- Kegiatan kaderisasi ALASKA menghadirkan Mobile Laboratorium Microplastic Journey untuk mengedukasi siswa SMAN 1 Driyorejo.
- Sebanyak 50 pelajar mendaftar sebagai Kader Muda Peduli Lingkungan dalam upaya menuju Sekolah Adiwiyata.
- Lima aktivis muda ALASKA memimpin edukasi praktis mengenai bahaya pencemaran mikroplastik bagi kesehatan lingkungan.
- SMAN 1 Driyorejo mulai menerapkan kebijakan penyediaan galon kelas dan pengurangan plastik di kantin.
- Langkah awal ini mendorong kebiasaan pembawaan tumbler dan wadah makan sendiri di lingkungan sekolah.
SEBANYAK 50 siswa SMAN 1 Driyorejo mengikuti kaderisasi komunitas Anak Lingkungan dan Aksi Alam pada Kamis (13/8/22026). Kegiatan bertujuan membentuk kader muda yang peduli terhadap kelestarian lingkungan sekolah. SMAN 1 Driyorejo memanfaatkan momentum ini untuk melangkah menuju predikat Sekolah Adiwiyata.
Proses edukasi dipandu oleh lima aktivis muda komunitas ALASKA Driyorejo. Mereka adalah Krisna Wahyu Sahaja, Fardan Aryo Wibowo, dan Abiyyi Hibatullah El Muflih. Dua aktivis lainnya yakni Junnatun Nafi’ah serta Chantika Amira Ramadhani.
“Kehadiran Ecoton membuat anak-anak antusias mengenal mikroplastik secara langsung,” kata Guru SMAN 1 Driyorejo, Asri Wardani. “Bukan hanya teori, melainkan juga praktik melalui Mobile Laboratorium Microplastic Journey.”
Kehadiran laboratorium keliling memberikan pengalaman belajar sains secara langsung kepada siswa. Pelajar diajak mengamati bentuk mikroplastik serta memahami sumber pencemarannya. Pembelajaran interaktif ini memudahkan siswa memahami ancaman limbah plastik secara nyata.

#Ajakan Perubahan dari Siswa
Persoalan sampah plastik yang tercecer menjadi alasan utama keterlibatan para siswa. Pembungkus makanan sekali pakai, masih mendominasi timbulan sampah harian di sekolah. Kondisi ini, tentu saja mendorong kesadaran kader baru untuk melakukan tindakan nyata.
Siswi kelas XI SMAN 1 Driyorejo, Maretha, membeberkan alasannya bergabung. Ia prihatin melihat sampah plastik masih belum terkelola dengan baik. Maretha bertekad mengajak rekan sebaya untuk lebih peduli lingkungan.
“Saya melihat di sekitar kelas masih banyak sampah plastik yang tercecer,” ujar Maretha. “Lewat ALASKA, saya ingin belajar dan bergerak bersama mengajak teman-teman memilah sampah, ” tandasnya.

Pembentukan kader merupakan strategi sekolah dalam membangun kebiasaan peduli lingkungan. Kader muda bertugas mengedukasi rekan sebayanya secara konsisten harian. Pendekatan antarsiswa dinilai lebih efektif dalam mengubah perilaku konsumsi plastik.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
#Aksi Nyata Pengurangan Plastik
Langkah penanganan sampah difokuskan pada area kelas dan kantin sekolah. Pihak sekolah menyiapkan fasilitas pendukung untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai. Kebijakan teknis mulai diberlakukan secara bertahap kepada seluruh warga sekolah.

Anisa Setyaningrum, Guru SMAN 1 Driyorejo, menjelaskan rencana aksi pencegahan sampah. Sekolah mewajibkan siswa membawa botol minum pribadi dari rumah masing-masing. Galon air minum juga disediakan pada setiap ruang kelas.
“Pengurangan plastik sekali pakai juga akan mulai diterapkan di kantin sekolah,” kata Anisa. “Anak-anak diminta membawa gelas dan piring sendiri dari rumah.”
Sementara guru yang lain, Asri Wardhani, menyambut baik edukasi ini. Ia menilai pengamatan laboratorium meningkatkan kesadaran ekologis para murid. Aktivitas interaktif ini, menurutnya menumbuhkan kepedulian peserta terhadap lingkungan hidup.
“Anak-anak sangat antusias ingin mengenal dan melihat mikroplastik secara langsung. Kehadiran Ecoton memberikan aksi nyata serta menambah wawasan lingkungan bagi anak-anak,” ujar Asri.
Program ini menegaskan bahwa persoalan sampah tak usahai saat dibuang. Plastik yang terlepas ke alam akan terurai menjadi partikel mikroplastik berbahaya. Karena itu, edukasi langsung dari sumbernya menjadi kunci keberhasilan gerakan lingkungan di sekolah.***