- Air Kali Pelayaran tampak jernih, tetapi hasil uji mengungkap pencemaran yang tak terlihat oleh mata manusia.
- Sungai rapi bukan berarti sehat, pengujian menemukan oksigen rendah serta amonia dan fosfat dalam kadar tinggi.
- Dari hulu hingga hilir, kualitas Kali Pelayaran terus berubah dipengaruhi limbah domestik, industri, dan pendangkalan sungai.
- Eceng gondok, arus melambat, dan pencemar yang menumpuk menunjukkan hilir Kali Pelayaran semakin kehilangan daya pulih alami.
- Pengamatan tiga segmen membuktikan ancaman Kali Pelayaran berasal dari banyak sumber, bukan satu penyebab saja.
Penulis: Alif Camelia Febian merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya. Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan program Studi Independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) yang berlangsung pada 13 Juli–24 Agustus 2026.
SEKILAS, Kali Pelayaran tampak baik-baik saja. Bantaran sungai sudah dibeton, aliran terlihat tertata, dan di beberapa bagian airnya masih tampak jernih. Namun, setelah menyusuri sungai dari hulu hingga hilir, terlihat bahwa kondisi setiap segmennya tidak sama. Perbedaan itu bukan hanya terlihat dari perubahan lanskap di sekitar sungai, tetapi juga dari hasil pengukuran air.
Di Desa Penambangan, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, arus sungai masih deras. Airnya pun terlihat lebih jernih dibandingkan dua lokasi pengamatan lainnya. Sekilas, bagian ini tampak sebagai segmen dengan kondisi terbaik.
Namun, kawasan di sekitarnya merupakan area yang cukup padat. Permukiman, sekolah, pasar, hingga jalan utama yang menghubungkan kawasan permukiman dengan pusat kegiatan ekonomi dan industri berada tidak jauh dari aliran sungai. Selain itu, terdapat indikasi bahwa kualitas air di titik ini juga dipengaruhi oleh aliran yang berasal dari bagian sungai sebelum memasuki Kali Pelayaran.

#DO Rendah Amonia Tinggi
Hasil pengujian menunjukkan gambaran yang berbeda. Konsentrasi DO di hulu hanya mencapai rata-rata 3,17 mg/L, terendah dibandingkan dua titik lainnya. Sebaliknya, kadar amonia dan fosfat justru menjadi yang tertinggi, masing-masing mencapai rata-rata 5,13 mg/L dan 3,13 mg/L.
Temuan ini menunjukkan bahwa kejernihan air tidak selalu mencerminkan kualitas air. Amonia dan fosfat merupakan senyawa terlarut sehingga tidak mengubah warna air. Tingginya kedua parameter tersebut mengindikasikan adanya masukan unsur nitrogen dan fosfor yang diduga berasal dari aktivitas domestik, saluran drainase yang bermuara ke sungai, serta beban pencemar yang telah terbawa dari aliran sebelum titik pengamatan.
Semakin ke hilir, suasana sungai mulai berubah. Memasuki Desa Barengkrajan, arus tidak lagi sederas di hulu. Permukiman semakin rapat, kawasan industri mulai bermunculan, dan saluran drainase masih bermuara ke sungai. Pada bagian aliran sebelum titik pengamatan juga terdapat keramba jaring apung. Di beberapa bagian mulai tumbuh vegetasi air, meskipun sampah masih terlihat di bantaran.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPerubahan kondisi tersebut diikuti oleh perubahan kualitas air. Konsentrasi nitrit meningkat hingga rata-rata 0,273 mg/L, hampir empat kali lebih tinggi dibandingkan bagian hulu. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa proses transformasi senyawa nitrogen berlangsung lebih intensif. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh bertambahnya masukan bahan organik dari aktivitas domestik, kawasan industri, dan budidaya perikanan di sepanjang aliran.
#Hilir Kehilangan Daya Pulih
Perjalanan berlanjut ke Desa Tanjungsari, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo. Di bagian ini arus sungai hampir tidak bergerak. Lanskap di sekitarnya juga berubah. Permukiman masih ada, tetapi persawahan lebih mendominasi. Pendangkalan terlihat di beberapa titik, sementara eceng gondok menutupi sebagian besar permukaan sungai.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan di hilir bukan hanya berasal dari masuknya pencemar, tetapi juga dari perubahan karakter sungai itu sendiri. Arus yang semakin lambat membuat kemampuan sungai mengalirkan dan memulihkan beban pencemar menjadi semakin terbatas.

#Dominasi Eceng Gondok
Pengamatan di tiga segmen tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap Kali Pelayaran tidak berasal dari satu sumber. Hulu menerima pengaruh aktivitas kawasan padat dan beban pencemar dari aliran sebelumnya.
Di bagian tengah, tekanan bertambah karena adanya kawasan industri dan aktivitas budidaya perikanan. Sementara di hilir, pendangkalan, arus yang hampir berhenti, serta dominasi eceng gondok menjadi tantangan tersendiri bagi kondisi sungai.
Penataan bantaran memang penting untuk menjaga kestabilan sungai. Namun, hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa upaya tersebut belum cukup jika tidak diikuti dengan pengendalian sumber pencemar di sepanjang aliran. Kualitas sungai tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisiknya, tetapi juga oleh bagaimana aktivitas di sekitarnya dikelola.***