Lewati ke konten

Mikroplastik Pemicu Stres Oksidatif Racuni Ikan Surabaya hingga Bangladesh: Sains Global Desak Pembatasan Plastik

| 6 menit baca |Mikroplastik | 1 dibaca
  • Riset Columbia University membuktikan bahwa mikroplastik di dalam air melepaskan spesies oksigen reaktif berenergi tinggi. Senyawa ini merusak molekul biologis vital, memicu stres oksidatif, mutasi DNA, serta berbagai penyakit serius.
  • Ecoton menemukan lima jenis ikan endemik di Kali Surabaya telah terkontaminasi 59 partikel mikroplastik. Polutan ini bertindak sebagai senyawa pengganggu hormon yang mengacaukan proses reproduksi alami ikan.
  • Studi di Bangladesh mencatat seluruh sampel sedimen kolam budidaya dan 150 ikan terkontaminasi mikroplastik. Para ahli memperingatkan adanya risiko perpindahan polutan berbahaya tersebut ke tubuh manusia.
  • Konferensi Global MICRO 2026 di Spanyol yang dihadiri ratusan ilmuwan internasional fokus merumuskan standarisasi pelacakan nanoplastik di atmosfer guna mendorong kebijakan pembatasan plastik sekali pakai.
  • World Institute of Kimchi menemukan bakteri fermentasi mampu meluruhkan nanoplastik. Sementara pelajar MAN Insan Cendekia Lampung Timur menciptakan inovasi filtrasi untuk mereduksi mikroplastik pada produksi garam lokal.

ANGGAPAN umum selama berpuluh-puluh tahun bahwa plastik adalah material inert yang stabil dan aman bagi tubuh kini sepenuhnya gugur. Hasil riset terbaru dari para peneliti Columbia University yang dipublikasikan dalam jurnal Nature mengungkap mekanisme bahaya baru: ketika mikroplastik berukuran sangat besar maupun sangat kecil berinteraksi dengan air, air tersebut memicu pelepasan reactive oxygen species (ROS) atau spesies oksigen reaktif.

Bahan kimia berenergi tinggi ini mampu merusak molekul biologis vital secara masif. “Pada dasarnya, bahan-bahan tersebut dapat bereaksi dengan molekul biologis di sekitarnya seperti protein, DNA, lipid, RNA, apa saja, dan merusaknya,” kata Prof. Wei Min dari Columbia University, sebagaimana dikutip Washington Post, 25 Oktober 2026.

Masih kata Prof. Min, bahwa benturan ROS terhadap DNA memicu mutasi seluler yang berujung pada stres oksidatif. Kondisi ini menjadi penjelasan ilmiah atas kaitan paparan mikroplastik dengan peradangan kronis, penyakit jantung, aterosklerosis, hingga gangguan neurologis seperti Alzheimer.

BACA JUGA:  Surabaya Dicemari Mikroplastik dari Langit: Riset ECOTON Diapresiasi, DLH Siapkan Langkah Mitigasi Baru

“Pengujian membuktikan plastik baru ((virgin plastic) di dalam air tetap melepaskan ROS yang memicu peradangan kronis, penyakit jantung, hingga gangguan neurologis seperti Alzheimer, ” tegasnya.

Akumulasi Rantai Makanan: Dari Kali Surabaya hingga Bangladesh

Ancaman ini tak lagi bisa dikatakan sekadar eksperimen laboratorium. Mikroplastik telah nyata terjadi menghantui ekosistem perairan darat hingga rantai pasok pangan global.

Dampak Nyata di Kali Surabaya

Di Indonesia, kontaminasi ini telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan bagi kelangsungan spesies lokal. Lembaga konservasi lahan basah Ecoton menemukan, ikan-ikan endemik di Kali Surabaya telah terkontaminasi mikroplastik dengan total akumulasi mencapai 59 partikel.

Pendiri Ecoton sekaligus peneliti senior sungai, Prigi Arisandi, menyatakan bahwa mikroplastik tergolong sebagai senyawa pengganggu hormon (endocrine disrupting chemicals). Keberadaannya di perairan berdampak langsung pada proses biologis dan reproduksi ikan.

“Kalau kita mau detail memahami, sistem pembuahan ikan atau bertemunya sperma dan sel telur itu terjadi di air, atau di luar organ tubuh ikan. Mikroplastik di perairan ini berperan sebagai senyawa pengganggu hormon yang mendorong terbentuknya kelamin betina, karena ikan menganggap mikroplastik sebagai hormon estrogen,” terang Prigi saat kegiatan sensus Kali Surabaya pada Ahad, 4 Oktober 2026.

Nelayan Ecoton menarik jaring untuk menangkap ikan di Kali Surabaya, sementara peneliti Ecoton, Heri Purnomo, menimbang dan mendata hasil tangkapan sebagai bagian dari Sensus Ikan 2026 untuk memantau populasi serta keanekaragaman ikan sungai. | Dok. Ecoton/Fully Syafi

Kontaminasi Meluas pada Kolam Budidaya di Bangladesh

“Kalau kita mau detail memahami, sistem pembuahan ikan atau bertemunya sperma dan sel telur itu terjadi di air, atau di luar organ tubuh ikan. Mikroplastik di perairan ini berperan sebagai senyawa pengganggu hormon yang mendorong terbentuknya kelamin betina, karena ikan menganggap mikroplastik sebagai hormon estrogen.”

Situasi serupa dilaporkan dalam studi perdana di Bangladesh yang diterbitkan bulan ini dalam jurnal Environmental Pollution. Penelitian bertajuk “Microplastics in freshwater aquaculture: evidence of sediment-fish transfer and associated ecological risk in Bangladesh”oleh Profesor Badiuzzaman Khan dari Bangladesh Agricultural University (BAU).

BACA JUGA:  Kualitas Air Kali Surabaya Terus Menurun, Hilir Hadapi Tekanan Pencemaran Terbesar

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Tim periset mengambil sampel pada musim dingin dari 25 kolam budidaya di Trishal, Mymensingh, wilayah dengan aktivitas budidaya ikan komersial intensif. Hasilnya mencakup beberapa temuan penting:

  • Sedimen Tercemar: Seluruh 25 kolam sampel terbukti mengandung mikroplastik pada lapisan sedimen dasar, dengan rata-rata 11,04 partikel per kilogram dan nilai pollution load index (PLI) berkisar antara 1 hingga 4,5 (pencemaran sedang hingga tinggi).
  • Kontaminasi pada Ikan: Dari 150 ikan budidaya lintas enam spesies yang diuji, ditemukan total 90 partikel mikroplastik (rata-rata 0,60 partikel per ikan).
  • Spesies Terdampak Paling Parah: Ikan sarpunti (silver barb) mencatat rata-rata tertinggi dengan 1,20 partikel per ikan, disusul ikan rohu dan mrigal masing-masing 0,68 partikel per ikan. Sementara itu, ikan yang hidup di dasar perairan menyumbang 52% dari seluruh partikel yang terdeteksi.
  • Jenis Polimer Dominan: Polimer utama yang ditemukan adalah polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) yang bersumber dari kantong plastik, pembungkus, wadah, hingga tali.

Profesor Khan menjelaskan bahwa mikroplastik masuk ke tubuh ikan melalui pakan maupun air banjir yang membawa limbah dari lingkungan sekitar. Menanggapi temuan ini, Mahbubur Rahman, ilmuwan kesehatan masyarakat di icddr,b, memperingatkan bahwa belum ada jaminan mikroplastik pada ikan aman dari risiko perpindahan ke tubuh manusia yang mengonsumsinya.

“Kami telah mendeteksi mikroplastik di dalam tubuh manusia; tidak ada jaminan bahwa mikroplastik tersebut tidak akan sampai ke manusia melalui konsumsi ikan, ” kata Rahman kepada media terbitan India, Prothom Alo, 22 Oktober 2026.

BACA JUGA:  Ikan Mati Massal di Kali Jagir Surabaya, ECOTON Sebut Fosfat Enam Kali Lipat Baku Mutu

Senada dengan hal tersebut, Profesor Shimul Halder dari University of Dhaka menambahkan bahwa polyethylene tidak mudah terurai oleh panas saat dimasak. Sehingga berpotensi mengganggu fungsi hati serta ginjal manusia.

“Karena itu, mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi ikan dan berpotensi mengganggu fungsi hati serta ginjal, “ ujar Halder di media yang sama.

Sejumlah nelayan menangkap ikan menggunakan jaring tarik di sebuah kolam di Garakhola, Fultola, Khulna, Bangladesh. | Foto: Prothom Alo

Konsensus Sains Global dan Terobosan Inovasi Lokal

Krisis peralihan polusi dari makroplastik ke skala nanoplastik ini menjadi sorotan utama dalam Konferensi Sains Global MICRO 2026 di Cádiz, Spanyol, yang berlangsung pada 12–16 Oktober 2026. Hampir 900 ilmuwan internasional berkumpul guna merumuskan standarisasi pelacakan nanoplastik di atmosfer, serta menyusun argumen ilmiah yang kuat untuk mendorong kebijakan pembatasan plastik sekali pakai secara global.

Di tengah kepungan krisis ekologis tersebut, dua terobosan solutif hadir membawa secercah harapan:

  1. Bioremediasi Bakteri Kimchi: Riset dari World Institute of Kimchi di Korea Selatan pada Oktober 2026 menemukan bahwa bakteri dari makanan fermentasi kimchi, mampu mengikat hingga 87% nanoplastik di laboratorium dan meluruhkannya keluar dari tubuh tikus percobaan lewat feses.
  2. Inovasi Filtrasi Garam Peneliti Muda: Tim riset remaja dari MAN Insan Cendekia Lampung Timur sukses menyabet medali perak dalam ajang National Science and Invention Fair (NSIF) 2026 di Universitas Indonesia (12–17 Oktober 2026) melalui pengembangan teknologi filtrasi inovatif untuk mereduksi kontaminasi mikroplastik pada proses produksi garam konsumsi lokal.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *