- RW 09 Kelurahan Sisir, Kota Batu, dijadikan kawasan percontohan RW Mandiri Sampah. Sebanyak 30 relawan terlibat dalam kegiatan Analisis Karakteristik Sampah untuk memetakan jenis, komposisi, dan timbulan sampah warga.
- Hasil AKSA menunjukkan sampah organik mendominasi komposisi sampah RW 09 dengan persentase 60,7 persen. Temuan ini menjadi dasar untuk memperkuat pengelolaan sampah organik sekaligus mengurangi timbulan sampah dari sumbernya.
- Selain organik, hasil pemilahan mencatat residu 10,1 persen, plastik low value 8,7 persen, kaleng 7,4 persen, kertas 6 persen, plastik high value 4,2 persen, kaca 1,8 persen, dan B3 1,2 persen.
- Waste Prevention Manager ECOTON Tonis Afrianto menyebut data timbulan dan komposisi sampah RW 09 kini telah terpetakan. Tahap berikutnya adalah brand audit untuk mengidentifikasi produk dan produsen penyumbang sampah.
- Pemetaan melalui AKSA dan rencana brand audit diharapkan memperkuat pengelolaan sampah berbasis data. RW 09 Kelurahan Sisir menjadi ruang pembelajaran bagi warga untuk memahami karakter sampah sekaligus menentukan strategi pengurangan dan pengolahan.
RUKUN Warga (RW) 09 Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, terus berbenah dalam penanganan sampah. Kawasan ini dijadikan percontohan program RW Mandiri Sampah dengan menggunakan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA). Cara ini untuk mengetahui secara lebih rinci jenis, komposisi, dan timbulan sampah yang dihasilkan warga.
Sebanyak 30 relawan dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur, dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, kader lingkungan, perangkat RT/RW dan kelurahan, Tim Percepatan Penanganan Sampah Kota Batu, hingga lembaga kajian ekologi ECOTON.

Pejabat Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda DLH Kota Batu, Eni Maulidiyah, mengatakan, kegiatan AKSA ini penting untuk mendapatkan data sampah, secara lebih detail di tingkat warga.
“Melalui AKSA, kita bisa mengetahui lebih detail jenis dan karakter sampah warga. Data ini penting, sebagai dasar menentukan langkah pengelolaan sampah yang sesuai di tingkat masyarakat,” kata Eni dalam keterangan rilisnya, Selasa (3/11/2026).
Menurut dia, data hasil pemilahan sampah ini, bisa juga menjadi dasar mengetahui karakteristik sampah yang dihasilkan warga, sekaligus menentukan langkah pengelolaan berikutnya.
“AKSA membantu kita, mengetahui jenis dan karakter sampah warga secara lebih detail. Data ini bisa menjadi dasar untuk menentukan pengelolaan sampah yang tepat,” kata Eni.

Organik Mendominasi Sampah Warga
Berdasarkan hasil pemilahan dan pengukuran dalam kegiatan AKSA, komposisi sampah di RW 09 Kelurahan Sisir didominasi sampah organik.
Sampah organik mencapai 60,7 persen, dengan catatan terpilah sempurna tanpa tercampur. Selanjutnya, residu mencapai 10,1 persen, yang terdiri dari berbagai jenis plastik non-daur ulang, popok bayi, serta tisu.

Sementara itu, plastik low value mencapai 8,7 persen, meliputi sachet, kantong kresek, mika, dan styrofoam. Kemudian kaleng sebesar 7,4 persen, kertas 6 persen, dan plastik high value 4,2 persen yang mencakup botol, gelas plastik, serta plastik keras.
Adapun kaca menyumbang 1,8 persen, sedangkan sampah B3 atau bahan berbahaya dan beracun mencapai 1,2 persen.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelKomposisi tersebut menunjukkan bahwa sampah organik menjadi bagian terbesar dari sampah yang teridentifikasi dalam pemilahan. Sementara itu, berbagai jenis sampah anorganik, residu, dan B3 membutuhkan pemilahan serta pengelolaan berdasarkan karakteristiknya.
Data tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan strategi pengurangan dan pengolahan sampah di tingkat warga.
Selanjutnya, Waste Prevention Manager ECOTON, Tonis Afrianto mengatakan, data timbulan dan komposisi sampah di RW 09 ini, telah terpetakan melalui kegiatan AKSA.
“Data timbulan sampah kini sudah terpetakan dengan jelas. Tahapan berikutnya adalah pengolahan dan melihat siapa produsen dari sampah yang ditemukan,” ujar Tonis.

Menurut Tonis, langkah selanjutnya akan dilanjutkan melalui agenda brand audit atau audit sampah berdasarkan jenama produsen. Kegiatan brand audir nantinya, diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai produk dan produsen yang menghasilkan sampah dari kawasan tersebut.
Dengan adanya pemetaan komposisi sampah melalui AKSA dan dilanjutkan dengan brand audit, RW 09 Kelurahan Sisir diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis data di tingkat masyarakat.
Data dalam dokumen AKSA mencatat komposisi sampah Kelurahan Sisir terdiri atas organik 60,7 persen, residu 10,1 persen, plastik low value 8,7 persen, kaleng 7,4 persen, kertas 6 persen, plastik high value 4,2 persen, kaca 1,8 persen, dan B3 1,2 persen.
“Setelah komposisinya kita ketahui. Kita ingin melihat produk apa saja paling banyak ditemukan dari sampah warga, sehingga sumber sampahnya dapat dipetakan dengan lebih jelas,” kata Tonis.***