Lewati ke konten

SOSOK: Zilva Sianipar Langkahi Dinding Kampus, Urai Pencemaran dan Suarakan Hak Sungai

| 6 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 6 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Zilva memilih magang di ECOTON untuk menguji teori kampus melalui pengalaman langsung menyusuri sungai tercemar.
  • Menyusuri sungai mengubah pandangan Zilva tentang pencemaran yang ternyata nyata, kompleks, dan dekat masyarakat.
  • Zilva meneliti kualitas Kali Surabaya di sekitar pabrik kertas menggunakan metode Indeks Pencemaran.
  • Melihat langsung pencemaran membuat Zilva memahami pentingnya data, pemantauan, dan keterlibatan masyarakat menjaga sungai.
  • Dari lapangan hingga Gakkum KLH, Zilva belajar mahasiswa dapat menyuarakan temuan pencemaran kepada pemerintah.

TEORI di dalam kelas sering kali terasa jaraknya cukup jauh dari realitas di lapangan. Hal itu dirasakan betul oleh Zilva May Yiswa Sianipar, mahasiswa semester 7 Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya asal Bekasi ini. Tak ingin cuma selesai di lembar kertas ujian, ia memilih magang di ECOTON dan langsung terjun menyusuri aliran sungai.

Di sana, Zilva melihat sendiri seperti apa rupa pencemaran yang selama ini cuma dibahas di kampus. Mulai dari mengamati perubahan warna air, mengobrol dengan warga di pinggir sungai, sampai menyusun riset berjudul “Analisis Status Air Mutu Kali Surabaya di Sekitar Pabrik Kertas Berdasarkan Metode Indeks Pencemaran”. Pengalamannya tak berhenti di riset saja; Zilva bahkan ikut melangkah ke kantor Balai Penegakan Hukum (Gakkum) KLH untuk menyampaikan temuan lapangan secara langsung.

Simak obrolan santai TitikTerang bersama Zilva tentang refleksinya turun ke lapangan, cerita di balik risetnya, dan bagaimana pengalaman ini mengubah cara pandangnya sebagai mahasiswa perairan. Yang disusun, Rabu, 12 Agustus 2026. [*]

Zilva Sianipar dan Sayidina Allisyiah Khanza, teman seangkatan dan satu prodi, menjalani praktik lapangan di ECOTON setelah mengambil sampel air Kali Surabaya. | Dok.

Bisa memperkenalkan diri secara lengkap—nama, asal daerah, usia, dan saat ini sedang menempuh semester berapa di Universitas Brawijaya?

Saya Zilva May Yiswa Sianipar, berasal dari Kota Bekasi, saat ini berusia 22 tahun dan sedang menempuh semester 7 di Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya.

Mengapa Anda memilih Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan? Apa yang sejak awal membuat Anda tertarik mempelajari ekosistem perairan?

Saya tertarik dengan lingkungan perairan dan ingin memahami bagaimana sumber daya perairan bisa dikelola dengan baik, terutama karena kondisi perairan sangat berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan ekosistem.

Apa yang membuat Anda memilih ECOTON sebagai tempat magang? Apa yang Anda harapkan ketika pertama kali bergabung?

Saya memilih ECOTON karena ingin mendapatkan pengalaman langsung mengenai permasalahan lingkungan, khususnya pencemaran sungai. Saya juga ingin belajar bagaimana teori yang saya dapatkan di kampus diterapkan langsung di lapangan.

Sebelum menjalani magang, bagaimana pandangan Anda terhadap persoalan pencemaran sungai di Indonesia? Apakah pandangan itu berubah setelah terjun langsung ke lapangan?

Sebelumnya saya melihat pencemaran sungai sebagai masalah lingkungan yang cukup umum. Setelah terjun langsung, saya jadi lebih sadar bahwa dampaknya nyata dan kompleks, serta berkaitan dengan aktivitas industri, masyarakat, dan kondisi lingkungan sekitar.

Selama magang, kegiatan atau pengalaman apa yang paling berkesan bagi Anda? Mengapa pengalaman tersebut begitu membekas?

Yang paling berkesan adalah kegiatan turun langsung ke lapangan dan menyusuri sungai. Karena saya bisa melihat kondisi sungai secara langsung, bukan hanya mempelajarinya dari teori.

Anda juga terlibat dalam kegiatan menyusuri sungai. Apa yang Anda lihat dan rasakan ketika berada langsung di sungai dan melihat kondisi lingkungan dari dekat?

Bersama Novearly Tria Azahra, Zilva bersiap menyampaikan hasil susur Kali Surabaya. | Foto: Supriyadi

Saya melihat bahwa kondisi sungai di beberapa lokasi cukup memprihatinkan, terutama dari adanya sampah dan indikasi pencemaran. Rasanya cukup miris karena sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru banyak mendapat tekanan dari aktivitas manusia.

Dari berbagai persoalan yang Anda temukan ketika menyusuri sungai, apa yang menurut Anda paling mengkhawatirkan: sampah, limbah industri, kondisi sempadan, atau rendahnya kesadaran masyarakat?

Menurut saya semuanya saling berkaitan, tetapi yang cukup mengkhawatirkan adalah rendahnya kesadaran karena dapat memicu munculnya masalah lain seperti pembuangan sampah dan limbah secara sembarangan.

Sebagai mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan, bagaimana Anda membaca kondisi sungai yang mengalami pencemaran? Apa indikator yang menurut Anda paling menunjukkan bahwa sungai sedang berada dalam tekanan?

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Saya melihatnya dari perubahan kondisi fisik, kimia, dan biologis air. Misalnya perubahan warna atau bau air, rendahnya DO, tingginya bahan pencemar, serta berkurangnya biota yang hidup di sungai.

Dalam kegiatan lapangan, Anda tidak hanya melakukan pengamatan tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat. Apa yang Anda pelajari dari percakapan dengan warga yang tinggal di sekitar sungai?

Saya belajar bahwa masyarakat memiliki pengalaman dan pengetahuan langsung mengenai kondisi sungai. Dari mereka, saya juga memahami bahwa permasalahan sungai tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan aktivitas dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Bersama Alif Camelia Febian dan Sherly Cleodora Elshada, usai mengadukan pencemaran DAS Brantas ke Gakkum. | Foto: M. Iffan

Apa judul penelitian yang sedang atau akan Anda kerjakan selama masa studi/magang? Mengapa Anda memilih topik tersebut?

judul penelitian saya adalah “Analisis Status Air Mutu Kali Surabaya di Sekitar Pabrik Kertas Berdasarkan Metode Indeks Pencemaran” Saya tertarik mengambil topik yang berkaitan dengan kualitas air dan pencemaran karena sesuai dengan bidang yang saya pelajari dan permasalahan yang saya temui selama kegiatan lapangan.

Apa alasan ilmiah dan persoalan lapangan yang membuat Anda tertarik mengambil topik penelitian tersebut?

Karena pencemaran dapat memengaruhi kualitas air dan kehidupan organisme perairan. Di lapangan juga masih banyak ditemukan aktivitas yang berpotensi memberikan tekanan terhadap ekosistem sungai.  

Bagaimana pengalaman di ECOTON membantu Anda memahami hubungan antara teori yang dipelajari di kampus dengan persoalan pengelolaan sumber daya perairan di lapangan?

Magang di ECOTON membuat saya lebih memahami bahwa teori di kampus memang sangat berkaitan dengan kondisi nyata. Saya jadi bisa melihat langsung bagaimana pencemaran, kualitas air, dan pengelolaan lingkungan terjadi di lapangan.

Anda bersama mahasiswa dan kelompok lingkungan juga terlibat dalam kegiatan mendatangi Balai Penegakan Hukum (Gakkum) KLH. Bagaimana perasaan Anda ketika harus menyampaikan temuan dan persoalan pencemaran kepada pejabat pemerintah?

Awalnya cukup gugup karena harus menyampaikan temuan kepada pihak pemerintah. Tapi di sisi lain saya merasa senang karena sebagai mahasiswa saya bisa ikut menyampaikan persoalan lingkungan yang ditemukan di lapangan.

Apa yang Anda sampaikan atau perjuangkan ketika berbicara dengan pejabat Gakkum? Menurut Anda, seberapa penting suara mahasiswa dalam mendorong pemerintah menindak dugaan pencemaran lingkungan?

Kami menyampaikan temuan terkait kondisi dan dugaan pencemaran yang ditemukan di lapangan. Menurut saya, suara mahasiswa penting karena mahasiswa bisa menjadi penghubung antara temuan di lapangan, masyarakat, dan pemerintah.

Setelah melihat langsung kondisi sungai dan terlibat dalam advokasi lingkungan, apa yang ingin Anda lakukan ke depan sebagai mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan? Apakah pengalaman ini akan memengaruhi pilihan karier atau arah penelitian Anda?

Ke depannya saya ingin lebih banyak terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemantauan kualitas perairan. Pengalaman ini juga membuat saya semakin tertarik untuk mendalami isu pencemaran dan pengelolaan sungai.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *