Lewati ke konten

SOSOK: Air Bau dan Tanah Amblas, Pengalaman Dua Mahasiswa UB Membaca Pencemaran Sungai

| 14 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Dua mahasiswa Universitas Brawijaya menyusuri sungai, mengungkap pencemaran dan mikroplastik dari lapangan hingga laboratorium.
  • Dari ruang kuliah ke sungai, Marysca dan Kirana melihat langsung wajah pencemaran perairan Jawa Timur.
  • Menyusuri Kali Surabaya dan Kali Tengah, dua mahasiswa belajar membaca pencemaran melalui data dan pengalaman lapangan.
  • Air berbusa, bau menyengat, dan mikroplastik mengubah cara dua mahasiswa memandang persoalan sungai di Jawa Timur.
  • Magang di ECOTON membawa Marysca dan Kirana berhadapan langsung dengan kompleksitas pencemaran sungai Jawa Timur.

MARYSCA Andra Prima Aji dan Kirana Nur’ Aini Prasasti berpandangan, sungai tidak lagi berhenti sebagai objek, hanya dipelajari melalui teori, buku, dan artikel ilmiah saja. Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Brawijaya ini, berhadapan langsung dengan persoalan pencemaran ketika menjalani magang di ECOTON. Mereka menyusuri Kali Surabaya, mengamati kondisi Kali Tengah di Driyorejo, Gresik, sampai mengambil sampel air di sekitar aktivitas industri untuk menelusuri keberadaan mikroplastik dan perubahan kualitas air.

Pengalaman lapangan itu memperlihatkan kepada keduanya, kalau persoalan sungai jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan. Air yang berbusa dan berbau menyengat, endapan yang membuat tanah di tepian sungai mudah amblas, hingga sampah dan limbah dari aktivitas masyarakat menjadi temuan yang mereka catat.

Dari lapangan pula mereka belajar bahwa warna dan kondisi fisik air belum cukup untuk menyimpulkan tingkat pencemaran. Data, pengukuran kualitas air, serta analisis laboratorium diperlukan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam sungai. Ikuti wawancara dengan keduanya, yang kami susun, Sabtu, 15 Agustus 2026. [*]

Marysca Andra Prima Aji dan Kirana Nur’ Aini Prasasti saat mengambil sampel air di Kali Porong, outlet PT Mega Surya Eratama, Selasa (14/7/2026). | Foto: Fully Syafi

Bisa diceritakan siapa Marysca dan Kirana, serta apa yang membuat kalian memilih Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Brawijaya?

Marysca: Saya Marysca Andra Prima Aji merupakan mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Brawijaya. Saya tertarik dengan program studi Manajemen Sumberdaya Perairan karena memiliki ketertarikan terkait dengan ekosistem perairan yang dapat dikelola secara berkelanjutan.

Sehingga, dengan bergabung menjadi mahasiswa MSP, saya dapat belajar sekaligus memberikan kontribusi secara nyata terhadap permasalahan lingkungan yang terjadi di masyarakat.

Kirana: Kalau saya Kirana Nur’ Aini Prasasti, dari prodi sama dengan Marysca, Saya tertarik dengan berbagai permasalahan yang terjadi di perairan, seperti pencemaran sungai, limbah, dan sampah plastik,

Karena permasalahan limbah tidak hanya berdampak pada ekosistem di perairan saja. Tetapi juga pada kehidupan masyarakat. Saya memilih Universitas Brawijaya karena melihat ada kesempatan pengalaman akademik maupun lapangan yang lebih luas.

Sehingga saya tidak hanya belajar teori di perkuliahan, juga dapat terlibat langsung dalam pengamatan dan pengelolaan sumber daya perairan.

Apa yang membuat kalian tertarik mengikuti program magang di ECOTON, dan apa yang kalian harapkan ketika pertama kali datang?

Marysca: Karena saya melihat Ecoton banyak melakukan kegiatan pengendalian pencemaran di sungai. Terutama pencemaran mikroplastik yang menjadi fokus topik magang saya.

Saya ingin  mendapatkan pengalaman langsung di Ecoton, terutama saat kegiatan lapangan seperti observasi kondisi sungai, pengambilan sampel, juga identifikasi di laboratorium.

Dengan mengikuti kegiatan magang di Ecoton ini, saya lebih banyak dapat pemahaman saya terkait pencemaran sungai, terutama. Termasuk penelitian di lapangan, dan cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Kirana: Kalau saya melihat Ecoton sebagai organisasi lingkungan yang fokus pada perlindungan ekosistem sungai dan pengelolaan lingkungan, khususnya di wilayah Jawa Timur. Saat pertama kali datang ke Ecoton, saya  langsung mendapat bimbingan dan pengalaman di lapangan. Itu membuat saya tidak hanya memahami teori dari perkuliahan saja. Tetapi juga dapat melihat dan terlibat dalam berbagai permasalahan lingkungan, khususnya terkait kondisi sungai dan pencemaran.

Selama magang di ECOTON, penelitian atau kajian apa yang sedang kalian lakukan? Apa persoalan utama yang ingin kalian ketahui dari penelitian tersebut?

Marysca: Saya melakukan penelitian tentang karakteristik dan kelimpahan mikroplastik serta kondisi kualitas air Kali Porong tepatnya di sekitar PT. Mega Surya Eratama dan PT. Mekabox International.

Saya mengidentifikasi karakteristik mikroplastik bersama Kirana, berdasarkan bentuk, warna, jumlah partikel serta jumlah kelimpahannya.

Persoalan utama yang ingin saya ketahui yaitu bagaimana kondisi perairan di sekitar industri. Apakah terdapat perbedaan kondisi kualitas air dan karakteristik mikroplastik pada titik sebelum menerima masukan air limbah, titik yang menjadi tempat buangan air limbah, dan setelahnya.

Kirana: Ya, kami  juga melakukan penelitian tentang analisis karakteristik dan kelimpahan mikroplastik di Kali Surabaya ya.

Sampel air kami ambil dari enam titik di sekitar area pembuangan limbah industri kertas, PT Adiprima Suraprinta dan PT Dayasa Aria Prima.

BACA JUGA:  Ular Tangga Jadi Media Edukasi Mikroplastik

Dari sini aya ingin mengetahui keberadaan, karakteristik, dan kelimpahan mikroplastik di sekitar area itu, Juga melihat kondisi mikroplastik di titik sebelum dan setelah buangan limbah.

Marysca Andra Prima Aji dan Kirana Nur’ Aini Prasasti menguji sampel air di lokasi. | Foto: Fully Syafi

Sebagai mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan, sejauh mana pengalaman di lapangan mengubah cara kalian melihat kondisi sungai dibandingkan ketika mempelajarinya di ruang kuliah?

Marysca: Saya rasa cukup berbeda ya dengan di ruang kuliah. Saat kuliah mungkin saya hanya memahami istilah pencemaran sungai. Melalui teori-teori yang disampaikan dosen maupun dari artikel ilmiah yang saya baca.

Sedangkan saat terjun, magang di Ecoton ini, secara langsung, saya melihat kondisi pencemaran sungai. Dan itu benar-benar terjadi dan nyata. Aktivitas industri, pemukiman, dan sampah.

Kirana: Mungkin sama denga napa yang dikatakan Marysca. Pengalaman di lapangan membuat saya lebih memahami kondisi sungai sesungguhnya.

Saya melihat ternyata kondisi sungai cukup memprihatinkan. Sudah selayaknya harus diakhiri membuang limbah dan sampah ke sungai.

Saat melakukan wawancara dengan, kami menanyakan ya mengenai adanya limbah cair yang dibuang langsung ke sungai dan itu anehnya, tidak diketahui sumbernya.

Tanggapan yang kami dapat “sudah biasa.” Bagi saya, jawaban itu menunjukkan masih ada, sebagian masyarakat menganggap pencemaran sungai sesuatu yang biasa. Dan mungkin, bisa jadi belum menyadari dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan mereka.

Kalian terlibat dalam pengambilan sampel limbah dari PT Mega Surya Eratama. Bagaimana proses pengambilan sampel tersebut dilakukan dan apa yang paling kalian perhatikan agar sampel benar-benar menggambarkan kondisi di lapangan?

Marysca:  Ya. Saya memperhatikan pada lokasi titik sampling. Kondisi lingkungan sekitar, prosedur pengambilan sampel, dan penyimpanan sampel. Supaya sampel tidak terjadi kontaminasi.

Saya harus bisa memastikan titik sampling yang saya ambil ini. Dapat mewakili kondisi perairan pada lokasi itu. Pencatatan kondisi lapangan juga perlu dilakukan. Supaya hasil dari analisis laboratorium dapat dikaitkan dengan kondisi perairan yang diamati secara langsung.

Kirana: Tak beda ya seperti yang dikatakan Marysca. Proses pengambilan sampel air di PT Mega Surya Eratama kami menyaring 10 liter air menggunakan stainless steel mesh, kemudian sampel kami bawa ke laboratorium. Di situ kita Analisa kandungan mikrolastiknya. Supaya sampel dapat menggambarkan kondisi perairan secara lebih representatif,

Kami mengambil sampel pada tiga titik, sebelum buangan limbah atau upstream, titik buangan atau outlet, dan setelah buangan limbah atau downstream.

Selain analisis mikroplastik, yang kami lakukan di loakasi yaitu pengukuran kualitas air. Kami menggunakan water quality checker. Hasilnya saat itu menunjukkan suhu  29,7–36°C, pH 7,31–8,36, DO 2,6–3,3 mg/L, dan TDS 304–953 mg/L.

Dari hasil uji itu, kami melihat adanya perubahan kondisi kualitas air antar titik.  Terutama pada suhu dan TDS. Ini dapat menjadi indikasi adanya pengaruh dari aktivitas di sekitar lokasi pembuangan.

Tapu untuk memastikan perubahan benar-benar disebabkan limbah industri, PT Eratama. Kita masih memerlkukan analisis dan perbandingan di kondisi upstream serta parameter pencemar lainnya.

Ketika berada di sekitar aliran yang diduga menerima buangan limbah PT Mega Surya Eratama, seperti apa kondisi yang kalian lihat secara langsung—warna air, bau, endapan, maupun kondisi lingkungan di sekitarnya?

Marysca:  Pertama kali saya lihat yaitu air warnanya abu-abu dan berbusa. Selain itu juga saya mencium bau cukup menyengat. Saat saya melakukan pengambilan sampel mikroplastik, saya mengetahui limbah pabrik kertas sangat banyak. Kondisi lingkungan di sekitarnya menjadi berubah. Ini dapat dilihat pada pinggiran sungai yang dipenuhi sisa-sisa limbah pabrik kertas mengering.

Kirana: Warna airnya tidak terlihat jelas memang. Pertama saya mengamati. Karena permukaan air tertutup busa. Setelah dilakukan penyaringan, air terlihat berwarna abu-abu. Baunya sangat menyengat. Kadang bikin mual.

Proses penyaringan juga cukup sulit. Karena air mengandung banyak endapan. Selain kondisi air, kondisi lingkungan di sekitar sungai, baik pada titik upstream, outlet, maupun downstream. Juga terlihat kurang baik. Kami menemukan bubur kertas mengering. Seperti yang dikatakan Maryca tadi. Dan ketika diinjak, permukaan terasa tidak kokoh hingga langsung “amblas”.

Kondisi ini, menuurt saya, menunjukkan adanya akumulasi material di sekitar aliran. Dan sangat perlu mendapat perhatian serius. Karena dampaknya terhadap kualitas lingkungan perairan dan sekitarnya.

Apa yang kalian rasakan ketika harus mengambil sampel di lokasi yang kondisi airnya diduga tercemar? Apakah ada kekhawatiran atau tantangan tertentu selama proses tersebut?

Marysca:  Saat itu saya merasa sedikit khawatir dan takut, memang. Ini dikarenakan kondisi air sungai sangat bau dan warnanya abu-abu, juga medan di sekitar sungai cukup sulit. Harus berhati-hati saat itu. Karena kalau terinjak mudah ambles.

BACA JUGA:  Ramai Pemancing, Mikroplastik Mengancam Kali Jagir

Namun adanya pengalaman ini membuat saya paham. Bagaimana pentingnya keselamatan dan ketelitian dalam kegiatan lapangan. Tentu memerlukan kesiapan fisik ya, mental juga. Secara teknis perlu pematangan juga. Seperti penggunaan sarung tangan Ketika kita mengambil sampel air.

Kirana: Sama ya. Saya merasa cukup khawatir ketika mengambil sampel karena kondisi lokasi memang cukup berisiko. Terutama karena permukaan tanah di sekitar sungai tidak padat. Saat diinjak, terdapat bagian yang terasa seperti lumpur atau endapan yang mudah amblas. Sehingga kami harus lebih berhati-hati dalam menentukan posisi dan mengambil sampel.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Marysca Andra Prima Aji dan Kirana Nur’ Aini Prasasti bersiap mengambil sampel air untuk uji kualitas di Muara Kali Tengah, Gresik. | Foto: Dok

Menurut pengamatan kalian, bagaimana dampak pencemaran tersebut terhadap sungai dan masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar aliran air?

Marysca: Pencemaran ke sungai dampaknya sangat banyak bagi ekosistem sungai maupun masyarakat di sekitarnya. Apabila kualitas air menurun dapat mengganggu organisme perairan yang hidup di dalamnya bahkan menyebabkan kematian. Mayarakat yang tinggal di sekitar sungai juga merasakan dampaknya seperti, berkurangnya ikan hasil tangkapan bahkan terdapat perubahan dari rasa ikan.

Kirana: Cukup mengkhawatirkan ya. Karena sudah terlihat sekali kualitas air buruk . Tentunya sangat memengaruhi kondisi ekosistem sungai dan kehidupan masyarakat. Air yang mengalami perubahan warna, berbau menyengat, berbusa, dan mengandung banyak endapan berpotensi mengganggu kehidupan organisme perairan serta menurunkan kualitas lingkungan sungai.

Bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sungai, kondisi ini tidak memungkinkan. Dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan berpotensi mengganggu aktivitas pastinuya.

Selain mengambil sampel, kalian juga menyusuri Kali Surabaya. Apa saja temuan yang paling membekas selama perjalanan menyusuri sungai tersebut?

Marysca: Saat menelusuri Kali Surabaya saya melihat berbagai aktivitas di sepanjang sungai. Mulai dari industri, masyarakat, dan ekosistem lainnya. Saya melihat banyak bangunan rumah di pinggiran sungai (sempadan) dan membuang limbah rumah tangganya itu langsung ke badan sungai.

Kirana: Hal paling membekas pada saya, padatnya aktivitas masyarakat. Kami menemukan adanya TPS (tempat pembuangan sampah) di sekitar lokasi pengambilan sampel. Sehingga terlihat aktivitas masyarakat dan pengelolaan sampah di sekitar sungai masih menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Kondisi ini membuat saya menyadari, kalau kondisi sungai tidak hanya dipengaruhi aktivitas industry. Tapi juga aktivitas masyarakat di sepanjang aliran sungai.

Ketika menyusuri Kali Surabaya, apakah kalian menemukan perbedaan kondisi sungai antara satu titik dengan titik lainnya? Faktor apa yang menurut kalian paling terlihat memengaruhi kondisi tersebut?

Marysca: Iya, saya menemukan perbedaan antara  satu titik dengan lainnya. Faktor ini sangat memengaruhi. Tentu berasal dari limbah aktivitas industry dan permukiman.

Kirana:  Perbedaan kondisi sungai antara satu titik dengan titik lainnya sangat mencolok. Itu yang kami temukan. Bahkan beberapa titik lainnya kami temukan sampah, busa, bau yang kurang sedap. Ini sangat karena sangat dipengaruhi aktiviats masyarakata yang tidak terkelola oleh kebijakan.

Kalian juga melihat langsung kondisi Kali Tengah di Driyorejo, Gresik. Apa yang kalian lihat di sana, dan mengapa kondisi tersebut menarik perhatian kalian sebagai mahasiswa sumber daya perairan?

Marysca: Saya melihat kondisi Kali Tengah cukup keruh dan berbusa, airnya juga berwarna keabu-abuan dan baunya sangat tajam. Kami meyakini, meski masih butuh uji lab juga. Itu berasal dari limbah pabrik kertas. Kita tinggal mengidentifiaksi saja. Di sepanjang sungai itu ada pabrik kertasnya tidak.  Dan lebih mengagetkan waktu itu, kami yang dating ke sana beramai-ramai, melihat beberapa ikan lompat-lompat. Mungkin saja karena hipoksia atau kekurangan oksigen.

Kirana:  Saat mengamati Kali Tengah di Driyorejo, Gresik, membuat ingatn saya membekas. Saya dan teman-teman melihat, semavam ada gelembungan dari dasar sungai. Beberapa masyarakat yang kami temui dan wawancarai. Rata-rata mengaku mengeluh, meski mereka sembunyikan atau tidak protes. Ini saya melihat Ketika kami desak,  tidak menunjukkan pabrik kertas yang ada di lokasi itu.

Ini perlu kita tahu, Kali Tengah itu bagian dari anak sungai Kali Surabaya. Yang kami amati waktu itu di muara sungai, yang langsung menyentuh Kali Surabaya.

Marysca Andra Prima Aji bersama Marcellina Santoso dalam satu tim observasi menunjukkan limbah di Kali Tengah, Driyorejo. | Foto: TIM

Bagaimana kalian membedakan antara persoalan sampah domestik, limbah industri, dan perubahan kondisi alami sungai ketika melakukan pengamatan di lapangan?

Marysca: Saya membedakan permasalahan sampah domestic dan limbah industry. Ini sangat terbaca sebenarnya, perubahan alaminya. Mulai jenis sampah atau material lainnya yang kami temukan.

BACA JUGA:  Nina Peringatkan Dampak Racun Plastik yang Mengancam Kesehatan Perempuan Pengumpul Sampah Gresik, Berkirim Surat kepada Bupati

Kirana:  Sampah domestik itu biasanya ditandai dengan adanya, seperti plastik dan kemasan makanan. Sedangkan limbah industri dapat dicurigai jika terdapat saluran pembuangan dari kegiatan industry. Ini biasanya disertai perubahan warna ait, bau, suhu, pH, atau parameter kualitas air lainnya.

Sementara perubahan kondisi alaminya.  Sungai dapat disebabkan faktor seperti hujan, debit air, erosi, dan masuknya sedimen. Untuk memastikan sumber permasalahan itu, yaitu kami tidak hanya mengandalkan pengamatan indera mata saja. Tetapi Kami juga membandingkan kondisi upstream, titik outlet, dan downstream.

Pengukuran kualitais itu pasti, dan uji lab, itu harus kita lakukan.

Dari seluruh kegiatan lapangan selama magang, pengalaman mana yang paling membuat kalian terkejut atau mengubah pandangan tentang persoalan pencemaran sungai?

Marysca: Pengalaman yang cukup berkesan, hemm…saya ketika dapat melihat langsung pencemaran sungai. Ini yang membuat saya sadar jika pencemaran yang terjadi, yaitu sungai. Dapat menjadi persoalan cukup kompleks dan serius.

Kirana: Pengalaman saat pengambilan sampel sekitar buangan limbah pabrik. Saya punya pendapat sengaja dibuang.

Apakah ada temuan di lapangan yang berbeda dengan apa yang sebelumnya kalian bayangkan berdasarkan teori atau materi perkuliahan?

Marysca: Ada. Beberapa kondisi jernih dan tidak tercemar justru mengandung ratusan mikroplastik di dalamnya. Ini tidak bis akita nilai berdasar warna saja. Oleh karena itu, pemahaman tentang analisis kualitas air penting, supaya mendapat gambaran kondisi sungai lebih objektif.

Kirana: Dalam perkuliahan, kami pelajari perubahan kualitas air dapat dikaitkan dengan sumber pencemar tertentu. Tetapi di lapangan satu kondisi sungai bisa dipengaruhi oleh banyak faktor sekaligus. Seperti tadi kami katakana aktivitas masyarakat, kegiatan industri, kondisi lingkungan, debit air, dan cuaca.

Ini yang akan saya katakana dalam mengidentifikasi permasalahan perairan, kita tidak bisa berpedoaman pada teori.

Sebagai mahasiswa, apa tantangan terbesar ketika harus berhadapan dengan persoalan pencemaran yang melibatkan aktivitas industri dan kepentingan masyarakat?

Marysca: Tantangan terbesar bagi saya yaitu harus melihat permasalaha pencemaran secara objektif.  Sebagai mahasiswa, saya melihat berdasar data dan hasil penelitian . Selain itu penyelesaian persoalan pencemaran dapat dilakukan dengan komunikasi, pengawasan, dan keterlibatan oleh berbagai pihak.

Kirana: Kalau menuurt saya ya, tantangan terbesar menyeimbangkan kepentingan industri, masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Industri memiliki peran penting, sebenarnya. Dalam perekonomian dan menyediakan lapangan pekerjaan.  Sementara masyarakat, kita ini juga membutuhkan lingkungan perairan bersih dan aman.

Dalam menghadapi persoalan pencemaran, kita tidak bisa langsung menyalahkan salah satu pihak. Tetapi perlu melihat data dan kondisi di lapangan secara objektif. Sebagai mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan, saya melihat bahwa tantangan lainnya adalah membangun komunikasi antara pihak industri, masyarakat, dan pemerintah. Ini paling penting.

Setelah melihat langsung kondisi sungai dan mengambil sampel pencemaran, apakah cara pandang kalian terhadap masa depan sungai-sungai di Jawa Timur berubah? Jika berubah, seperti apa?

Marysca: Tentunya berubah, saya melihat sungai yang berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat itu sudah tercemar. Ini dapat membahayakan kehidupan kedepannya.

Kirana: Setelah melihat langsung kondisi sungai dan mengambil sampel, kami menyadari bahwa permasalahan sungai di Jawa Timur tidak hanya disebabkan oleh aktivitas industry. Tetapi juga oleh perilaku masyarakat yang masih kurang peduli atau belum mengetahui tindakan yang tepat untuk menjaga sungai.

Jika diberi kesempatan menyampaikan satu pesan kepada pemerintah, industri, dan masyarakat setelah pengalaman magang di ECOTON ini, apa yang ingin kalian sampaikan?

Marysca: Pesan dari saya yaitu sungai bukanlah tempat sampah. Kita jaga sungai. Karena sungai sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.

Saya juga berharap kepada pemerintah, supaya pengawasan dan penegakan aturan terhadap lingkungan perairan terus diperkuat. Kepada industri, saya berharap pengolahan limbah dilakukan secara bertanggung jawab. Masyarakat juga jangan membuang sampah di sungai.

Kirana: Menjaga sungai bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Tanggung jawab kita semua. Kepada pemerintah, kami berharap pengawasan dan penegakan aturan terhadap pencemaran dapat dilakukan secara konsisten.

Begitu juga kepada industry, agar lebih bertanggung jawab dalam mengelola limbah dan terbuka terhadap dampak kegiatan produksinya, sedangkan kepada masyarakat kami berharap dapat lebih peduli terhadap kondisi sungai dan tidak membuang sampah atau limbah sembarangan.

Dari pengalaman magang di ECOTON, kami belajar bahwa masih banyak masyarakat yang sebenarnya belum tahu harus berbuat apa ketika melihat pencemaran, sehingga edukasi dan keterlibatan masyarakat juga sangat penting.***

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *