Lewati ke konten

Denyut Baru di Jendela Tua: Menghidupkan Kembali Ingatan Kota Lama Surabaya

| 5 menit baca |Rekreatif | 14 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Marga Bagus

Penataan kawasan menghadirkan kembali denyut sejarah Kota Lama Surabaya. Di antara bangunan tua dan langkah kaki pengunjung, ingatan kota perlahan hidup kembali di ruang publik.

Langkah kaki terdengar lebih jelas di kawasan Kota Lama Surabaya. Suara kendaraan tidak benar-benar hilang, tetapi berjalan lebih lambat, seolah mengikuti ritme kawasan yang tak lagi tergesa. Bangunan tua berdiri berderet, sebagian telah dipugar, sebagian lain masih menampilkan retakan usia yang sulit disembunyikan.

Pada akhir pekan orang-orang datang. Mereka berjalan kaki, berhenti meski sesaat, memandangi fasad bangunan, lalu mengangkat ponsel atau sekadar mengamati. Kawasan ini perlahan berubah dari ruang transit menjadi ruang pengalaman.

Nahdia, 24 tahun, mahasiswa asal Surabaya, mengaku baru pertama kali benar-benar menyusuri kawasan tersebut. Selama ini ia hanya melewati jalan di sekitarnya tanpa pernah berhenti. “Kalau jalan kaki, rasanya beda. Kita jadi sadar bangunannya punya cerita,” katanya.

Bagi Nahdia, suasana Kota Lama menghadirkan jeda yang jarang ditemukan di kota besar. Tidak ada dorongan untuk cepat berpindah. Ia merasa seperti diajak memperlambat langkah dan memperhatikan detail yang biasanya terlewat.

Perubahan suasana itu terasa kontras dengan beberapa tahun lalu ketika kawasan ini dikenal sepi. Banyak bangunan tertutup, jalanan lengang, dan aktivitas warga hampir tidak terlihat. Kota Lama pernah hadir secara fisik, tetapi nyaris hilang dari perhatian warganya sendiri.

Kini, perlahan, kawasan itu kembali dicari. Bukan karena kemegahan baru, melainkan karena rasa ingin tahu terhadap masa lalu yang masih berdiri di tengah kota modern.

Suasana sore di Kota Lama Surabaya menghadirkan deretan bangunan berarsitektur kolonial yang menjadi ikon sejarah sekaligus destinasi wisata, tempat warga menikmati wajah lama kota. | Foto: Shella.

#Jejak Pelabuhan, Dagang, dan Pergeseran Zaman

Sejarah kawasan ini tidak bisa dilepaskan dari kedekatannya dengan pelabuhan dan aliran Sungai Kalimas. Sejak abad ke-18, seiring perkembangan kawasan ini berlangsung tumbuh kembangnya aktivitas perdagangan di Surabaya pada masa kolonial.

Deretan gudang, kantor dagang, serta bangunan perbankan dibangun untuk menopang pergerakan ekonomi yang kala itu menjadikan kota ini sebagai simpul penting perdagangan di wilayah timur Jawa. Arsitektur bergaya Eropa yang masih bertahan hingga kini menjadi penanda periode tersebut – dengan pilar tinggi, jendela besar, dan dinding tebal yang mencerminkan fungsi sekaligus status ekonomi pada zamannya.

Arsitektur bergaya Eropa yang masih bertahan hari ini menjadi saksi periode itu. Pilar tinggi, jendela besar, dan dinding tebal dirancang bukan hanya untuk estetika, tetapi juga fungsi—menjaga suhu ruang sekaligus menunjukkan status ekonomi pemiliknya.

Namun perubahan zaman membawa pergeseran. Aktivitas ekonomi bergeser ke pusat kota baru. Kawasan lama perlahan kehilangan peran strategisnya. Bangunan yang dulu ramai menjadi kosong, sebagian berubah fungsi, sebagian lain terbengkalai.

Adi, 58 tahun, warga yang tinggal di sekitar kawasan sejak kecil, mengingat masa ketika Kota Lama nyaris terlupakan. “Dulu orang lewat saja. Tidak ada alasan berhenti,” ujarnya. Ia menyebut kawasan itu seperti kehilangan identitasnya sendiri.

Kondisi tersebut berlangsung cukup lama hingga muncul upaya penataan ulang beberapa tahun terakhir. Pemerintah kota mulai memperbaiki infrastruktur jalan, menata trotoar, dan mendorong pelestarian bangunan cagar budaya. Perlahan, perubahan visual diikuti perubahan cara orang memandang kawasan ini.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kini, sejarah tidak lagi terasa jauh. Ia hadir dalam bentuk nyata yang bisa disentuh dan dilihat, bukan sekadar cerita di buku pelajaran.

Kawasan Kota Lama perlahan berubah dari jalur lintasan menjadi tujuan wisata berjalan kaki yang menghadirkan pengalaman kota yang lebih reflektif. | Foto: Shella

#Antara Wisata, Ingatan, dan Masa Depan Kawasan

Keramaian mulai kembali, tetapi dengan karakter berbeda. Pengunjung datang untuk berjalan, memotret, dan memahami suasana. Sandy, 32 tahun, pengunjung dari luar kota, mengatakan ia tertarik karena ingin melihat sisi lain Surabaya yang jarang dikenal. “Biasanya orang cari tempat modern. Di sini justru terasa hidup karena tuanya,” katanya.

Beberapa titik kini dilengkapi papan informasi yang menjelaskan fungsi bangunan pada masa lalu. Penanda sederhana itu memberi konteks bagi pengunjung, membuat pengalaman berjalan terasa seperti membaca potongan sejarah secara langsung.

Nahdia mengaku informasi tersebut membuat kunjungannya lebih bermakna. Ia tidak lagi melihat bangunan hanya sebagai latar foto. “Jadi tahu dulu tempat ini apa. Rasanya lebih menghargai,” ujarnya.

Namun kembalinya perhatian publik juga menghadirkan kekhawatiran warga. Slamet, penduduk sekitar kawasan, berharap perkembangan tidak menghapus karakter sejarah yang menjadi identitas utama Kota Lama. Baginya, keramaian memang membawa harapan ekonomi, tetapi juga risiko perubahan yang terlalu cepat.

“Ramai itu bagus, tapi jangan sampai semua jadi sama seperti tempat lain,” katanya.

Kota Lama kini berada di persimpangan: antara ruang sejarah dan ruang publik modern. Bangunan-bangunan tua tidak lagi menjalankan fungsi awalnya, tetapi menemukan peran baru sebagai ruang temu warga lintas generasi.

Di tengah kota yang terus bergerak cepat, kawasan ini menawarkan pengalaman berbeda—lebih tenang, lebih reflektif. Ia mengingatkan bahwa kota bukan hanya tentang pembangunan baru, tetapi juga tentang merawat jejak yang telah membentuknya.

Kota Lama Surabaya menunjukkan bahwa sejarah tidak harus dibekukan dalam museum. Ia bisa tetap hidup, dilalui langkah kaki sehari-hari, dan terus ditafsirkan ulang oleh mereka yang datang. Selama masih ada orang yang bersedia berhenti sejenak dan melihat lebih dekat, ingatan kota itu akan terus menemukan jalannya kembali.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *