Lewati ke konten

Deforestasi Indonesia Melonjak 66 Persen, Kalimantan dan Papua Hadapi Tekanan Hutan Terbesar

| 6 menit baca |Ekologis | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Luas deforestasi Indonesia mencapai 433.751 hektare pada 2025. Kenaikan tajam terjadi di seluruh pulau besar, dengan lonjakan tertinggi tercatat di Papua dan sejumlah provinsi di Sumatra.
  • Data terbaru menunjukkan hubungan yang semakin kuat antara kehilangan tutupan hutan, meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi, serta ancaman El Niño yang diperkirakan mulai berkembang pada 2026.

Indonesia kembali menghadapi lonjakan kehilangan hutan dalam skala besar. Data terbaru menunjukkan luas deforestasi nasional pada 2025 mencapai 433.751 hektare atau meningkat 66 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini terjadi di seluruh pulau besar Indonesia dan menandai tekanan yang semakin besar terhadap bentang alam nasional.

Temuan tersebut disampaikan Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Dian Fiantis. Menurutnya, angka deforestasi tidak dapat dipandang sekadar sebagai statistik tahunan, melainkan sinyal bahwa fungsi ekologis berbagai kawasan hutan di Indonesia sedang mengalami pelemahan.

“Semua hutan-hutan pulau besar tercatat menyusut. Kalimantan konsisten menjadi pulau dengan deforestasi terluas sejak 2013,” tulis Dian dalam artikelnya yang terbit di The Conversation pada 9 April 2026.

Data menunjukkan Kalimantan masih menjadi wilayah dengan kehilangan hutan terbesar secara nasional. Namun dari sisi laju peningkatan, Papua mencatat lonjakan paling mencolok. Luas deforestasi di wilayah tersebut bertambah 60.337 hektare atau meningkat 348 persen dibandingkan 2024.

Lonjakan serupa juga terjadi di sejumlah provinsi di Sumatera. Aceh mencatat kenaikan deforestasi sebesar 426 persen, Sumatera Utara 281 persen, dan Sumatera Barat mencapai 1.034 persen.

Angka-angka tersebut menarik perhatian karena muncul setelah ketiga provinsi itu mengalami bencana longsor dan banjir besar pada penghujung 2025. Dalam sejumlah kejadian, kerusakan kawasan hulu dan daerah aliran sungai diduga memperbesar dampak bencana yang terjadi.

#Deforestasi, Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Bagi Dian, data di Sumatera memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai hubungan antara perubahan tutupan lahan dan meningkatnya risiko bencana. Sebagai peneliti yang banyak melakukan kajian tanah dan lingkungan di Sumatera, ia melihat korelasi tersebut semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, lonjakan deforestasi di wilayah itu berjalan seiring dengan meningkatnya frekuensi serta skala bencana hidrometeorologi. Ketika kawasan hulu kehilangan tutupan vegetasi, kemampuan tanah menahan air ikut berkurang.

Akibatnya, saat hujan deras turun dalam waktu singkat, air lebih banyak mengalir di permukaan daripada meresap ke dalam tanah. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir bandang, longsor, dan sedimentasi sungai.

Dalam sejumlah peristiwa banjir yang terjadi di Sumatera akhir tahun lalu, masyarakat juga menemukan banyak gelondongan kayu yang hanyut terbawa arus. Temuan tersebut menjadi salah satu indikasi adanya gangguan pada kawasan hutan di bagian atas daerah aliran sungai.

“Saat banjir Sumatera, kita melihat ada banyaknya gelondongan kayu yang ikut terbawa arus. Meski tidak semua kayu-kayu tersebut hasil penebangan hutan, data ini memperlihatkan hubungan antara deforestasi dan bencana yang sangat jelas,” ujar Profesor Tamu Kehormatan (Honorary Visiting Professor) di Fakultas Pertanian dan Ilmu Lingkungan Universitas Sydney ini.

Persoalan di Sumatera tidak berhenti pada ancaman bencana. Wilayah ini juga merupakan salah satu pusat produksi pangan nasional yang menopang kebutuhan jutaan penduduk Indonesia.

Sebagian besar lahan pertanian di Sumatera berkembang pada tanah vulkanis dan aluvial yang dikenal memiliki tingkat kesuburan tinggi. Keberadaan kawasan hutan di sekitarnya berperan penting menjaga ketersediaan air, stabilitas tanah, serta keseimbangan ekosistem pertanian.

Ketika hutan terus menyusut, yang terancam bukan hanya habitat satwa dan keanekaragaman hayati. Produktivitas lahan pertanian juga berpotensi mengalami penurunan akibat terganggunya siklus hidrologi dan meningkatnya risiko erosi.

Dampak tersebut dapat menjalar ke sektor pangan nasional. Sumatera bersama Jawa dan Sulawesi merupakan wilayah utama penghasil padi, jagung, serta berbagai komoditas hortikultura.

Gangguan terhadap produksi pangan di salah satu kawasan itu berpotensi memengaruhi pasokan nasional. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kelangkaan dan tekanan harga pangan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Ancaman menjadi semakin kompleks karena peningkatan deforestasi terjadi menjelang potensi kemunculan fenomena El Niño. Sejumlah model iklim global memperkirakan El Niño mulai berkembang sejak April 2026.

#Udara Kering Kelembaban Menurun

Berdasarkan analisis yang dikutip Dian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), fenomena yang datang kali ini berpotensi berada dalam kategori kuat atau sering disebut sebagai El Niño Godzilla. Kondisi tersebut dapat memicu musim kemarau lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Dalam situasi seperti itu, kawasan yang telah mengalami deforestasi akan menghadapi risiko yang lebih besar. Hutan tropis sejatinya berfungsi sebagai pengatur siklus air sekaligus penyangga iklim lokal.

Melalui proses evapotranspirasi, vegetasi melepaskan uap air ke atmosfer yang membantu pembentukan awan dan menjaga kestabilan hujan. Ketika tutupan hutan hilang, mekanisme tersebut ikut terganggu.

Udara menjadi lebih kering, kelembapan menurun, dan pembentukan awan berkurang. Dampaknya, curah hujan lokal dapat menurun dan memperpanjang periode kekeringan.

Pada saat bersamaan, lahan yang kehilangan tutupan vegetasi menjadi lebih mudah panas dan cepat mengering. Kondisi ini meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah.

Menurut Dian, dampak terburuk tidak selalu muncul ketika El Niño berada pada fase puncak. Risiko yang lebih besar justru dapat terjadi saat sistem iklim mulai bertransisi menuju kondisi netral dan kemudian berkembang menjadi La Niña.

Setelah mengalami periode kering yang panjang, struktur tanah mengalami perubahan. Kandungan bahan organik berkurang sehingga kemampuan tanah untuk mempertahankan stabilitasnya ikut menurun.

Ketika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, tanah yang telah mengalami degradasi tidak lagi mampu menyerap air secara optimal. Air yang seharusnya meresap berubah menjadi limpasan cepat yang bergerak menuju sungai dan kawasan permukiman.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pemicu utama bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, longsor, dan erosi. Dalam konteks ini, deforestasi tidak hanya meningkatkan risiko saat musim kemarau, tetapi juga memperbesar ancaman ketika musim hujan kembali datang.

“Pada akhirnya kita terjebak dalam lingkaran setan: deforestasi ditambah El Niño memicu kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, lalu menghasilkan lebih banyak kawasan gundul yang semakin rentan terhadap bencana,” tulis Dian.

Temuan ini menunjukkan bahwa bencana lingkungan di Indonesia tidak lagi dapat dijelaskan melalui satu penyebab tunggal. Perubahan iklim global, kerusakan hutan, kondisi tanah, tata kelola lahan, serta aktivitas manusia saling berinteraksi membentuk risiko yang semakin kompleks.***

Karena itu, para peneliti menilai pendekatan mitigasi bencana perlu bergerak melampaui sekadar prediksi cuaca. Kondisi hutan, kesehatan daerah aliran sungai, serta kualitas tanah harus menjadi bagian dari sistem peringatan dini dan perencanaan pembangunan.

Lonjakan deforestasi pada 2025 menjadi peringatan bahwa hilangnya tutupan hutan tidak hanya berdampak pada lingkungan. Di tengah ancaman El Niño dan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, keberadaan hutan juga menentukan ketahanan pangan, ketersediaan air, dan kemampuan Indonesia menghadapi bencana di masa mendatang.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *