Lewati ke konten

Bojonegoro Turunkan Angka Kemiskinan (Lagi): Dari Bantuan Sosial sampai Ayam Petelur Mandiri

| 3 menit baca |Sorotan | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Hamim Anwar Editor: Supriyadi

BOJONEGORO – Ada kabar baik dari ujung barat Jawa Timur. Bukan, bukan soal jalanan Bojonegoro yang mulus (karena lubang masih suka muncul tiba-tiba kayak mantan pas lagi sepi), tapi soal angka kemiskinan yang kembali menurun.

Menurut data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro, jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 turun jadi 144,9 ribu jiwa atau 11,49 persen. Setahun sebelumnya masih 147,33 ribu jiwa atau 11,69 persen. Artinya, sekitar 2.430 orang berhasil naik kelas—dari kategori “miskin” ke “sedikit lebih lega.”

Mungkin sebagian besar dari mereka belum bisa liburan ke Bali, tapi setidaknya sudah bisa nambah lauk di piring.

#Turun Pelan, tapi Konsisten Seperti Nabung di Celengan Ayam

Kalau dilihat dari lima tahun terakhir, tren kemiskinan di Bojonegoro memang turun terus seperti berat badan pas akhir bulan.

  • Tahun 2021: 13,27 persen (166,52 ribu jiwa)
  • Tahun 2022: 12,21 persen (153,40 ribu jiwa)
  • Tahun 2023: 12,18 persen (153,25 ribu jiwa)
  • Tahun 2024: 11,69 persen (147,33 ribu jiwa)
  • Tahun 2025: 11,49 persen (144,90 ribu jiwa)

 

Lima tahun konsisten menurun itu bukan perkara gampang. Banyak daerah lain baru mau turun, eh malah naik lagi gara-gara harga beras dan cabai ngadi-ngadi.

Namun, sebelum kita keburu tepuk tangan terlalu keras, perlu diingat, Bojonegoro masih di peringkat ke-11 kabupaten termiskin di Jawa Timur. Jadi, kalau Jawa Timur bikin liga kemiskinan, Bojonegoro ini masih masuk papan tengah—belum promosi ke “divisi sejahtera.”

#Resepnya: Dari Bansos sampai Ayam Petelur Mandiri

Kepala Bappeda Bojonegoro, Achmad Gunawan Ferdiansyah, bilang penurunan itu bukan terjadi begitu saja. Ada intervensi pemerintah yang cukup serius.

Katanya, “Penurunan tersebut terjadi pada periode Februari 2025,” ucapnya sebagaimana dikutip Radar Bojonegoro (12/10/2025), sambil ia menjelaskan berbagai jurus yang dipakai pemda—mulai dari bantuan sosial (bansos), pemberdayaan usaha ekonomi produktif, sampai masuknya investasi yang menyerap tenaga kerja.

Tapi yang paling menarik adalah program unggulan tahun ini, Gerakan Ayam Petelur Mandiri (Gayatri).

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Bayangkan, program pengentasan kemiskinan di Bojonegoro sekarang sebagian ditopang ayam. Tapi bukan ayam biasa—ini ayam yang menghasilkan telur dan, tentu saja, harapan.

Program Gayatri ini katanya disokong oleh APBD, APBDes, dan CSR perusahaan. Jadi kalau di satu desa muncul sekumpulan kandang ayam yang lebih rapi dari kantor RT, bisa jadi itu bagian dari gerakan Gayatri.

Tujuannya sederhana, masyarakat bisa punya sumber penghasilan yang berkelanjutan. Alias, nggak cuma dapat bantuan sekali habis, tapi bisa jadi usaha.

Sementara itu, Kepala Dinsos Agus Susetyo Hardiyanto juga menambahkan bahwa tiap tahun Pemkab memang rutin mengalokasikan anggaran pengentasan kemiskinan lewat berbagai program.

“Termasuk bansos untuk warga yang masuk data kemiskinan daerah (Damisda),” ujarnya.

Kalimat itu mungkin terdengar teknokratis, tapi intinya, ada uang yang mengalir untuk bantu yang masih susah. Dan semoga benar-benar sampai, bukan mampir di meja administrasi.

#Masih Panjang Jalan Menuju Bojonegoro Sejahtera

Berdasar data BPS juga, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 1,99 ke 1,46, sementara Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) turun dari 0,69 ke 0,48. Artinya, yang miskin kini sedikit “kurang miskin” dibanding tahun lalu—bukan cuma jumlahnya yang berkurang, tapi juga tingkat parahnya.

Meski begitu, rata-rata kemiskinan di Jawa Timur masih 9,5 persen, jadi Bojonegoro memang perlu kerja lebih keras biar bisa menyusul. Tapi setidaknya arah sudah benar, dan ayam-ayam Gayatri sudah mulai bertelur.

Mungkin, suatu hari nanti, anak-anak di Bojonegoro akan mengenang masa ini sebagai “masa ketika ayam membantu manusia melawan kemiskinan.” Dan itu, kalau dipikir-pikir, cukup epik.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *