Puluhan anak sekolah dasar bersama warga Pulau Bawean turun ke pantai, memungut hampir satu ton sampah. Aksi ini bukan sekadar bersih-bersih, tetapi cermin persoalan plastik pesisir dan pendidikan lingkungan sejak dini.
#Anak-anak di garis depan krisis sampah pesisir
Di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, sekelompok anak sekolah dasar tampak menyusuri garis pantai dengan karung di tangan. Mereka memungut botol plastik, bungkus makanan, hingga sisa-sisa benda yang sudah lama terdampar. Kegiatan bertajuk Children Environmental Action ini berlangsung di Desa Lebak, Kecamatan Sangkapura, Ahad, 15 Desember 2025.

Aksi bersih pantai tersebut melibatkan 30 siswa SDIT Al Huda Bawean dan sekitar 15 warga desa, termasuk unsur pemerintah desa. Pantai yang dibersihkan bukan hanya kawasan wisata, tetapi juga ruang bermain dan berenang bagi anak-anak setempat. Dalam beberapa jam, hampir seluruh area pantai dipenuhi karung sampah yang telah terisi penuh.
Bagi para siswa, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar di luar kelas. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan tentang pencemaran laut, tetapi melihat dan menyentuh langsung dampak sampah yang menumpuk di lingkungan tempat mereka tinggal.
#Hampir Satu Ton Sampah dan Jejak Plastik Puluhan Tahun
Hasil pengumpulan sampah menunjukkan skala persoalan yang tidak kecil. Sebanyak 945 kilogram sampah berhasil dikumpulkan, terdiri atas 70 karung sampah organik dan 80 karung sampah anorganik. Mayoritas temuan merupakan plastik sekali pakai, terutama bungkus saset makanan dan minuman.
Temuan di lapangan mengungkap fakta yang mencemaskan. Sejumlah kemasan diperkirakan berasal dari akhir 1980-an, termasuk bungkus saset yang diduga diproduksi sekitar tahun 1989. Selain itu, ditemukan pula sisa obat-obatan yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia dan ekosistem laut.
“Temuan ini menjadi bukti bahwa sampah plastik dapat bertahan sangat lama di lingkungan pesisir dan terus menumpuk jika tidak ada pengelolaan yang serius,” ujar Kepala Sekolah SDIT Al Huda Bawean, Rissky Wahyu Saputra.
Menurut Rissky, hasil penelusuran sementara menunjukkan bahwa sekitar 60 hingga 70 persen sampah berasal dari aktivitas masyarakat setempat, sementara sisanya merupakan sampah kiriman dari laut lepas.
“Artinya, persoalan sampah ini tidak bisa dilepaskan dari perilaku kita sendiri, sekaligus menunjukkan bahwa laut membawa kembali apa yang kita buang,” katanya.

#Pendidikan lingkungan dan kekhawatiran kesehatan anak
Bagi pihak sekolah, aksi ini dirancang sebagai pendidikan karakter dan lingkungan. Rissky menegaskan bahwa anak-anak perlu memahami persoalan lingkungan melalui pengalaman langsung, bukan hanya teori di ruang kelas. Ia berharap kesadaran ini tertanam sejak dini dan terbawa hingga dewasa.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Namun, di balik semangat edukasi, terdapat kekhawatiran serius terkait kesehatan. Pantai yang tercemar sampah dan sisa bahan berbahaya berisiko menjadi sumber paparan zat berbahaya bagi anak-anak yang bermain dan berenang di sana.
“Jika tidak ada pengelolaan dan pemantauan yang baik, kami khawatir ada zat berbahaya yang terus-menerus mengenai kulit atau bahkan terminum,” ujar Rissky. Ia mendorong adanya sistem pemantauan kebersihan pantai secara rutin di setiap desa pesisir.
Kepala Desa Lebak, Fadal, mengakui keterbatasan desa dalam menangani persoalan sampah. Menurutnya, dukungan fasilitas dan pelayanan persampahan masih sangat dibutuhkan agar pengelolaan sampah dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

#Tanggung jawab produsen dan harapan perubahan
Persoalan sampah plastik di Bawean, menurut Ecoton, tidak bisa dilepaskan dari sistem pengelolaan plastik nasional. Alaika Rahmatullah, Manajer Divisi Advokasi dan Kebijakan Ecoton, menilai temuan bungkus saset di pesisir sebagai bukti kegagalan sistemik.
Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip Extended Producer Responsibility (EPR), yang mewajibkan produsen bertanggung jawab atas seluruh siklus hidup kemasan, termasuk pengumpulan kembali setelah digunakan. Tanpa keterlibatan aktif perusahaan, beban pengelolaan sampah akan terus jatuh ke masyarakat dan pemerintah desa.
Kolaborasi dalam aksi ini—melibatkan sekolah, organisasi lingkungan, lembaga internasional, dan pemerintah desa—memberi harapan akan perubahan. Melalui Children Environmental Action, anak-anak tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga simbol agen perubahan di tengah krisis lingkungan pesisir.
Aksi di Pulau Bawean ini menegaskan satu pesan: pendidikan lingkungan sejak dini dan tanggung jawab bersama menjadi kunci menjaga kesehatan pantai, laut, dan generasi masa depan.***