan bahwa paparan logam berat tidak hanya berdampak pada organ tertentu, tetapi juga dapat memengaruhi sistem peredaran darah dan inflamasi tubuh secara luas.
Penelitian mengenai kadmium juga dipresentasikan Eka Dahlia Gunawan. Ia meneliti hubungan kadar kadmium dalam darah dengan jumlah neutrofil sebagai indikator imunotoksisitas.
Penelitian observasional analitik ini menggunakan desain potong lintang pada pekerja perempuan pemilah sampah di TPA.
Hasil analisis menunjukkan hubungan negatif bermakna antara kadar kadmium dan jumlah neutrofil.
“Temuan ini mengindikasikan potensi efek imunotoksik akibat paparan kadmium kronis,” kata Eka.
Menurut dia, paparan jangka panjang terhadap logam berat dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pemantauan kesehatan secara berkala bagi pekerja di sektor pengelolaan sampah.

#Ancaman PFAS dan Bahan Kimia Sehari-hari
Penelitian lain yang menarik perhatian datang dari Dianira Chrisna Putri, yang meneliti paparan PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances) pada pekerja perempuan di tempat pengolahan sampah.
PFAS sering disebut sebagai “forever chemicals” karena sangat sulit terurai di lingkungan.
Penelitian tersebut menganalisis hubungan antara kadar PFOS dalam darah dengan kolesterol total pada pekerja perempuan usia subur.
Analisis dilakukan menggunakan LC-MS/MS dan korelasi Spearman setelah uji Shapiro-Wilk menunjukkan distribusi data tidak normal.
Hasilnya menunjukkan adanya tren korelasi positif antara PFOS dan kolesterol total, meskipun secara statistik belum signifikan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Penelitian ini menetapkan baseline pertama biomonitoring PFAS pada pekerja perempuan informal di Indonesia,” kata Dianira.
Ia mengatakan bahwa temuan ini penting karena sebagian besar pekerja pengelolaan sampah bekerja dalam sektor informal dan jarang mendapatkan pemantauan kesehatan lingkungan.
Penelitian lain mengenai bahan kimia modern dipresentasikan oleh Aiskha Hasna Badriya, yang meneliti organophosphate flame retardants (OPFR).
Senyawa ini banyak digunakan sebagai bahan tahan api dalam berbagai produk industri, termasuk plastik dan tekstil.
Penelitian tersebut menguji hubungan antara kadar diphenyl phosphate (DPHP) dalam urin dengan risiko disfungsi metabolik.
Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan kadar DPHP berkorelasi dengan peningkatan risiko disfungsi metabolik.
“Efek paparan lingkungan sering kali bersifat laten dan lebih sensitif terdeteksi melalui indikator komposit dibandingkan parameter klinis tunggal,” kata Aiskha.
Penelitian terakhir, Aulia Rizky Imelda W., yang meneliti paparan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) dari pembakaran terbuka di tempat pengolahan sampah.
Penelitian ini menganalisis hubungan antara metabolit 1-hydroxyphenanthrene (OHPHE1) dalam urin dengan jumlah leukosit.
Hasilnya menunjukkan hubungan positif signifikan antara OHPHE1 dan jumlah leukosit.
“Paparan PAHs yang tercermin melalui OHPHE1 urin berpotensi berkontribusi terhadap inflamasi sistemik,” kata Aulia.
Selain tujuh penelitian tersebut, satu penelitian lain dipresentasikan oleh Muhammad Rizky Fathoni dari Universitas Bojonegoro.
Ia menyoroti paparan bahan kimia triclosan dan propilparaben yang berasal dari produk sehari-hari seperti sabun antibakteri, pasta gigi, kosmetik, hingga cairan pembersih.
Infografik yang ia tampilkan menjelaskan bagaimana bahan kimia tersebut dapat masuk ke tubuh pekerja sampah melalui tiga jalur utama: penyerapan kulit, inhalasi, dan paparan oral.
Setelah masuk ke tubuh, senyawa tersebut dapat menyebar ke berbagai organ seperti hati dan ginjal.
Penelitian ini juga melibatkan 35 responden pekerja sampah perempuan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa triclosan memiliki nilai rata-rata sekitar 78,39 dengan median 52,78, dengan rentang kadar antara 0 hingga sekitar 601,12.
Sementara propilparaben memiliki nilai rata-rata sekitar 65,54 dengan median 29,68, dengan rentang kadar antara 0 hingga sekitar 250,69.
Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian pekerja memiliki tingkat paparan yang cukup tinggi terhadap kedua senyawa tersebut.
“Bahan kimia dari produk sehari-hari ternyata tetap bertahan ketika produk tersebut menjadi sampah,” kata Rizky.
Ia menjelaskan bahwa pekerja yang memilah limbah memiliki peluang besar terpapar senyawa tersebut setiap hari.
Paparan jangka panjang dapat memicu berbagai dampak kesehatan, mulai dari iritasi kulit, gangguan hormon tiroid, hingga gangguan sistem reproduksi perempuan.
Dalam beberapa kasus, paparan juga dikaitkan dengan gangguan menstruasi, penurunan kesuburan, bahkan risiko kelahiran prematur.

#Alarm Bagi Kesehatan Lingkungan
Rangkaian penelitian ini menegaskan satu hal: tubuh manusia kini tidak lagi bebas dari jejak bahan kimia industri modern.
Pekerja pengelolaan sampah menjadi kelompok yang sangat rentan karena berinteraksi langsung dengan limbah dari berbagai produk konsumen.
Para peneliti menekankan pentingnya langkah perlindungan yang lebih serius.
Mulai dari penggunaan alat pelindung diri, peningkatan sistem pengelolaan limbah yang aman, hingga pemantauan biomonitoring secara berkala.
“Paparan bahan kimia tidak selalu menimbulkan gejala langsung, tetapi efeknya dapat muncul setelah bertahun-tahun,” kata salah satu peneliti dalam diskusi penutup.
Karena itu, penelitian biomonitoring seperti yang dipresentasikan dalam forum ini dinilai penting untuk mendeteksi risiko kesehatan sejak dini.
Temuan-temuan tersebut juga menjadi pengingat bahwa krisis sampah bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan kesehatan manusia.
Sampah yang tampak sebagai masalah fisik ternyata membawa jejak kimia yang jauh lebih kompleks.
Dan bagi para pekerja yang setiap hari memilah limbah kota, paparan itu tak bisa dibilang sekadar teori ilmiah belaka, melainkan kenyataan yang perlahan mengalir dalam darah mereka.***