- Kali Tebu kembali dipenuhi sampah setelah hujan pertama akhir Oktober 2026. Tim MOZAIK dan DLH Surabaya mengevakuasi 7,5 ton sampah selama tiga hari dari trash boom yang penuh dan belum selesai.
- Akumulasi sampah yang berhasil dievakuasi dari trash boom Kali Tebu mencapai sekitar 130 hingga 133 ton. Angka tersebut menunjukkan persoalan sampah sungai masih membutuhkan penanganan berkelanjutan, serius, dan melibatkan banyak pihak.
- Sebanyak 83 hingga 84 persen sampah Kali Tebu merupakan residu sulit didaur ulang. Popok sekali pakai menjadi material terbanyak, mencapai 30,5 ton atau sekitar 32,4 persen dari keseluruhan sampah terpilah.
- Manajer Evakuasi Sampah Heri Purnomo menyebut tumpukan sampah yang terus berulang menjadi peringatan bagi semua pihak. Ia menilai kesadaran masyarakat dan pengawasan lingkungan perlu diperkuat, terutama oleh pemerintah kota setempat.
- Heri Purnomo menyoroti masih adanya pembuang sampah di Kali Tebu serta sanksi yang dinilai kurang tegas. Kondisi tersebut menjadi alasan klaim sungai sudah bersih perlu dipertanyakan berdasarkan kondisi lapangan yang terlihat.
Artikel sebagai bagian dari Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) yang digagas Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Didukung UNDP Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Pemerintah Kota Surabaya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Kementerian Lingkungan Hidup, Clean Rivers, dan Emirates Foundation, sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat di kawasan Kali Tebu, Surabaya.
JIKA ada pihak yang mengklaim bahwa Kali Tebu di Surabaya sudah bersih, klaim tersebut dapat dipastikan tidak benar. Faktanya, kondisi sungai masih dipenuhi kotoran.
Hal ini masih terlihat jelas ketika hujan pertama mengguyur pada Oktober 2026. Tumpukan sampah beraneka jenis kembali menyerbu dan memenuhi alat penyaring sampah (trash boom) yang dipasang oleh tim Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) bentukan Ecoton.
Volume sampah yang mencemari aliran air ini pun terbilang sangat masif. Berdasarkan catatan MOZAIK, akumulasi sampah di trash boom yang berhasil dievakuasi secara keseluruhan bahkan telah mencapai kisaran 130 hingga 133 ton.
“Hujan pertama di akhir Oktober 2026 menyisakan sampah di Kali Tebu. Sudah 3 hari evakuasi sejak tanggal 28 Oktober yang dilakukan Tim MOZAIK dan tim saluran dari DLH Kota Surabaya, mencapai 7,5 ton sampah dan belum juga kelar sampai siang ini, 30 Oktober 2026.”
Manajer Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin, mengungkapkan bahwa gelombang sampah langsung membludak seiring turunnya hujan pertama di penghujung Oktober 2026.
“Hujan pertama di akhir Oktober 2026 menyisakan sampah di Kali Tebu. Sudah 3 hari evakuasi sejak tanggal 28 Oktober yang dilakukan Tim MOZAIK dan tim saluran dari DLH Kota Surabaya, mencapai 7,5 ton sampah dan belum juga kelar sampai siang ini, 30 Oktober 2026,” ucap Amiruddin.
Ia menegaskan bahwa persoalan ini membutuhkan penanganan yang jauh lebih serius. Klaim sepihak yang menyatakan sungai sudah bersih sama sekali tidak mencerminkan realitas di sungai sesungguhnya.
“Kami masih terus berupaya, bagaimana penanganan Kali Tebu ini sebagai sungai yang bersih, enak dilihat, dan tentu saja kalau sudah bersih memiliki daya guna fungsi sungai,” tambahnya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

Didominasi Residu Sulit Didaur Ulang
Hasil pemilahan material yang dilakukan tim di sungai menunjukkan fakta memprihatinkan. Komposisi sampah di Kali Tebu didominasi limbah residu yang sangat sulit diurai, dengan persentase mencapai 83 hingga 84 persen.
Dari total keseluruhan sampah yang berhasil diangkat, jenis material yang paling mendominasi meliputi, popok sekali pakai, menjadi penyumbang terbanyak dengan total mencapai 30,5 ton atau sekitar 32,4% dari keseluruhan sampah terpilih. Kantong plastik kresek, botol plastik sekali pakai, styrofoam dan sampah organik.
Menanggapi situasi ini, Manajer Evakuasi Sampah, Heri Purnomo mengingatkan, tumpukan sampah yang terus berulang ini, menjadi peringatan bagi semua pihak. Pengelolaan dan kebersihan alur sungai di Surabaya mutlak memerlukan perhatian serta komitmen bersama, baik dari kesadaran masyarakat maupun pengetatan pengawasan lingkungan.

“Tumpukan sampah seperti ini, terus berulang ini. Bentuk peringatan semua pihak. Pengelolaan dan kebersihan alur sungai di Surabaya ini, mutlak memerlukan perhatian serta komitmen bersama, baik dari kesadaran masyarakat maupun pengetatan pengawasan lingkungan. Dalam hal ini Pemkot Surabaya, “ ujar Heri.
Heri menambahkan, tanpa keterlibatan semua pihak akan sulit membersihkan Kali Tebu. Selama ini dalam penilain Heri masih kurang tegasnya Pemkot dalam meberi hukuan terhadap pelaku pembuang sampah di Kali Tebu.
“Masih adanya pembuang sampah di Kali tebu dan kurang tegasnya sanksi yang diberikan Pemkot. Artinya, melihat kondisi seungai yang masih dipenuhi sampah, siapapun tidak boleh mengklaim Kali Tebu sudah bersih, “ tandas Heri. ***