- Ecoton bersama DLH Kota Surabaya menggelar sosialisasi dan workshop Hierarki Zero Waste bagi 75 kader RW di Bulak Banteng untuk menekan pencemaran sampah di kawasan dekat Kali Tebu.
- Acara dilaksanakan tanpa plastik sekali pakai, menggunakan nasi bungkus daun pisang dan gelas guna ulang untuk hidangan es sinom sebagai bentuk praktik langsung.
- DLH Kota Surabaya menekankan bahwa Pilar Lingkungan memegang bobot penilaian tertinggi (35%) dalam ajang Kampung Pancasila yang diikuti RW Bulak Banteng.
- Ecoton menegaskan pentingnya pemilahan sampah dari sumber rumah tangga agar tidak membebani TPS/TPA, serta konsistensi tahapan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) secara berurutan.
- Peserta dilatih mengolah sampah organik rumah tangga menggunakan komposter “Galon Kura” yang praktis dan murah, dilanjutkan dengan penyerahan unit komposter secara simboli.
LEMBAGA Kajian Konservasi dan Lahan Basah (Ecoton) bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, menggelar kegiatan sosialisasi dan workshop Hierarki Pengelolaan Sampah atau Hierarki Zero Waste di Kelurahan Bulak Banteng, Kota Surabaya, pada Jumat (23/10/2026).
Kegiatan yang diikuti 75 peserta perwakilan kader dari setiap Rukun Warga (RW) tersebut dibuka secara resmi oleh Lurah Bulak Banteng, Matlilla, S.Kep.Ns., M.H., M.AP. Menurut Matlilla, pelatihan yang melibatkan peran aktif warga ini, merupakan komitmen bersama dalam mendorong pengurangan sampah, khususnya di kawasan yang berbatasan langsung dengan Kali Tebu.
“Ini adalah kegiatan yang kita bangun komitmennya secara bersama warga. Di mana kita tahu, wilayah Bulak Banteng merupakan kawasan paling dekat dengan Kali Tebu,” kata Matlilla dalam siaran pers yang diterima pada Rabu (28/10/2026).
Komitmen pengurangan sampah tidak hanya disampaikan melalui materi, tetapi juga diwujudkan secara langsung dalam operasional acara. Panitia menerapkan prinsip zero waste event dengan tidak menghasilkan sampah plastik sekali pakai selama kegiatan berlangsung.
Sajian konsumsi bagi peserta menggunakan nasi bungkus daun pisang, sementara hidangan minuman es sinom segar disajikan menggunakan gelas guna ulang.
“Praktik awal sudah kita lakukan dengan cara kegiatan ini. Kita tidak menggunakan wadah dari plastik sekali pakai dalam sajian konsumsi,” ujar Matlilla.

Pilar Lingkungan Dominasi Program Kampung Pancasila
Dalam sesi pemaparan pertama, Pengendali Dampak Lingkungan Hidup sekaligus Staf Tim Kerja Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat DLH Kota Surabaya, Lina Pratiwi Rahmadewi, S.T., menjelaskan peran strategis Pilar Lingkungan dalam pelaksanaan program Kampung Pancasila Kota Surabaya.
Lina mengungkapkan bahwa Pilar Lingkungan memegang bobot penilaian terbesar dalam ajang tersebut. “Pilar lingkungan menjadi pilar dengan komposisi terbesar dalam pelaksanaan program Kampung Pancasila, yaitu sebanyak 35 persen. Kampung Pancasila merupakan program yang wajib diikuti oleh seluruh kelurahan atau RW di Kota Surabaya untuk dilombakan,” kata Lina.
Kelurahan Bulak Banteng tercatat menjadi salah satu wilayah dengan partisipasi perwakilan RW yang cukup banyak untuk berlaga dalam kompetisi tingkat kota tersebut.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Pengelolaan Desentralisasi dan Prinsip Hierarki Zero Waste
Pemateri kedua dari Ecoton, Tonis Afrianto, menekankan pentingnya pendekatan desentralisasi dalam sistem pengelolaan sampah perkotaan. Menurutnya, beban pengangkutan sampah ke tempat penampungan akhir harus ditekan melalui pemilahan sejak dari tingkat rumah tangga.
“Perlu adanya upaya pengelolaan sampah desentralisasi atau pengelolaan sampah yang dimulai dari sumber. Jadi tidak semua sampah dibebankan ke TPS atau TPA. Artinya, harus ada pengelolaan dari sumber sebelum dibawa ke tempat pembuangan,” tegas Tonis.
Tonis juga memaparkan skema Hierarki Zero Waste sekaligus mempromosikan implementasi Kampung Mosaik. Ia mengingatkan peserta agar penerapan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dilakukan secara berurutan dan terstruktur.
“Prinsip 3R itu tidak boleh dibolak-balik. Reduce, reuse, lalu recycle. Nah, ini adalah tahapan yang tidak boleh dibolak-balik karena kita berjalan mengikuti ritme dari atas ke bawah,” tambahnya.

Praktek Pengomposan Galon Kura
Selain pembekalan teori, kegiatan dibekali dengan sesi praktik langsung pengolahan sampah organik skala rumah tangga yang dipandu oleh Galuh dari tim Ecoton. Para kader ibu-ibu PKK diperkenalkan dengan metode pengomposan “Galon Kura”—sebuah sistem pengolahan sampah organik yang terjangkau, praktis, dan mudah diterapkan di pekarangan rumah.
Rangkaian acara yang berlangsung interaktif tersebut ditutup dengan sesi foto bersama serta penyerahan unit komposter Galon Kura secara simbolis yang diterima langsung oleh Ketua PKK Kelurahan Bulak Banteng.***