- KSH RW 08 Kapasmadya Baru Surabaya memperkuat pemilahan sampah untuk mengurangi beban TPA Benowo dan menjaga Kali Tebu.
- Program Kampung MOZAIK mengajak warga RW 08 mengolah sampah organik sebelum dikirim menuju TPA Benowo.
- Pemilahan sampah dari rumah diperkuat untuk mengurangi volume sampah sekaligus mencegah pembuangan menuju Kali Tebu.
- KSH RW 08 belajar mengolah sampah organik melalui ORBIN dan Sumur Komposter dalam Program Kampung MOZAIK.
- Warga RW 08 Kapasmadya Baru memilah sampah organik, daur ulang, dan residu sejak dari rumah.
Pengelolaan sampah organik menjadi fokus edukasi KSH RW 08 Kapasmadya Baru. Kegiatan tersebut digelar ECOTON melalui Program Kampung MOZAIK di Balai RW 08.
Edukasi menyasar lingkungan RT 01, RT 02, dan RT 03. Warga mempelajari pemilahan sampah organik, daur ulang, serta residu sejak sumbernya.
Tonis Afrianto, Waste Prevention Manager ECOTON, menegaskan pemilahan harus dimulai dari rumah. “Pemilahan sampah harus dimulai dari diri sendiri, tentunya dari rumah,” ujar Tonis, Jumat (4/9/2026).
Menurut Tonis, perubahan kebiasaan membutuhkan pendampingan dan media edukasi keluarga. KSH diposisikan sebagai penggerak perubahan di lingkungan permukiman sepanjang Kali Tebu.
“KSH dalam hal ini kemudian kami posisikan sebagai penggerak perubahan,” ucap Tonis. Peran tersebut diarahkan untuk memperkuat kebiasaan pengelolaan sampah masyarakat.
Kegiatan tersebut juga mengenalkan ORBIN sebagai wadah sampah organik rumah tangga. Sampah yang terkumpul kemudian diarahkan untuk pengolahan menggunakan Sumur Komposter.
“Kegiatan ini juga mengenalkan ORBIN sebagai wadah sampah organik. Sampah yang terkumpul kemudian diarahkan untuk pengolahan menggunakan Sumur Komposter,” jelas Tonis.
#ORBIN Digunakan dalam Simulasi Pengomposan
Para kader mengikuti simulasi pengelolaan sampah organik menggunakan ORBIN. Sampah organik dari wadah tersebut kemudian dibuang menuju Sumur Komposter.
Simulasi memberikan gambaran pengelolaan sampah yang dapat dilakukan rumah tangga. Cara tersebut memungkinkan sampah organik dipisahkan sebelum bercampur dengan jenis lainnya.
Peserta juga menerima poster edukasi pemilahan sampah untuk keluarga. Poster tersebut dapat dipasang di rumah sebagai pengingat pemilahan.
Suliani, kader KSH RW 08, menilai masyarakat perlu mengelola sampah secara mandiri. Menurutnya, pemilahan dapat membantu mencegah penumpukan sampah.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
“Menurut saya warga memang perlu diajak mandiri kelolah sampah,” terang Suliani. Ia menyebut sampah organik dapat diolah menjadi kompos.
Sampah yang dapat didaur ulang juga mempunyai nilai ekonomi bagi warga. Sementara residu ditempatkan dalam tong sampah untuk pengelolaan lanjutan.
#Pemilahan Diharapkan Cegah Sampah Masuk Kali Tebu
Pengelolaan sampah dari rumah berkaitan langsung dengan kebersihan lingkungan sekitar. Program Kampung MOZAIK juga diarahkan mencegah pembuangan sampah menuju Kali Tebu.
Pemilahan memungkinkan setiap jenis sampah mendapat penanganan berbeda. Sampah organik dapat dikomposkan, sedangkan material daur ulang dipisahkan untuk dimanfaatkan.
Pengelolaan tersebut diharapkan mengurangi jumlah sampah menuju TPA Benowo. Pada saat bersamaan, potensi sampah masuk ke Kali Tebu dapat ditekan.
KSH kemudian diharapkan meneruskan pengetahuan kepada keluarga di wilayahnya. Pendampingan diperlukan agar kebiasaan pemilahan terus dilakukan setelah kegiatan selesai.
Tonis menilai edukasi keluarga menjadi bagian penting dalam perubahan perilaku. “Masyarakat diharapkan dapat membangun kebiasaan mengelola sampah secara mandiri dan konsisten,” katanya.
Program Kampung MOZAIK menempatkan rumah tangga sebagai titik awal pengurangan sampah. RW 08 diharapkan berkembang menjadi kawasan dengan pengelolaan sampah mandiri.
Upaya tersebut sekaligus memperkuat kepedulian warga terhadap lingkungan sekitar. Sasaran akhirnya ialah mengurangi sampah dan menjaga Kali Tebu tetap lestari.***