Lewati ke konten

Lima Stasiun AQMN Surabaya Pantau Kualitas Udara, Mahasiswa ITS Ungkap Mekanisme ISPU

| 3 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Dua mahasiswa Biologi ITS membedah sistem Ambient Air Quality Monitoring Network (AQMN) Surabaya guna memahami tata kelola pemantauan kualitas udara berbasis data ilmiah berkelanjutan.
  • Beroperasi kontinu di lima stasiun pemantauan, sistem AQMN mengolah lima parameter polutan utama menjadi nilai ISPU harian untuk masyarakat.
  • Informasi kualitas udara dipublikasikan setiap sore melalui lima papan digital kota agar masyarakat dapat mengantisipasi risiko kesehatan secara langsung.
  • Hasil pemantauan mencatat parameter dominan dengan nilai ISPU tertinggi sebagai acuan publik sekaligus penanda sumber utama pencemaran.
  • Kajian ini menegaskan bahwa keterbukaan dan konsistensi data kualitas udara merupakan fondasi vital dalam merumuskan kebijakan lingkungan yang efektif.

AZMI Latifatul Artantiwi dan Saidatul Rohmah, mahasiswa Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, mempelajari sistem Ambient Air Quality Monitoring Network (AQMN) atau Jaringan Pemantauan Kualitas Udara Ambien yang dikembangkan Pemerintah Kota Surabaya.

Hasil pembelajaran tersebut dipresentasikan kepada sesama mahasiswa peserta magang di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) sebagai bagian dari penguatan pemahaman mengenai pengendalian pencemaran udara berbasis data.

Dalam pemaparannya, Tanti—sapaan akrab Azmi Latifatul Artantiwi—menjelaskan bahwa AQMN dirancang untuk mengamati tingkat pencemaran secara berkesinambungan.

“Data yang dihasilkan menjadi dasar penyusunan kebijakan pengendalian pencemaran sekaligus sumber informasi publik mengenai kondisi kualitas udara di Kota Surabaya,” ujar Tanti, Selasa (28/7/2026).

Pemantauan dilakukan secara kontinu di kawasan yang mewakili karakteristik aktivitas perkotaan, mencakup permukiman, industri, perdagangan, komersial, hingga area campuran.

“Data dari seluruh stasiun kemudian diolah menjadi nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebelum dipublikasikan kepada masyarakat melalui papan informasi digital,” tambah Tanti.

#Lima Stasiun Pantau Udara Sepanjang Hari

Sementara itu, Ima (Saidatul Rohmah) menjelaskan bahwa sistem AQMN bekerja mengukur konsentrasi lima polutan utama: karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO₂), nitrogen dioksida (NO₂), partikulat PM10, dan ozon (O₃).

Pengukuran dilakukan setiap 30 menit (48 kali sehari). Seluruh hasil pengukuran dikirim ke Ruang Kontrol dan Pengolahan Data Kualitas Udara Ambien (RAQMC) untuk dihitung menjadi rata-rata harian sebelum dikonversi menjadi nilai ISPU.

Nilai ISPU tertinggi dari seluruh stasiun diumumkan kepada publik setiap pukul 15.15 WIB dan diteruskan ke pusat pemantauan nasional sebagai bagian dari evaluasi kualitas udara perkotaan di Indonesia.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Saat ini Surabaya memiliki lima stasiun pemantauan tetap yang berlokasi di Taman Prestasi, Perak Timur, Sukomanunggal, Gayungan, dan Gebang Putih, serta satu stasiun bergerak (mobile station). Adapun masyarakat dapat memantau kondisi udara secara langsung melalui lima papan Public Data Display di Gubeng Pojok, kawasan Pahlawan, Jalan Mayjen Sungkono, Jalan Ahmad Yani, dan Dharmawangsa.

Mahasiswa peserta magang ECOTON mengikuti pemaparan mengenai sistem AQMN dan mekanisme pemantauan kualitas udara | Foto: Supriyadi

#Parameter dan Pengkategorian ISPU

Kualitas udara dibagi menjadi lima kategori berdasarkan potensi dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan:

  • Baik: 0–50
  • Sedang: 51–100
  • Tidak Sehat: 101–200
  • Sangat Tidak Sehat: 201–300
  • Berbahaya: > 300

Ima dan Tanti juga mendalami mekanisme penghitungan ISPU. Konsentrasi polutan diukur dalam satuan mikrogram per meter kubik (µg/m³) menggunakan Volume Air Sampler pada kondisi standar (25°C dan tekanan 760 mmHg) sebelum dikonversi menggunakan rumus atau kurva standar.

Kota yang memiliki lebih dari satu stasiun pemantauan tidak menggunakan nilai rata-rata untuk informasi publik, melainkan nilai ISPU tertinggi beserta parameter pencemar dominannya. Hal ini dilakukan karena angka tertinggi paling merepresentasikan tingkat risiko riil yang dihadapi masyarakat pada hari tersebut.

“Parameter dominan juga membantu mengidentifikasi sumber pencemaran. PM10 umumnya berkaitan dengan debu dan kebakaran, SO₂ dipengaruhi emisi industri, sedangkan CO lebih erat dengan aktivitas kendaraan bermotor,” jelas Tanti.

Di akhir presentasi, keduanya menyimpulkan bahwa pembaruan data secara berkala merupakan instrumen krusial dalam pengendalian pemukiman dan lingkungan perkotaan.

“Data yang kuat bukan hanya menjadi dasar kebijakan pemerintah, tetapi juga hak masyarakat untuk mendapatkan informasi lingkungan yang akurat dan mudah dipahami,” pungkas Ima.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *