Lewati ke konten

Sharon: “Saya Baru Sadar Kondisi Kali Surabaya Memprihatinkan”

| 7 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 15 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Magang di ECOTON mengubah cara pandang Sharon terhadap Kali Surabaya, dari teori kampus menjadi kenyataan yang memprihatinkan.

DI ruang kelas, kualitas air kerap muncul dalam bentuk angka, grafik, dan rumus. Namun bagi Sharon Rosearly Dwijaya, mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya, Arek Suroboyo ini, pemahaman itu berubah. Begitu berdiri di tepian Kali Surabaya. Sungai selama ini dikenalnya sebagai sumber air baku. Ternyata menyimpan persoalan jauh lebih kompleks daripada yang ia bayangkan.

Indonesia memang dianugerahi potensi sumber daya air melimpah. Mencapai sekitar 3.900 miliar meter kubik per tahun. Namun, besarnya potensi itu dibayangi berbagai tantangan: pencemaran limbah domestik dan industri hingga kerusakan ekosistem sungai.

Berangkat dari kegelisahan, Sharon memilih menjalani program magang di ECOTON. Ia merasakan langsung bagaimana penelitian lapangan dilakukan, sekaligus memahami bagaimana data ilmiah dapat menjadi dasar perjuangan menyelamatkan lingkungan.

Selama magang, ia terlibat dalam pengambilan sampel air, pengukuran kualitas air, analisis mikroplastik, hingga edukasi kepada masyarakat. Pengalaman itu membawanya menyaksikan secara langsung kondisi Kali Surabaya, sungai yang memasok air bagi ratusan ribu warga, tetapi kualitasnya telah mengalami penurunan akibat tekanan pencemaran.

Dalam wawancara berikut, Sharon berbagi cerita tentang pengalaman turun ke lapangan, tantangan meneliti sungai, makna hasil penelitian bagi masyarakat, serta harapannya agar Kali Surabaya dapat kembali menjadi sungai yang sehat bagi generasi mendatang.

Sharon Rosearly Dwijaya mempresentasikan hasil penelitian kualitas air Kali Surabaya selama program magang di ECOTON | Foto: Supriyadi

Bisa memperkenalkan diri?

Nama saya Sharon Rosearly Dwijaya, asal Surabaya.

Alasan saya memilih MSP karena saya ingin memahami lebih dalam tentang kondisi perairan di Indonesia. Indonesia memiliki potensi perairan yang sangat besar, tetapi juga menghadapi banyak permasalahan seperti pencemaran, dan kerusakan ekosistem. Maka dari itu saya ingin memahami lebih dalam mengenai kebijakan perairan yang ada.

Kalau tidak salah dalam hitungan saya, Indonesia memiliki potensi sumber daya air sekitar 3.900 miliar meter kubik per tahun, namun baru 20–25 persen yang dimanfaatkan. Potensi ini didukung curah hujan 2.500 mm per tahun, ribuan sungai, danau, rawa, air tanah, serta potensi PLTA mencapai 75 gigawatt (GW).

Belum lagi untuk sektor pertanian (Irigasi), menyerap 80% dari total air yang dimanfaatkan. Air Baku & Industri, menyerap 20% sisanya (untuk rumah tangga, perkotaan, dan manufaktur).

Itu mohon dikoreksi kalau salah ya?

Ya. Mengapa memilih magang di ECOTON?

Saya tertarik magang di ECOTON berdasarkan pengalaman kakak tingkat saya. Mereka banyak bercerita tentang kegiatan di lapangan, mulai dari penelitian mikroplastik, pengukuran kualitas air, sampai melakukan audiensi dan menyampaikan hasil temuan kepada pemerintah dan masyarakat. menurt saya itu pengalaman yang keren karena tidak hanya belajar penelitian. Tetapi saya banyak juga belajar bagaimana ilmu bisa digunakan untuk memperjuangkan kondisi lingkungan. Sehingga hal itu menjadi suatu ketertarikan sendiri bagi saya

Apa kesan pertama ketika melihat langsung kondisi Kali Surabaya?

Sebagai orang Surabaya asli, saya cukup sedih dan elus dada melihat kondisi Kali Surabaya. Selama ini saya hanya mendengar kalau sungainya tercemar. Tetapi ketika melihat sendiri dan mengetahui hasil pengukuran kualitas airnya, saya baru sadar kondisinya memang cukup memprihatinkan. Padahal sungai ini merupakan sumber air baku bagi masyarakat Surabaya.

Sharon Rosearly Dwijaya berdiri bersama tim saat pengambilan sampel air di Kali Surabaya | Dok Pribadi

Selama magang, kegiatan apa saja yang paling sering Anda lakukan?

Selama magang saya banyak melakukan pengambilan sampel air, pengukuran kualitas air di lapangan, analisis mikroplastik di laboratorium, memberikan edukasi ke sekolah-sekolah tentang mikroplastik dan lingkungan, serta berdiskusi bersama tim mengenai kondisi sungai dan permasalahan sampah plastik.

Penelitian menunjukkan kadar Dissolved Oxygen (DO) Kali Surabaya hanya 2–3 mg/L, jauh di bawah baku mutu kelas I sebesar ≥6 mg/L. Apa makna angka tersebut bagi masyarakat awam?

Kalau dijelaskan secara sederhana, angka itu menunjukkan bahwa oksigen yang tersedia di dalam air sangat sedikit. Padahal oksigen dibutuhkan oleh ikan dan organisme air untuk hidup. Semakin rendah kadar DO, semakin buruk kualitas airnya. Jadi, kondisi ini menunjukkan kalau Kali Surabaya sedang mengalami pencemaran yang cukup serius dan ekosistem di dalamnya juga ikut terdampak.

Bagaimana proses pengambilan sampel di sembilan titik, mulai Mlirip, Mojokerto hingga Karang Pilang, Surabaya?

Untuk pengambilan sampel mikroplastik kami menggunakan saringan filter mesh untuk menyaring air. Sedangkan pengukuran kualitas air dilakukan secara langsung menggunakan multimeter untuk mengukur parameter di setiap titik

Apa tantangan terbesar saat melakukan pengambilan sampel di lapangan?

Tantangan terbesar adalah arus sungai yang luamyan deras sehingga proses pengambilan sampel harus dilakukan dengan hati-hati. Selain itu, beberapa lokasi memiliki akses yang sulit karena kondisi jalan menuju sungai sudah ambles atau cukup curam, sehingga membutuhkan tenaga dan kehati-hatian lebih.

Dari hasil observasi, apa saja sumber pencemaran yang paling banyak Anda temukan?

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sumber pencemaran yang paling banyak saya temukan berasal dari limbah domestik dan limbah industri. Selain itu, sampah plastik dan popik yang terbawa aliran sungai juga masih banyak ditemukan.

Bagaimana limbah industri, limbah domestik, dan pemanfaatan sempadan sungai memengaruhi kualitas air?

Limbah-limbah tersebut membuat kualitas air menurun karena menambah beban pencemar di sungai. Akibatnya kadar oksigen terlarut bisa menurun, air menjadi lebih keruh, bahkan dapat mengganggu kehidupan organisme di dalam sungai. Pemanfaatan sempadan sungai yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan juga membuat kondisi sungai semakin rentan terhadap pencemaran.

Apa pengalaman paling berkesan selama melakukan penelitian di Kali Surabaya?

Pengalaman yang paling berkesan  ketika melihat sendiri kondisi sungai yang selama ini hanya saya pelajari di kelas. Saya juga ikut menganalisis mikroplastik yang ternyata jumlahnya cukup banyak di beberapa titik pengambilan sampel. Dari situ saya sadar bahwa pencemaran itu nyata dan dampaknya benar-benar terjadi di sekitar kita.

Adakah peristiwa yang mengubah cara pandang Anda terhadap kondisi sungai di Indonesia?

Ada. Ketika mengetahui bahwa sungai yang menjadi sumber air masyarakat ternyata kualitasnya sudah jauh menurun, saya jadi semakin sadar bahwa menjaga sungai bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kita semua.

Sebagai mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan, apa pelajaran paling penting yang Anda peroleh dari magang di ECOTON?

Saya belajar bahwa ilmu yang dipelajari di kampus harus dibuktikan langsung di lapangan. Saya juga belajar bagaimana melakukan penelitian, mengolah data, menyampaikan hasil kepada masyarakat, dan memahami bahwa menjaga lingkungan membutuhkan kerja sama dari banyak pihak khususnya pemerintah.

Sharon Rosearly Dwijaya menjelaskan dampak mikroplastik terhadap kesehatan dan lingkungan kepada siswa SMP Islam Tanwirul Afkar. | Foto: Fully Syafi

Kali Surabaya menjadi sumber air baku bagi sekitar 632 ribu sambungan pelanggan PAM Surya Sembada. Apa yang Anda rasakan ketika mengetahui kualitas air sungai ini sudah tidak memenuhi baku mutu kelas I?

Saya cukup prihatin karena sungai ini menjadi sumber air bagi ratusan ribu masyarakat. Artinya, kualitas sungai sangat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Menurut saya kondisi ini harus menjadi perhatian bersama agar kualitas air dapat terus diperbaiki sebelum dampaknya semakin besar.

Menurut Anda, siapa yang memiliki tanggung jawab terbesar untuk memulihkan Kali Surabaya?

Menurut saya semua pihak memiliki tanggung jawab. Pemerintah bergerak untuk membuat dan menegakkan aturan, industri harus mengelola limbahnya dengan baik sebelum dibuang ke sungai, sedangkan masyarakat juga harus berhenti membuang sampah sembarangan. Kalau hanya satu pihak yang bergerak, kapan pulihnya kali surabya

Bagaimana pengalaman bekerja bersama tim peneliti, relawan, dan aktivis lingkungan selama magang?

Saya senang karena banyak belajar dari orang-orang yang memang sudah lama berkecimpung di bidang lingkungan. Mereka sangat open dalam berbagi knowledge dan experience, sehingga saya tidak  belajar soal penelitian saja tetapi juga cara menyampaikan isu lingkungan kepada masyarakat.

Apa nilai yang paling Anda pelajari dari kolaborasi tersebut?

Saya belajar bahwa perubahan tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan kerja sama, komunikasi, dan kepedulian dari banyak orang agar upaya menjaga lingkungan bisa memberikan dampak yang lebih besar.

Setelah terjun langsung ke lapangan, apakah ada perubahan kebiasaan pribadi terkait penggunaan plastik, pengelolaan sampah, atau konsumsi air?

Ada. Sekarang saya lebih berusaha mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa tumbler.

Apa harapan Anda terhadap masa depan Kali Surabaya dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan?

Saya berharap kualitas air Kali Surabaya bisa terus membaik sehingga kembali memenuhi baku mutu. Saya juga ingin melihat sungai yang lebih bersih, jumlah sampah plastik yang jauh berkurang, serta masyarakat yang semakin peduli dan ikut menjaga sungai, bukan hanya memanfaatkannya.

Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada generasi muda agar lebih peduli terhadap sungai dan lingkungan?

Menurut saya, jangan menunggu jadi ahli lingkungan dulu untuk mulai peduli. Hal-hal kecil seperti mengurangi plastik sekali pakai, tidak membuang sampah sembarangan, dan ikut kegiatan bersih sungai sudah menjadi langkah yang berarti. Anak muda punya peran penting karena kita adalah generasi yang akan merasakan dampak kondisi lingkungan di masa depan. Kalau bukan kita yang mulai peduli dari sekarang, siapa lagi yang akan menjaga sungai untuk generasi berikutnya?***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *