Lewati ke konten

Kerusakan Ekologis Hulu hingga Hilir Memperberat Beban Pencemaran DAS Brantas

| 4 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 6 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Erosi, sedimentasi, dan sampah padat memperparah krisis ekologis Daerah Aliran Sungai Brantas.
  • Sektor pertanian menyumbang beban BOD sebesar 870,6 ribu kilogram per hari ke sungai.
  • Sedimentasi tinggi memicu pendangkalan berat pada infrastruktur air seperti Bendungan Sengguruh.
  • Pengusulan infrastruktur hijau dan koridor vegetasi menjadi solusi penahan limpasan permukaan.
  • Pemulihan Brantas memerlukan tata kelola berbasis DAS secara menyeluruh dari hulu.

KRISIS ekologis yang melanda Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas berkembang dari persoalan kelembagaan menuju kerusakan lingkungan komprehensif. Erosi, sedimentasi, perubahan tutupan lahan, pertanian intensif, pertambangan pasir, serta sampah padat memperbesar tekanan ekologis sungai dari hulu hingga hilir.

Rangkaian temuan ini dipaparkan mahasiswa lintas perguruan tinggi dalam kegiatan riset bersama Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Materi riset berjudul “Tantangan dan Aksi Prioritas Brantas: Transformasi Sektor Pertanian dan Peternakan, Restorasi Ekosistem Sungai, serta Penanganan Krisis Sampah”, disusun Maulidatul Ula Bahari dari Universitas Muhammadiyah Jember, serta Azmi Latifatul Artantiwi dan Saidatul Rohmah dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

“Peningkatan sedimentasi menyebabkan pendangkalan sungai dan waduk serta penurunan fungsi badan air,” jelas Azmi Latifatul Artantiwi saat memaparkan temuannya di Naturalis Kafe Ecoton, Selasa, (11/8/2026).

Maulidatul Ula Bahari menguraikan hasil riset mengenai sumber beban pencemaran dan strategi pengelolaan DAS Brantas. | Foto: MedCom Ecoton/Erica Damayanti

#Pertanian Intensif dan Sedimentasi Menggerus Sungai

Sementara, Maulidatul Ula Bahari menguraikan, limpasan air dari lahan pertanian membawa pupuk dan pestisida kimia dalam jumlah besar menuju aliran sungai. Data riset menunjukkan kontribusi Biochemical Oxygen Demand (BOD), sektor pertanian mencapai sekitar 870.675 kilogram per hari.

“Pengendalian tidak cukup dilakukan setelah bahan pencemar masuk ke sungai. Intervensi perlu dilakukan sejak dari sumbernya,” tegas Ula, sapaan Maulidatul Ula Bahari.

Kondisi ini, kata dia, menuntut penerapan pertanian berkelanjutan. serta pembuatan zona penyangga vegetasi. Hal ini untuk menahan limpasan bahan kimia berbahaya. Di sisi lain, erosi tanah yang parah memicu laju sedimentasi tinggi di sepanjang aliran sungai.

“Sedimen tanah tidak hanya memperkeruh air, tetapi juga mengangkut residu logam berat dan pestisida ke badan air,” ucap Ula.

Sungai Brantas membelah kawasan permukiman padat warga. Di balik alirannya, pencemaran terus membayangi, sementara pengawasan dan penanganannya dipertanyakan. | Foto: Ecoton

Dampak akumulasi material ini, lanjut Ula, terlihat nyata pada pendangkalan Bendungan Sengguruh yang mengancam fungsi penampungan air bersih. Empat aktivitas utama pemicu sedimentasi mencakup pertanian intensif, deforestasi, pertambangan, dan pembangunan tidak terkendali.

“Guna menekan laju erosi dari kawasan hulu, kami merekomendasikan reforestasi lahan kritis dan pengembangan sistem agroforestri. Rehabilitasi tutupan vegetasi pada awal musim hujan efektif untuk meningkatkan infiltrasi air ke tanah. Perlindungan kawasan sempadan sungai harus diprioritaskan sebagai zona penyangga alami dari aktivitas manusia,” urai Ula.

#Infrastruktur Hijau dan Penataan Sempadan

Kajian ini juga menawarkan konsep green infrastructure atau infrastruktur hijau, sebagai solusi teknis penanganan limpasan permukaan. Vegetasi penutup tanah, rain garden, bioretention basin, dan vegetated swale diusulkan untuk menyaring polutan serta mencegah erosi daratan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Pengembangan community green corridor dapat menghubungkan ruang terbuka hijau dengan jalur pejalan kaki sekaligus sistem pengelolaan air,” ujar Saidatul Rohmah yang akrab disapa Ima ini.

Selain penataan vegetasi, Ima meminta pemerintah memperketat pengawasan aktivitas pertambangan pasir dan mineral di sepanjang sungai. “Inspeksi berkala dan penegakan hukum harus diterapkan secara tegas terhadap kegiatan tambang ilegal,” ungkap Ima.

Program reforestasi sempadan, tambah Ima, perlu diukur menggunakan indikator persentase kenaikan tutupan lahan yang jelas. Indikator keberhasilan ini penting agar program lingkungan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.

“Evaluasi berkala berbasis data lapangan mutlak diperlukan untuk memastikan kawasan konservasi berfungsi optimal,” tandas Ima.

Aksi Sherly Cleodora Elshada, mahasiswa Universitas Brawijaya, membawa poster seruan perlindungan DAS Brantas dalam  kampanye lingkungan. | Foto: M Iffan

#Pengelolaan Sampah dan Solusi Berbasis DAS

Persoalan sampah padat, kata mereka terutama limbah plastik, memperburuk kondisi ekologis dan meningkatkan biaya perawatan infrastruktur air. Tingginya volume sampah yang dibuang ke saluran drainase membuat sungai berfungsi sebagai jalur pembawa sampah menuju wilayah pesisir.

“Tidak cukup hanya meminta masyarakat tidak membuang sampah ke sungai jika layanan pengumpulan sampah tidak tersedia,” tegas Tanti, sapaan Azmi Latifatul Artantiwi ini.

Oleh karena itu, ia mengjaka pemerintah daerah untuk menyediakan fasilitas TPS 3R dan mengaktifkan kembali unit bank sampah di kawasan pedesaan. Penyediaan layanan pengangkutan sampah yang teratur menjadi kunci utama agar warga tidak lagi membuang sampah ke sungai. “Kampanye edukasi pemilahan sampah harus berjalan sejajar dengan penyediaan sarana pengolahan limbah padat yang memadai,” tambah Tanti.

Pemasangan jaring penangkap sampah di saluran drainase dan pemetaan titik pembuangan ilegal oleh komunitas dapat membantu langkah pembersihan. Pemulihan Brantas pada akhirnya membutuhkan pendekatan tata kelola berbasis DAS secara terpadu.

“Penghentian pencemaran langsung dari sumbernya jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar membersihkan air di kawasan hilir,” pungkas Ima. ***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *