Lewati ke konten

Praktikum 32 Mahasiswa Adi Buana Surabaya Ungkap Tujuh Partikel Mikroplastik di DAS Brantas

| 5 menit baca |Mikroplastik | 18 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Praktikum lapangan yang diikuti 32 mahasiswa Universitas PGRI Adi Buana Surabaya menemukan tujuh partikel mikroplastik dalam sampel air DAS Brantas yang diuji di Laboratorium ECOTON, Gresik.
  • Temuan berupa enam fragmen dan satu fiber mikroplastik memperlihatkan bahwa pencemaran plastik masih berlangsung di salah satu sungai utama Jawa Timur dan berpotensi masuk ke rantai makanan.
  • Selain menguji mikroplastik, mahasiswa juga mempelajari kondisi kesehatan sungai melalui indikator biologis serta mengenal sistem isi ulang sebagai alternatif pengurangan sampah plastik.

Sebanyak 32 mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan dan Biologi Universitas PGRI Adi Buana Surabaya menemukan tujuh partikel mikroplastik dalam sampel air DAS Brantas saat mengikuti praktikum di Laboratorium Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON), Selasa (30/6/2026).

Temuannya terdiri atas enam fragmen dan satu fiber mikroplastik. Hasil pengujian ini menjadi gambaran, jika mikroplastik masih ditemukan di daerah aliran sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat.

Kepala Laboratorium ECOTON, Rafika Aprilianti, mengatakan temuan itu diperoleh dari sampel air yang diambil dan diuji langsung selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, keberadaan mikroplastik menunjukkan limbah plastik yang dibuang ke lingkungan tidak benar-benar hilang.

“Hari ini kita lihat bersama, bagaimana mikroplastik sudah mencemari DAS Brantas, yaitu Kali Surabaya. Dari sampel air yang baru saja kami uji di laboratorium ini, kami temukan enam fragmen dan satu fiber mikroplastik,” kata Rafika.

Ia juga menjelaskan, plastik yang terbuang ke lingkungan akan mengalami proses degradasi menjadi partikel-partikel kecil. Partikel itu, kata Rafika, kemudian terbawa ke perairan.

“Di perairan ini kemudian dikonsumsi organisme, masuk ke rantai makanan, dan pada akhirnya dapat mencapai tubuh manusia, “ jelas Rafika.

Kegiatan praktikum ini sengaja dirancang guna mempertemukan mahasiswa dengan kondisi di lokasi sesungguhnya. Selain memahami metode penelitian, peserta diajak melihat secara langsung hubungan antara aktivitas manusia dan kualitas lingkungan sungai.

Menurut Rafika, pembelajaran lingkungan tidak cukup hanya dilakukan di ruang kelas saja. Mahasiswa perlu memahami persoalan pencemaran secara langsung, agar memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan ekosistem sungai.

“Kami ingin teman-teman mahasiswa tidak cuma tahu teori, tapi juga punya keterikatan dengan sungai. Karena yang akan menjaga sungai ke depan adalah generasi mereka,” ujarnya.

Kepala Laboratorium ECOTON Rafika Aprilianti menunjukkan temuan mikroplastik melalui mikroskop kepada mahasiswa saat praktikum lingkungan. | Dok ECOTON

#Mengukur Pencemaran Melalui Mikroplastik dan Organisme Air

Selama kunjungan, mahasiswa mengikuti tiga pos pembelajaran yang masing-masing memperkenalkan metode berbeda untuk memahami kondisi sungai.

Pada Pos Mikroplastik, mahasiswa melakukan pengambilan sampel menggunakan plankton net dan metode MISTIC atau Microplastic Sampling Technique. Sampel kemudian diamati menggunakan mikroskop Olympus CX33 untuk mengidentifikasi bentuk serta jumlah partikel mikroplastik.

Pos berikutnya adalah Biotilik, yaitu metode pemantauan kualitas sungai menggunakan makrozoobentos atau serangga air. Organisme tersebut dikenal sensitif terhadap perubahan kualitas lingkungan sehingga sering digunakan sebagai indikator biologis.

Hasil pengamatan menunjukkan dominasi kelompok Non-EPT. Kondisi ini mengindikasikan adanya tekanan pencemaran yang cukup tinggi karena kelompok organisme yang lebih sensitif terhadap kualitas air ditemukan dalam jumlah lebih sedikit.

Mahasiswa juga diperkenalkan dengan Pos REFILIN yang mengangkat solusi pengurangan sampah plastik. Melalui pos ini, peserta mempelajari sistem isi ulang sebagai alternatif penggunaan kemasan sachet multilayer yang sulit didaur ulang.

Pendekatan tersebut tidak hanya memperlihatkan sumber persoalan pencemaran, tetapi juga menawarkan pilihan yang dapat diterapkan untuk mengurangi timbulan sampah plastik sejak dari tingkat konsumsi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel


Mahasiswa Universitas PGRI Adi Buana Surabaya meneliti sampel air Kali Surabaya dari DAS Brantas dalam praktikum mikroplastik. | Dok ECOTON

#Pengalaman Lapangan Membuka Perspektif Baru

Bagi mahasiswa, kegiatan yang mereka lakukan menjadi pengalaman pertama melihat langsung bukti pencemaran mikroplastik di sungai. Pengalaman ini memunculkan perspektif baru tehadap peserta. Selama yang mereka tahu, mengenai skala persoalan lingkungan yang selama ini lebih banyak dipelajari melalui teori.

Mahasiswa Teknik Lingkungan semester dua, Silvia Rahma, misalnya, mengaku sebelumnya lebih sering mempelajari mikroorganisme, seperti bakteri dalam perkuliahan.

Karena itu, praktik identifikasi mikroplastik ini menjadi pengalaman untuk memperluas pemahaman mengenai pencemaran lingkungan.

“Jadi tahu kalau Jawa Timur enggak sebersih itu, terus kita juga jadi tahu mikroplastik enggak cuma di lingkungan saja, tapi bisa ada di hewan dan manusia,” katanya.

Mahasiswa angkatan 2025, Andika Bulu, menilai kegiatan yang ia jalani, juga menunjukkan pentingnya edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat.

Ia bahkan mengaku baru memahami, jika pembakaran sampah dapat menghasilkan partikel mikroplastik yang menyebar ke udara.

“Selama ini banyak orang menganggap membakar sampah sebagai cara paling praktis untuk mengurangi limbah rumah tangga. Padahal, dari kegiatan itu bisa muncul partikel mikroplastik yang berpotensi masuk ke sistem pernapasan manusia,” ucap Andika.

Selanjutnya Rafika berharap dengan kegiatan ini, metode pengujian mikroplastik maupun biotilik yang diperkenalkan dapat diterapkan kembali di lingkungan kampus.

“Kami berharap mahasiswa dapat mengembangkan temuan dan metode yang dipelajari hari ini menjadi riset maupun program pengabdian masyarakat untuk menjaga kesehatan sungai,” pungkas  Rafika.***

 

Tentang ECOTON: Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) adalah lembaga yang fokus pada penelitian, edukasi, dan advokasi pelestarian ekosistem sungai dan lahan basah di Indonesia. Sejak 2017, ECOTON konsisten memantau mikroplastik dan mendorong lahirnya regulasi pengurangan sampah plastik di Indonesia.

Naskah ini disusun oleh Amalia Febriyanti, Media Communication ECOTON dan dipublikasikan setelah melalui proses editing redaksi.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *