Lewati ke konten

Timun Mas dan Kelestarian Sungai

| 4 menit baca |Kolom | 0 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Bagaimana jika Timun Mas menjadi cermin hubungan manusia dengan sungai yang memberi kehidupan, tetapi perlahan dihancurkan oleh keserakahan manusia?
  • Empat senjata Timun Mas menyimpan pesan ekologis tentang vegetasi riparian, bambu, mineral, dan biota sungai sebagai penopang kehidupan.
  • Buto Ijo dapat dibaca sebagai personifikasi sungai yang murka ketika manusia terus mengeksploitasi dan merusak keseimbangan ekosistemnya secara perlahan.
  • Pelarian Timun Mas menyimpan ironi ekologis ketika manusia membuang instrumen alam, hingga sungai kehilangan daya hidup dan memicu bencana.
  • Dongeng Timun Mas menghadirkan tafsir ekologis tentang keserakahan manusia, kerusakan sungai, serta konsekuensi eksploitasi alam yang terus berlangsung tanpa batas.

Penulis: Arief Maulana Sabilillah merupakan pemerhati sungai dan lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada. Ia memiliki perhatian pada isu pencemaran antropogenik, khususnya plastic debris, mikroplastik, dan senyawa kimia aditif yang mengancam kesehatan ekosistem sungai.

CEITA rakyat (atau folktale dalam Bahasa Inggris) telah lama digunakan secara global sebagai medium untuk mewariskan kepercayaan dan nilai-nilai hidup. Kita tentu tidak asing dengan beberapa kisah yang paling tenar di antaranya: “Journey to the West” dari Cina, “Little Red Riding Hood” dari Eropa, “Hansel and Gretel” dari Jerman, “Aladdin” dan “Ali Baba” di Timur Tengah. Kisah-kisah ini tak lekang oleh waktu karena selalu membawa pesan moral yang mendalam.

Di Indonesia, memori kolektif kita tentang dongeng lokal kembali disegarkan oleh Imagimata. Studio kreatif yang berbasis di Jakarta ini sedang mengenalkan kembali kisah legendaris Timun Mas lewat layar lebar. Saat ini, baru cuplikan teaser trailer-nya yang diunggah di YouTube, sehingga alur ceritanya secara utuh belum dapat diketahui. Namun, terlepas dari bagaimana film tersebut nantinya dikemas, kisah klasik Timun Mas menyimpan sebuah ruang diskursus yang menarik jika kita membacanya melalui lensa ekologis.

BACA JUGA:  Melihat Aksinya Komunitas Eco Aksi Terlibat Cegah 1.035 Sampah Sachet di Kali Tebu Surabaya

Secara tradisional, kita selalu diajarkan bahwa Mbok Srini dan Timun Mas adalah tokoh protagonis yang tak berdosa, sementara Buto Ijo adalah monster rakus yang menjadi antagonis utama. Namun, bagaimana jika kita berganti perspektif melalui kacamata konservasi ekosistem sungai? Tanpa perlu mengubah cerita orisinalnya, kita bisa melihat adanya kemungkinan paradoks atau miskonsepsi dari cara kita menafsirkan kisah ini dari generasi ke generasi. Kita akan melihat setiap karakternya sebagai sebuah personifikasi dari hubungan antara manusia dan alam, khususnya konservasi sungai.

Pada mulanya, Mbok Srini hanyalah representasi dari manusia yang berjuang untuk bertahan hidup. Ia mengharapkan bantuan pada sungai agar kehidupannya tetap berjalan. Buto Ijo, sebagai personifikasi dari sungai, memberikan kehidupan pada manusia dan pada dasarnya hanya ingin manusia menjaganya. Sayangnya, Mbok Srini adalah manusia yang munafik, ingkar, tidak tahu diri, dan egois. Sifat ini terefleksi kuat pada Timun Mas, yang merupakan personifikasi dari karakter manusia yang dilahirkan dari harapan hidup yang telah terpenuhi. Bukannya bersyukur dan menjaga alam yang menghidupinya, setelah kebutuhan hidupnya terpuaskan, Timun Mas bersama Mbok Srini justru berbalik melawan dan merugikan sungai.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di sisi lain, kehadiran tokoh Pertapa Sakti merupakan personifikasi dari Yang Maha Kuasa. Sang Pertapa memberikan empat senjata kepada Timun Mas, yang sebenarnya merujuk pada empat komponen ekosistem sungai. Yang Maha Kuasa memberi kuasa pada manusia untuk mengendalikan empat komponen ekosistem tersebut. Senjata-senjata ini dititipkan bukan untuk melawan sungai, melainkan sebagai sebuah ujian bagi manusia: apakah mereka bisa benar-benar menjaga kelestarian ekosistem sungai tersebut atau tidak?

  1. Biji mentimun: Merupakan benih vegetasi riparian. Ekosistem ini berfungsi untuk memperlambat arus sungai agar riaknya lebih tenang, sebagai tempat hidup para ikan, dan menyaring pencemaran.
  2. Jarum: Merupakan simplifikasi dari hutan bambu di tepi sungai. Keberadaan hutan bambu ini berfungsi vital untuk menyimpan cadangan air.
  3. Garam: Merupakan mineral yang terkandung dalam sungai. Manusia diberi kuasa untuk mengendalikan jumlah mineral dalam air sungai. Terlalu banyak membuang zat ke sungai akan menyebabkan pencemaran, sementara terlalu sedikitnya mineral terjadi ketika hujan terlalu lebat sebagai akibat dari krisis pemanasan global.
  4. Terasi: Merupakan representasi dari ikan, udang, dan biota sungai lainnya.
BACA JUGA:  100 Persen Sampel Kulit di Gresik Ditemukan Terpapar Mikroplastik dalam Uji Mahasiswa K3

Puncak tragedi dari kisah ini terjadi di akhir cerita. Timun Mas (sebagai karakter manusia) gagal melewati ujian dari Pertapa Sakti. Alih-alih merawat dan menggunakan keempat komponen ekosistem tersebut untuk merawat sungai, ia justru membuangnya begitu saja demi menyelamatkan dirinya sendiri. Sikap egois dan eksploitatif inilah yang pada akhirnya membuat sungai (Buto Ijo) murka, meluap, dan tidak dapat lagi bekerja sebagai sebuah ekosistem yang sehat.

Pada akhirnya, pelarian Timun Mas bukanlah sebuah kisah kemenangan manusia atas raksasa jahat, melainkan sebuah ironi tentang bagaimana keserakahan manusia secara perlahan menghancurkan ekosistem sungai yang sebelumnya telah memberi mereka kehidupan. Tenggelamnya Buto Ijo dalam lautan lumpur mendidih di akhir cerita seharusnya tidak lagi dirayakan sebagai kekalahan sang antagonis, melainkan direnungi sebagai simbol matinya ekosistem yang berujung pada bencana ekologis, seperti banjir bandang dan tanah longsor. Melalui lensa baru ini, Timun Mas adalah sebuah peringatan keras: jika kita terus membuang dan merusak instrumen alam alih-alih merawatnya, kitalah yang sejatinya sedang menggali kubur bagi peradaban kita sendiri.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *