Produksi plastik global terus meningkat, sementara efektivitas daur ulang dipertanyakan. Kritik terbaru membuka fakta lama tentang keterbatasan sistem pengelolaan sampah berbasis plastik saat ini.
Pernyataan Presiden Beyond Plastics, Judith Enck, memantik diskusi soal efektivitas daur ulang plastik. Dalam sebuah video yang beredar luas, Enck menjelaskan bahwa plastik tidak dapat didaur ulang dengan cara yang sama seperti aluminium atau kertas.
“Jika Anda memiliki kaleng aluminium, Anda bisa mendaur ulangnya tanpa batas. Kertas juga bisa diubah menjadi produk baru seperti karton,” kata Enck. “Itu tidak berlaku untuk plastic,” ungkap Enck dalam unggahan di Instagram, @beyondplastics, 19 April 2026.
Menurut dia, masalah utama terletak pada keragaman jenis plastik. Plastik terdiri dari berbagai polimer dengan karakteristik berbeda, mulai dari botol deterjen hingga plastik film di dapur. Perbedaan ini membuat proses daur ulang menjadi rumit, mahal, dan sering kali tidak efisien.
Ia menambahkan bahwa untuk membuat sistem daur ulang plastik benar-benar berhasil, dibutuhkan pemisahan hingga ribuan jenis plastik. “Dalam praktiknya, hal ini hampir mustahil dilakukan dalam skala besar, “ tandas Enck.
Enck juga menyoroti peran industri dalam membentuk persepsi publik. Ia menilai perusahaan-perusahaan besar telah lama mengetahui keterbatasan daur ulang plastik, tetapi tetap mempromosikan narasi sebaliknya.
“Mereka menghabiskan jutaan dolar untuk membuat kita percaya bahwa semua plastik bisa didaur ulang,” ujarnya.
Pernyataan ini memperkuat kritik lama dari kelompok lingkungan yang menyebut kampanye daur ulang sebagai bentuk “greenwashing”. Narasi tersebut dianggap memberi kesan bahwa konsumsi plastik tetap aman selama dibuang ke sistem daur ulang.
Di sisi lain, sebagian pelaku industri berpendapat teknologi terus berkembang. Beberapa inovasi baru diklaim mampu mengubah plastik menjadi bahan bakar atau produk lain, meski masih dalam tahap awal dan belum terbukti efektif secara luas.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
#Respons Netizen dan Alternatif Solusi
Video tersebut memicu respons beragam di media sosial. Sejumlah pengguna menyatakan kekhawatiran sekaligus dorongan untuk mengurangi penggunaan plastik.
“Ini menyedihkan tapi penting dan memberi kesadaran,” tulis seorang netizen. Komentar lain menekankan perlunya tekanan lebih besar terhadap perusahaan. “Seharusnya ada lebih banyak tekanan pada perusahaan untuk mengubah kemasan. Plastik itu beracun.”
Ada juga yang memilih langkah praktis. “Saya berhenti menggunakan plastik dan mulai membuat produk sendiri sejak hampir 10 tahun lalu,” tulis pengguna lain.
Sebagian komentar menawarkan optimisme teknologi. “Teknologi baru sedang dikembangkan untuk mendaur ulang semua plastik menjadi bahan bakar. Masih tahap investasi awal, mungkin operasional dalam dua tahun,” tulis seorang pengguna.
Di luar perdebatan teknologi, muncul pula inisiatif gaya hidup. Model toko tanpa kemasan sekali pakai atau penggunaan wadah guna ulang mulai diperkenalkan sebagai alternatif.
Meski begitu, sejumlah netizen mengingatkan persoalan mendasar lain. “Pertama kita butuh akses air bersih di kota-kota,” tulis komentar yang menyoroti ketergantungan masyarakat pada air kemasan plastik.
Pernyataan Enck memperlihatkan bahwa persoalan plastik tidak hanya soal teknologi daur ulang. Perubahan pola produksi dan konsumsi menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi krisis sampah yang terus meningkat. ***