Lewati ke konten

Bupati Jombang Borong Tomat Murah: Gratis ke Warga, Harga Pasar Tetap Fluktuatif

| 3 menit baca |Sosok | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Marga Bagus

JOMBANG – Harga tomat jatuh bebas. Bukan jatuh kayak dompet yang lupa di kantong celana, tapi jatuh seperti rasa percaya rakyat terhadap janji pejabat yang sering “nge-lag” di lapangan. Di tengah kabar sedih itu, Bupati Jombang, Warsubi—yang selalu tampil rapi dan fotoable—memutuskan aksi heroik: membeli tomat sebanyak-banyaknya dan membagikannya gratis ke warga.

“Ya, ini bentuk kepedulian kami kepada petani,” ujarnya sambil menenteng kantong tomat, Senin (29/9/2025). Petani tersenyum, warga bingung, dan tukang ojek cuma bisa geleng-geleng kepala. Sementara itu, di pasar, tomat-tomat yang tadinya murah kini hilang bak hantu yang ketakutan oleh lampu sorot.

Fenomena ini bikin kita bertanya-tanya, apakah kepedulian itu tulus, atau cuma kepedulian yang “instagramable”? Yang jelas, warga senang. Gratis kan, siapa yang nolak? Tapi, seperti biasa, senyum warga selalu disertai bisik-bisik kecil: “Besok harganya naik lagi nggak, ya?”

Peduli, Bagaimana Implikasi Terhadap Pasar?

Aksi borong tomat ini mirip drama sinetron: ada yang serius, ada yang lucu, ada yang bikin mata sayu. Petani senang karena sebagian hasil panen mereka laku, tapi efeknya terhadap pasar tidak permanen. Harga tomat bisa naik sesaat saat aksi berlangsung, lalu kembali turun begitu selesai.

“Dengan langkah ini, petani tetap bisa dapat hasil, sekaligus diharapkan membantu menstabilkan harga tomat yang tengah anjlok,” ujar Bupati Warsubi. Kata-katanya terdengar peduli, tapi secara ekonomi, intervensi ini lebih bersifat sesaat daripada solusi jangka panjang.

Bagi warga, momen ini seringkali cuma jadi ajang antre sambil foto-foto. Pasar tetap rentan fluktuasi karena permintaan jangka panjang tidak berubah. Intervensi episodik seperti ini membantu hari itu, tapi tidak menjamin harga stabil untuk minggu-minggu berikutnya.

Warga pun nyeletuk, “Besok kalau ada pejabat lain borong bawang atau cabai, kita siap selfie lagi.” Fenomena ini menunjukkan bahwa aksi peduli terlihat spektakuler, tapi dampak ekonominya lebih mirip sulap, manis sesaat, sementara ilusi harga stabil tetap ilusi.

#Tomat Jadi Politikus Dadakan

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Yang menarik dari aksi ini, tomat-tomat itu mendadak jadi artis. Setiap kantong yang dibagikan direkam, difoto, dan diunggah ke media sosial dan jadi berita. Dalam hitungan jam, tomat-tomat itu lebih terkenal dari artis sinetron yang sedang libur syuting.

“Waduh, ini tomat…,” kata seorang ibu-ibu sambil menggenggam tomat seolah memegang hadiah kemenangan kompetisi. Warganet pun ramai, komentar bercampur, ada yang mengapresiasi, ada yang nyinyir. Tapi, semua sepakat satu hal: hari itu, tomat menang, rakyat juga menang (minimal di perut).

Di sisi lain, petani menghela napas lega. Hasil panen mereka tidak mubazir. Setidaknya untuk satu hari, mereka merasa dihargai. Tapi pertanyaan besar tetap menggantung di udara, “Apakah ada solusi jangka panjang untuk harga tomat yang ambruk? Atau kita cuma menonton “teater peduli” setiap kali harga sayur turun?”

#Gratis Itu Manis, Tapi Tidak Selamanya

Aksi borong tomat ini berhasil bikin senyum warga merekah. Gratis memang manis, tapi kehidupan sehari-hari bukan cuma soal senyum satu kali. Peduli petani itu harus rutin, bukan episodik. Harga stabil, distribusi lancar, dan keberpihakan nyata lebih dibutuhkan daripada kantong tomat gratis yang sesaat.

Namun, jangan salah, bagi sebagian warga, hari itu tetap berkesan. Mereka pulang membawa tomat, pulang dengan perut kenyang, hati sedikit lega. Aksi borong tomat selesai, tapi diskusi soal kepedulian, harga pasar, dan politik pangan akan terus berjalan, seperti tomat yang terus dipanen, dijual, dan kadang dijadikan bintang Instagram.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *