- Sampah produk higienis menyerap global kini mencapai 200 juta ton setiap tahunnya.
- Peneliti UCL tawarkan tiga intervensi sistemik untuk menghentikan akumulasi limbah popok dunia.
- Perubahan perilaku dan toilet training lebih dini efektif mengurangi penggunaan popok sekali pakai.
- Teknologi daur ulang baru diperlukan untuk memulihkan material popok secara berskala besar.
- Inovasi produk kompostabel menjadi solusi terurai guna mengurangi beban penimbunan di TPA.
PRODUK higienis menyerap (absorbent hygiene products/AHPs) seperti popok, produk inkontinensia, dan pembalut wanita merupakan kebutuhan pokok sehari-hari. Namun, di balik fungsinya yang krusial, barang-barang tersebut kini menjelma menjadi salah satu aliran limbah terbesar yang paling diabaikan di dunia. Setiap tahunnya, AHP menghasilkan estimasi sekitar 160 hingga 200 juta ton sampah secara global.
Sebagian besar limbah ini berakhir menumpuk di tempat pemrosesan akhir (TPA), atau kadang kala dibakar secara konvensional. Kondisinya jauh lebih memprihatinkan di wilayah tanpa layanan pengumpulan sampah yang memadai; produk bekas sering kali dibuang sembarangan atau dibakar secara terbuka. Praktik buruk ini memicu pencemaran plastik yang parah, mengontaminasi sumber air, serta mempercepat risiko penyebaran penyakit infeksi.
Merespons krisis tersebut, tim peneliti Big Toilet Project dari University College London (UCL) memetakan jalan keluar dalam publikasi terbaru mereka di jurnal Nature Sustainability. Riset tersebut merumuskan panduan strategis untuk mengubah total cara industri merancang, serta cara masyarakat menggunakan dan mengelola limbah AHP di masa depan.
“Lebih dari 300.000 popok dibuang secara global setiap menit,” ujar Dr. Elze Porte, peneliti utama dari UCL Mechanical Engineering, mengutip laman bigtoiletproject yang dirilis pada 31 Juli 2026. Menurut Porte, produk ini memang sangat penting untuk kesehatan, martabat, dan proses pengasuhan, namun dampak lingkungannya selama ini sebagian besar tidak mendapat perhatian publik yang layak.
“Apa yang ditunjukkan oleh penelitian kami adalah bahwa ini bukanlah masalah dengan solusi tunggal. Ini membutuhkan perubahan yang terkoordinasi di seluruh aspek perilaku, teknologi, bahan baku, hingga kebijakan,” tegas Porte.

#Perubahan Perilaku dan Pengurangan Konsumsi Popok
Intervensi pertama yang ditawarkan riset ini berfokus pada pengurangan penggunaan dan peningkatan pemakaian produk yang dapat digunakan berulang kali. Peneliti mendorong pelaksanaan toilet training lebih awal pada anak-anak, serta peningkatan penggunaan popok kain (clodi). Langkah ini juga mereka nilai mampu mendukung kesehatan kandung kemih dan pencernaan anak sejak dini.
Studi tersebut mencatat fakta bahwa usia rata-rata anak menjalani toilet training mengalami peningkatan cukup signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Di Inggris, misalnya, usia lepas popok naik 32 persen, dari rata-rata usia 2 tahun 4 bulan pada era 1950-an menjadi di atas 3 tahun pada era 2000-an. Hal ini berdampak langsung pada lonjakan jumlah total penggunaan popok sekali pakai per anak.
“Pekerjaan awal kami menyoroti bagaimana norma sosial mempengaruhi peningkatan penggunaan popok,” tambah Profesor Mark Miodownik, peneliti senior dalam studi ini. Tekanan pola pengasuhan modern, kata dia, turut memperbesar ketergantungan masyarakat pada kepraktisan produk sekali pakai.
Perubahan pola penggunaan popok ini rata-rata dihadapkan pada kendala minimnya panduan medis yang jelas bagi orang tua serta keterbatasan waktu dalam pengasuhan. Oleh karena itu, studi ini mengimbau pemberian dukungan yang lebih baik bagi keluarga dan fasilitas pengasuhan anak.
“Kepraktisan penggunaan popok sekali pakai saat ini jangan sampai mengabaikan kemudahan akses masyarakat terhadap pilihan yang lebih ramah lingkungan,” imbuh Profesor Mark.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel#Inovasi Teknologi Daur Ulang Produk Higienis
Langkah strategis kedua menekankan pentingnya investasi besar pada pengembangan teknologi daur ulang AHP. Namun, studi ini mengungkapkan bahwa proses daur ulang popok bekas tergolong sangat rumit. Pasalnya, produk ini merupakan kombinasi kompleks dari bahan plastik, serat, dan material super-absorban. Selain kerumitan bahan, produk bekas juga kerap terkontaminasi oleh limbah kotoran manusia serta sisa-sisa obat-obatan (residu farmasi).
Dalam penjelasan studi tersebut, teknologi daur ulang yang ada saat ini umumnya hanya mampu memulihkan sebagian kecil dari material asli. Maka dari itu, peneliti merekomendasikan pengembangan metode baru yang mampu memulihkan seluruh komponen material secara masif dan efisien. Selain itu, inovasi teknologi dekontaminasi yang efektif sangat dibutuhkan untuk menghilangkan patogen dan residu farmasi agar material daur ulang aman digunakan kembali.

“Riset kami menunjukkan perlunya tindakan terkoordinasi di seluruh lini sistem limbah,” ungkap Porte saat menjelaskan tantangan daur ulang ini.
“Tanpa inovasi dekontaminasi, pemulihan material berskala besar akan sulit diterapkan secara aman, “ jelasnya.
#Pengembangan Material Kompostabel dan Tantangan Regulasi
Peluang ketiga terletak pada pembuatan produk AHP yang dapat terurai sepenuhnya secara alami (kompostabel). Studi ini mengungkap bahwa produk yang ada di pasaran saat ini, meski sering diberi label ramah lingkungan, ternyata belum sepenuhnya bisa diolah secara biologis dalam sistem pengolahan limbah standar. Hambatan teknis utamanya meliputi upaya menjaga daya serap produk yang tinggi sekaligus memastikan penguraian kontaminan di dalamnya dapat berjalan secara aman.
Peneliti juga menyoroti perlunya pembaruan kerangka regulasi, terutama pada tingkatan ekonomi, agar pendekatan produk kompostabel ini berhasil di pasaran. Terdapat kendala hukum yang harus diselesaikan, misalnya pembatasan penggunaan kompos yang mengandung sisa limbah manusia. Masalah regulasi ini harus dituntaskan sebelum sistem pengomposan industri atau sistem pencernaan anaerobik dapat diterapkan secara luas untuk limbah AHP.
“Setiap solusi harus tetap memperhitungkan keterjangkauan harga bagi seluruh lapisan masyarakat,” tutur Profesor Mark, sekaligus mengingatkan bahwa produk higienis adalah kebutuhan dasar yang harus selalu dapat diakses, terutama oleh kelompok rentan.
Studi ini menegaskan bahwa tidak ada satu solusi tunggal yang bisa diterapkan secara seragam di semua wilayah di dunia. Negara berpenghasilan tinggi sekalipun mungkin hanya bisa mampu berfokus pada pengurangan penggunaan dan daur ulang canggih. Sementara itu, negara berkembang lebih membutuhkan solusi pengomposan lokal yang praktis dan sesuai dengan infrastruktur yang tersedia.***