- Kunjungan OSIS MA Raden Paku ke ECOTON buktikan ancaman nyata mikroplastik di Kali Surabaya. Temukan fakta mengejutkan soal pencemaran air dan komitmen aksi generasi muda!
- Eksplorasi Kali Surabaya buka mata siswa MA Raden Paku. Dari temuan ikan interseks hingga bahaya skincare mikroplastik, simak aksi nyata pemuda jaga kelestarian sungai!
- Benarkah 80% ikan Kali Surabaya betina akibat limbah? OSIS MA Raden Paku turun langsung uji mikroplastik bersama ECOTON demi selamatkan ekosistem air dan masa depan.
- Lahirkan agen perubahan, OSIS MA Raden Paku dan ECOTON bedah ancaman mikroplastik di sungai, daun, hingga produk kecantikan. Intip langkah konkret mereka di sini!
- Bukan sekadar agenda biasa, orientasi OSIS MA Raden Paku ke ECOTON lahirkan program peduli lingkungan. Simak komitmen generasi muda jaga bumi dari darat sampai sungai!

Penulis: Lid Deborah Widodo, Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya. Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation [Ecoton] selama periode 10 Agustus – 04 Desember 2026.
SEBANYAK 29 siswa-siswi yang terdiri dari 19 siswi dan 10 siswa MA Raden Paku Wringinanom Gresik, didampingi oleh 3 guru pembimbing dan 2 perwakilan OSIS, sukses menggelar kegiatan Orientasi OSIS 2026 di kantor ECOTON Foundation.
Mengusung tema “Alam dari Dasar Sungai: Mengungkap Misteri Kali Surabaya & Menyelamatkan Ikan Lokal”, kegiatan ini bertujuan untuk membangun kepedulian generasi muda terhadap kelestarian lingkungan perairan, khususnya Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Surabaya.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak kedatangan peserta pada pukul 07.30 WIB, yang dilanjutkan dengan acara pelantikan dan pemutaran film dokumenter ECOTON berjudul “Sungai Plastik”. Para peserta kemudian mendapatkan pembekalan materi interaktif dari para pegiat lingkungan ECOTON.

Founder ECOTON, Prigi Arisandi, dalam sambutannya menekankan pentingnya kepekaan lingkungan bagi generasi muda.
“Banyak pabrik yang ada di Wringinanom, karena mereka rata-rata mengambil air dari sungai. Lingkungan bisa menjadikan kita agar lebih peka terhadap sekitar. Sungai memberikan kita banyak ilmu, dan ini adalah contoh yang baik. Sebagai anak muda, kita harus punya skill dan keahlian pada bidang tertentu. Jangan sampai jadi jagoan kampung saja dan jangan kalah sama orang luar. Harapan kami, kolaborasi ini bisa menambah pengetahuan, keahlian, punya aksi nyata, dan mimpi besar,” ujar Pak Prigi Arisandi di depan para siswa, Kamis (1/10/2026).
Sementara itu, Amalia Fibrianty dari tim ECOTON memaparkan kondisi nyata DAS Kali Surabaya yang saat ini mengalami degradasi akibat sampah plastik dan limbah domestik.
Berdasarkan sensus ikan terbaru yang didukung oleh Petrokimia Gresik, ditemukan fakta bahwa 80% ikan di Kali Surabaya berjenis kelamin betina dan 35% mengalami interseks (kelamin ganda) akibat paparan gangguan hormon dan limbah.
Pencemaran Mikroplastik dari Sumbernya
Tim ECOTON mengoleksi 71 ekor ikan yang teridentifikasi menjadi 7 spesies seperti ikan hampala, rengkik, bader merah dan putih, montho, hingga muraganting. Semua sampel disebut terkontaminasi mikroplastik hingga 159 partikel, dengan konsentrasi tertinggi ditemukan pada ikan Jendil.
Tonis Afrianto dari ECOTOn dan Arief Maulana Sabilillah mahasiswa S2 dari UGM yang sedang magan di ECOTON, juga memberikan edukasi mengenai pentingnya aksi pencegahan pencemaran mikroplastik dari sumbernya (source reduction), termasuk memilah sampah plastik di lingkungan sekolah serta menghindari penggunaan alat-alat berbahan plastik sekali pakai seperti kresek dan botol plastik.

Setelah sesi pemaparan materi, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok untuk melakukan praktik identifikasi mikroplastik di tiga matriks lingkungan yang berbeda, yaitu air, daun, dan kulit.
Hasil pengujian dilakukan menggunakan tiga sampel di sekitar kawasan ECOTON yang meliputi air, daun, skincare dan kulit. Kelompok yang menggunakan sampel skincare menguji lima jenis produk seperti sunscreen, body lotion, deodorant, eye cream dan sabun.
Hasil Pengujian Mikroplastik
Dari kelima jenis produk skincare, sunscreen dan handbody mempunyai kandungan mikroplastik tertinggi. Kedua produk tersebut mengandung “Dimethicone” yang teridentifikasi sebagai salah satu bahan dasar plastik.
Kelompok Daun mengoleksi lima sampel daun dari vegetasi di sekitar ECOTON, seperti nangka, sirsak, waru dan mundu. Dari seluruh sampel, ditemukan 25 partikel mikroplastik, yang terbagi menjadi empat bentuk meliputi fragmen sejumlah 17 partikel, fiber sejumlah 7 partikel dan film 1 partikel.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelKelompok Air mengoleksi dua jenis sampel, yaitu air Kali Surabaya dan air kolam.
Berdasarkan pengamatan dengan mikroskop, air Kali Surabaya mengandung lebih banyak mikroplastik dibandingkan air kolam. Dalam sampel air sungai, ditemukan 3 fiber dan 3 fragmen, sedangkan pada air kolam hanya ditemukan 1 film dan 2 fragmen.
Hasil ini disebut relevan dengan kondisi arus air dan potensi sumber pencemar. Air kolam yang cenderung lebih tenang membuat partikel mikroplastik lebih mudah tenggelam. Selain itu, air kolam sudah terisolasi dari berbagai sumber pencemar mikroplastik, selain dari udara.
Setelah berhasil mengidentifikasi kandungan mikroplastik, para anggota OSIS diminta untuk menyusun action plan dalam lima kelompok baru.

Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta, salah satunya dirasakan oleh Alifia Nadifa Asidewi, siswi kelas 11 sekaligus pengurus OSIS.
“Banyak hal baru yang aku dapatkan disini, mungkin awalnya aku gak tahu apa-apa. Acara ECOTON kemarin aku nggak ikut, jadinya ini first time aku ikut kunjungan ke ECOTON. Sewaktu kita lihat video clip ‘Sungai Plastik’, dibilang bahwa banyak ikan lokal di Kali Surabaya berjenis kelamin betina daripada jantan. Saya tadi menanyakan bagaimana cara membedakan kelamin jantan dan betina pada ikan, ternyata bisa kita lihat di bawah badan ikan tergantung jenisnya. Dari situ saya punya keinginan untuk lebih peduli dan memperhatikan sungai,” ungkap Alifia.
Ketika ditanya mengenai rencana aksi nyata sebagai pengurus OSIS, Alifia menambahkan:
“Mungkin karena kita lihat kondisi plastik kita semakin naik, ke depannya setiap hari Jumat akan saya buat program kerja ‘Jumat Bersih’ dan ‘Patroli Kelas’.”
Hal senada juga disampaikan oleh Zhaki Fharel, siswa kelas 11 yang turut serta dalam kunjungan ini.
“Pastinya mendapat banyak hal dan informasi baru yang saya dapatkan disini, apalagi tentang pentingnya menjaga lingkungan di darat dan di sungai. Jadi saya mempelajari banyak hal, apalagi dengan kakak-kakak yang mau membantu saya belajar juga,” ujar Zhaki.
Mengenai rencana program lingkungan ke depan, Zhaki menyampaikan:
“Kalau saya, mungkin lebih baik membuat program yang berkolaborasi dengan ECOTON agar lebih terprogram dan lebih expert dalam isu lingkungan, apalagi sungai. Karena ECOTON mengajarkan banyak hal, jadi hasilnya bisa lebih bagus, tepat, dan ada perkembangannya.”
Melalui kegiatan kunjungan edukatif ini, pihak sekolah dan ECOTON Foundation berharap para siswa-siswi MA Raden Paku dapat menjadi agen perubahan (agent of change) yang aktif mengkampanyekan pelestarian lingkungan serta penyelamatan ekosistem sungai di masa depan.
Menjaga ekosistem sungai menunjukkan inisiatif kita untuk merawat kehidupan. Harapan besar dengan adanya kolaborasi edukatif antara OSIS MA Raden Paku dan ECOTON Foundation bukan hanya sekadar agenda biasa saja, tetapi menjadi titik nyala lahirnya para generasi Z yang konsisten menjaga bumi dari darat hingga ke dasar sungai.***