Lewati ke konten

Riset UGM: 497 Partikel Mikroplastik Cemari Sungai Gajahwong, Musim Kemarau Lebih Parah

| 4 menit baca |Mikroplastik | 7 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Penelitian Universitas Gadjah Mada menemukan 497 partikel mikroplastik di sepanjang aliran Sungai Gajahwong.
  • Pencemaran mikroplastik pada musim kemarau terbukti lebih tinggi dibandingkan saat musim hujan berlangsung.
  • Limbah cucian rumah tangga dan tekstil menjadi penyumbang utama serat mikroplastik di sungai.
  • Sedimen sungai berpotensi menjadi penampung utama akumulasi fragmen plastik berukuran sangat kecil.
  • Paparan mikroplastik telah masuk ke dalam tubuh ikan yang hidup di Sungai Gajahwong.

PENCEMARAN mikroplastik telah meluas di seluruh titik pengamatan Sungai Gajahwong, Yogyakarta. Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan 497 partikel mikroplastik pada air, sedimen, dan organ ikan. Studi dari Fakultas Biologi UGM ini resmi terbit dalam jurnal Environmental Monitoring and Assessment 2026.

Penelitian mengidentifikasi 283 partikel pada musim kemarau dan 214 partikel saat musim hujan. Curah hujan rendah terbukti membuat konsentrasi mikroplastik di badan sungai menjadi jauh lebih pekat. Pengamatan dilakukan di sembilan titik lokasi dengan karakteristik penggunaan lahan yang berbeda.

“Penurunan debit air saat musim kemarau memicu lonjakan konsentrasi pencemar di titik tertentu,” ujar Arief Maulana Sabilillah menyebutkan hasil penelitiannya yang dipublikasikan di Springer pada 11 April 2026. Ia menjelaskan aliran lambat dan batuan hulu menghambat perpindahan partikel, sehingga pencemaran terakumulasi tinggi di lokasi S3, S4, dan S8.

Dalam penelitian itu disebutkan Sungai Gajahwong berhulu di Gunung Merapi dan membelah pusat Kota Yogyakarta. “Aliran sungai ini menerima masukan dari pemukiman, limpasan kota, serta limbah domestik. Seluruh muatan limbah mikroplastik tersebut pada akhirnya terbawa menuju Samudra Hindia,” kata Arief.

Rata-rata partikel mikroplastik pada air, sedimen, dan ikan di Sungai Gajahwong saat musim hujan dan kemarau | Foto: Dokumentas

#Dominasi Serat Dan Fragmen Plastik

Bentuk serat atau fiber menjadi jenis mikroplastik paling dominan di air dan ikan. Analisis Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) menguji polimer dan menemukan dominasi polyethylene terephthalate. Sumber utamanya berasal dari buangan air pencucian pakaian sintetis rumah tangga.

BACA JUGA:  Target 2045: Hanya 9 Persen Sampah Nasional yang Terkelola Tanpa Intervensi Kebijakan

“Aktivitas laundry melepaskan serat sintetis yang lolos menuju saluran air warga,” kata Arief, yang melakukan penelitian bersama Apriliawati Apriliawati dan Andhika Puspito Nugroho. Ia menambahkan bahwa serat mikroskopis ini mudah masuk ke ekosistem sungai dan karakternya yang fleksibel membuatnya rentan tertelan biota air.

“Sebaliknya, sedimen sungai pada musim kemarau justru didominasi oleh partikel berbentuk fragmen. Partikel berukuran di bawah 500 mikrometer mendominasi endapan hingga mencapai 40,66 persen. Polimer jenis LDPE dan PE dari kemasan sekali pakai menjadi penyumbang utama,” jelas Arief.

#Interaksi Tata Guna Lahan Dan Musim

Pengujian Generalized Linear Mixed Model menunjukkan kawasan terbangun berbanding lurus dengan kelimpahan mikroplastik. Pada musim kemarau, kepadatan pemukiman dan aktivitas domestik menjadi penyumbang utama pencemaran. Pola pencemaran ini terlihat sangat jelas di kawasan perkotaan padat.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Hujan deras memberikan efek flushing yang membilas akumulasi mikroplastik ke hilir,” ungkap Apriliawati. Ia menyebutkan bahwa debit air tinggi menyamarkan hubungan antara penggunaan lahan dan pencemaran karena air deras membuat lokasi penumpukan partikel terus berpindah.

Pada titik S4 yang berarus lambat akibat pintu air, konsentrasi pencemaran musim hujan mencapai 6,00 ± 1,00 partikel per 20 liter. Keberadaan bendungan menahan partikel agar tidak langsung hanyut ke hilir. Kombinasi arus lambat dan buangan warga memperparah akumulasi partikel di badan sungai.

Rumpun bambu di bantaran sungai dibakar, mengancam vegetasi penahan erosi dan kestabilan ekosistem sempadan | Foto: Dokumentasi

#Dampak Biota Dan Pengelolaan Limbah

Mikroplastik ditemukan dalam tubuh ikan, yakni 48 partikel saat hujan dan 73 partikel saat kemarau. Partikel berukuran 1.000 hingga 4.999 mikrometer menjadi kelompok yang paling banyak tertelan. Dominasi warna gelap seperti biru dan hitam diduga menyerupai pakan alami ikan.

BACA JUGA:  Klaim Pemerintah Batam Soal 48 Kontainer E-Waste Dipertanyakan, Pakar Nilai Temuan Pemerintah Bermasalah Serius

Bioakumulasi pada ikan tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat pencemaran lingkungan sekitar. Perbedaan perilaku mencari makan, bentuk tubuh, dan spesies ikan turut menentukan jumlah partikel tertelan. Hal ini memperluas dampak buruk pencemaran plastik pada rantai makanan.

Peneliti merekomendasikan pembangunan fasilitas pengolahan greywater dan perbaikan manajemen sampah secara mendesak. Pengendalian pencemaran harus dimulai dari tingkat permukiman sebelum masuk ke sungai utama. Sungai kecil seperti Gajahwong memegang peran kunci sebagai perantara limbah darat menuju laut.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *