Lewati ke konten

Jawa Timur Hadapi Kemarau Kering pada 2026, Puncaknya Agustus Mendatang

| 5 menit baca |Ekologis | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi

BMKG memprediksi kemarau 2026 di Jawa Timur lebih kering dari normal. Risiko kekeringan, krisis air, dan kebakaran meningkat, sementara sektor garam dan tembakau berpotensi diuntungkan.

Pasokan bantuan air bersih menjadi penopang saat kemarau melanda. Seperti yang dialami warga Desa Jegreg, Modo, Lamongan, yang bergantung pada distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, 7 Agustus 2019. | Dok Supriyadi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi musim kemarau 2026 di Jawa Timur berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Informasi ini disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Jawa Timur di Malang, Anung Suprayitno, dalam konferensi pers virtual pada Selasa, 10 Maret 2026.

Sebagian besar wilayah Jawa Timur mulai memasuki kemarau pada Mei 2026. Dari 74 zona musim (ZOM), sebanyak 43 ZOM atau 56,9 persen diperkirakan masuk musim kemarau pada bulan tersebut. Sebanyak 26 ZOM memasuki kemarau lebih awal pada April, sedangkan lima ZOM lainnya baru mengalami peralihan pada Juni.

Perbandingan dengan kondisi normal periode 1991–2020 menunjukkan adanya pergeseran awal musim. Sejumlah wilayah mengalami kemunduran, sementara sebagian lain justru lebih cepat memasuki kemarau, terutama pada daerah dengan karakter iklim basah.

“Perbandingan awal musim kemarau 2026 dengan normalnya menunjukkan 36 ZOM atau 46,2 persen mengalami kemunduran, 23 ZOM sama waktunya, dan 15 ZOM maju,” kata Anung sebagaimana dikutip Kompas. .

Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Sebanyak 53 ZOM akan mengalami kondisi paling kering pada bulan tersebut. Wilayah tengah Jawa Timur menjadi area dominan yang terdampak, mencakup Malang, Probolinggo, Jember, hingga sebagian wilayah Madura.

Durasi kemarau juga bervariasi. Beberapa wilayah hanya mengalami sekitar 10 hingga 12 dasarian atau empat bulan. Sebagian wilayah lain berpotensi mengalami kemarau hingga sembilan bulan. Rata-rata durasi kemarau diperkirakan berlangsung selama enam hingga tujuh bulan.

Wilayah dengan durasi panjang tersebar di bagian selatan Jawa Timur serta sejumlah daerah di Madura, Tuban, Bojonegoro, Jember, Situbondo, dan Probolinggo. Kondisi ini memerlukan langkah antisipasi lebih awal, terutama dalam pengelolaan air dan sektor pertanian.

“Daerah yang mengalami durasi lebih dari enam bulan perlu menyiapkan perencanaan sejak dini,” ujar Anung.

#Curah Hujan Turun, Risiko Kekeringan Naik

Sepanjang musim kemarau 2026, sifat curah hujan di Jawa Timur diperkirakan berada di bawah normal. Dari total 74 ZOM, hanya 18 ZOM atau sekitar 25 persen yang memiliki kondisi normal. Sebanyak 56 ZOM atau 75 persen diprediksi mengalami curah hujan lebih rendah dari biasanya.

Kondisi ini dipengaruhi dinamika atmosfer global. Hingga pertengahan tahun, fenomena El Nino Southern Oscillation dan Indian Ocean Dipole diperkirakan berada dalam fase netral. Memasuki paruh kedua tahun, El Nino berpotensi menguat pada kategori lemah hingga moderat.

Probabilitas penguatan tersebut berada pada kisaran 50 hingga 60 persen. Angka ini menunjukkan adanya peluang signifikan terjadinya pengeringan wilayah, meskipun masih terdapat ketidakpastian.

Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut kondisi kemarau kering membawa sejumlah konsekuensi serius. Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak, terutama pada lahan tadah hujan.

“Kondisi ini meningkatkan risiko penurunan produksi pangan, keterlambatan tanam, hingga kegagalan panen akibat keterbatasan air irigasi,” kata Ardhasena.

Selain itu, potensi krisis air bersih juga meningkat. Wilayah yang bergantung pada sumber air permukaan atau sumur dangkal berpotensi mengalami penurunan ketersediaan air.

Ancaman kebakaran hutan dan lahan juga meningkat seiring mengeringnya vegetasi dan meningkatnya kecepatan angin pada puncak kemarau. Situasi ini memerlukan kesiapsiagaan lintas sektor untuk mengurangi potensi kerugian.

Kondisi di lapangan menunjukkan tekanan tersebut sudah pernah dirasakan petani. Sukardi, petani di Desa Jegreg, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, mengandalkan pompa air berbahan bakar generator untuk mengairi lahannya saat puncak kemarau.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di wilayahnya tidak ada irigasi. Sehingga untuk mengairi sawahnya tanam pada yang dimulai pada Maret 2026 (setelah lebaran) hanya mengandalkan air hujan.

Saat kemarau tiba, kebutuhan air menjadi persoalan harian. Warga Desa Jegreg, Modo, Lamongan, berupaya mencari sumber air dari sumur bor di area persawahan untuk memenuhi kebutuhan hidup, 6 Oktober 2023. | Dok Supriyadi

#Peluang Garam dan Strategi Adaptasi

Di tengah ancaman kekeringan, kemarau panjang juga menghadirkan peluang pada sejumlah sektor. Produksi garam diperkirakan meningkat seiring curah hujan rendah dan intensitas panas matahari yang tinggi.

“Curah hujan rendah dan cuaca terik mendukung proses penguapan, sehingga produksi garam berpotensi meningkat dengan kualitas yang lebih baik,” kata Ardhasena.

Sektor pertanian tertentu juga dapat memanfaatkan kondisi ini. Tanaman hortikultura seperti cabai, bawang, dan tomat dapat tumbuh optimal jika didukung sistem irigasi yang baik. Intensitas sinar matahari yang tinggi membantu meningkatkan kualitas hasil panen.

Komoditas tembakau juga diperkirakan diuntungkan. Tanaman ini membutuhkan kondisi kering dengan curah hujan rendah untuk tumbuh maksimal.

“Tembakau akan tumbuh baik pada cuaca panas dengan curah hujan rendah,” ujar Ardhasena.

Untuk mengurangi dampak negatif, BMKG merekomendasikan sejumlah langkah strategis. Pemanfaatan peta prediksi awal musim kemarau pada setiap ZOM menjadi dasar penentuan jadwal tanam yang lebih tepat.

Petani didorong memilih tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan. Sistem irigasi hemat air juga perlu diterapkan sejak awal musim kemarau, terutama pada Mei hingga Juni.

Pengelolaan sumber daya air menjadi langkah penting. Pengisian embung dan waduk perlu dimaksimalkan sebelum memasuki puncak kemarau. Upaya konservasi daerah tangkapan air serta perbaikan jaringan irigasi juga perlu dipercepat.

“Kita perlu memperkuat pemantauan titik panas, patroli preventif, edukasi masyarakat, serta menyiapkan posko untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan,” kata Ardhasena.

Pada tingkat rumah tangga, masyarakat diimbau mulai berhemat air sejak awal kemarau. Perbaikan kebocoran saluran air dan penggunaan air secara efisien menjadi langkah sederhana yang berdampak besar.

Masyarakat juga disarankan menyiapkan cadangan pangan untuk dua hingga tiga bulan ke depan guna menjaga ketahanan pangan keluarga.

Informasi mengenai musim kemarau perlu terus disosialisasikan agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dan kebutuhan sehari-hari. Respons cepat dan perencanaan matang dari pemerintah daerah, pelaku usaha, serta masyarakat menjadi kunci menghadapi kemarau yang lebih kering pada 2026.

Kondisi ini memperlihatkan pentingnya integrasi data iklim dalam perencanaan pembangunan. Dengan pendekatan yang tepat, risiko dapat ditekan, sementara peluang tetap dapat dimanfaatkan secara optimal.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *