Lewati ke konten

Diplomasi Sampah dari Gresik: Aeshnina Azzahra Aqilani dan Perlawanan Anak Muda atas Pencemaran Global

| 5 menit baca |Ekologis | 43 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Redaksi
Terverifikasi Bukti

KAMI SENGAJA mengulang-ulang cerita tentang Aeshnina Azzahra Aqilani, atau Nina, gadis 17 tahun dari Wringinanom, Gresik, Jawa Timur. Bukan karena kehabisan bahan berita, tapi karena kisah seperti Nina itu masih langka di negeri yang lebih sering ribut soal FYP daripada ekosistem sungai.

Nina kecil tumbuh di tepi sungai yang berbau limbah. Di saat anak-anak lain sibuk main lato-lato atau scroll TikTok, ia sibuk mengamati botol plastik yang nyangkut di akar bambu.

Mungkin benar, darah aktivis mengalir dari ayahnya, Prigi Arisandi, seorang pejuang lingkungan. Tapi keberanian Nina, itu lahir dari dirinya sendiri.

Kini, namanya menembus batas benua. Ia bukan influencer skincare, bukan content creator yang pamer morning routine. Ia adalah remaja yang menegur dunia, “Hei, berhentilah menenggelamkan masa depan anak-anak lewat limbah plastikmu.”

Dan dunia mendengar. Nina kini sejajar dengan Malala Yousafzai dan Greta Thunberg. Ia menjadi finalis International Children’s Peace Prize 2025, bersama Bana Alabed (Suriah/Turki) dan Divyansh Agrawal (AS). Ajang bergengsi itu akan digelar di Balai Kota Stockholm, Swedia, tempat yang sama dengan Nobel Prize.

Sementara itu, kita di sini masih bingung, gimana caranya buang sampah organik dan anorganik di tempat berbeda.

Nina berbicara langsung dengan Inger Andersen, Direktur Eksekutif United Nations Environment Programme (UNEP), dalam ajang Intergovernmental Negotiating Committee (INC 5) di Busan, Korea Selatan. Dalam pertemuan itu, Nina menyuarakan pentingnya perjanjian global yang kuat untuk melindungi manusia dan lingkungan dari ancaman polusi plastik. | Foto: Dok Nina

#Nina Ungkapkan Kekecewaan di INC 5

“Negosiasinya Tidak Sejalan dengan Harapan Kami”

Di balik wajah ramahnya, Nina juga bisa kecewa, terutama kalau menyangkut masa depan bumi.

Kami masih ingat betul bagaimana ia mengungkapkan kekecewaannya di ruang konferensi Intergovernmental Negotiating Committee 5 (INC 5) yang digelar di Busan, Korea Selatan.

Seharusnya acara itu jadi langkah besar menuju perjanjian global untuk mengatasi polusi plastik. Tapi, seperti banyak hal lain yang melibatkan politik dan uang, harapan itu kandas di tengah jalan.

“Negosiasi berjalan tidak sesuai yang kami harapkan,” ujar Nina, ketika kirim rilis dari Busan, Ahad, 1 Desember 2024.

“Delegasi negara-negara produsen petrokimia dan kimia seperti Arab Saudi dan Rusia, berusaha mencegah lahirnya perjanjian yang kuat untuk membatasi produksi plastik dan mengatur bahan kimia berbahaya di dalamnya.”

Ruang sidang yang semestinya penuh semangat kolaborasi malah jadi arena tarik-menarik kepentingan. Delegasi negara penghasil minyak menolak pembatasan penggunaan produk plastik dengan alasan klasik: bisa mengganggu ekonomi mereka.

“Padahal,” kata Nina pelan tapi tajam, “yang sedang kita bicarakan bukan sekadar ekonomi. Kita sedang bicara tentang masa depan bumi.”

Konferensi INC 5 yang berlangsung 25 November–1 Desember 2024 itu merupakan bagian penting dari upaya dunia menyusun Perjanjian Global Pengendalian Polusi Plastik di bawah PBB. Tapi bagi Nina, hasilnya cuma satu:

“Perjuangan menuju keadilan lingkungan masih panjang, dan dunia masih sibuk berdebat siapa yang boleh buang sampah lebih banyak.”

Penghargaan International Children’s Peace Prize diberikan setiap tahun kepada seorang anak yang berjuang dengan berani untuk memperjuangkan hak-hak anak. | Foto: Kidsrights

#“We Need Strong Treaty!”

Kekecewaan Nina tak berhenti di ruang sidang. Pada Kamis malam, 28 November 2024, di sela jamuan makan malam di ruang 121, BEXCO Exhibition II, Busan, ia berkesempatan berbicara langsung dengan Inger Andersen, Direktur Eksekutif United Nations Environment Programme (UNEP).

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Bayangkan, seorang gadis 17 tahun dari Gresik, sebuah dusun bersembunyau, duduk semeja dengan pejabat tinggi PBB. Dan bukannya basa-basi, ia langsung mengangkat isu paling menakutkan di abad ini, mikroplastik yang mengancam anak-anak.

Nina bahkan membawa replika bayi-bayi yang terkontaminasi mikroplastik dalam toples, simbol betapa seriusnya masalah ini. Tapi reaksi Inger di luar dugaan. Saat diajak berfoto, pejabat asal Denmark itu menolak sambil berkata, “It is too much!” (Ini berlebihan!)

Seketika suasana jadi canggung. Tapi Nina tak mundur. Ia menjelaskan bahwa di Indonesia, industri daur ulang kertas impor justru mencemari lingkungan—karena bahan bakunya berasal dari limbah negara-negara maju seperti AS, Jerman, Prancis, Belanda, Kanada, dan Australia.

“Daur ulang sampah impor di Indonesia mencemari lingkungan,” tegas Nina.

Namun Inger menimpali dengan nada diplomatis, “Itu harus kamu tunjukkan kepada pemerintahmu sendiri. Saya tahu fakta-fakta yang menakutkan di negaramu.”

Alih-alih tersinggung, Nina malah menatap balik dan menjawab dengan tegas, “We need strong treaty!”

“Kita butuh perjanjian yang kuat untuk melindungi manusia dan lingkungan dari mikroplastik!”

Kata-katanya memantul di ruangan jamuan malam itu, di antara piring porselen dan gelas anggur, suara remaja dari Gresik terdengar paling jernih.

Dan mungkin, untuk sesaat, dunia benar-benar mendengarnya.

Nina tengah mengkampanyekan bahaya mikroplastik yang mencemari sungai dan laut. Melalui aksi dan edukasinya, ia mengajak anak-anak dan masyarakat untuk memahami bahwa partikel kecil plastik ini membawa dampak besar bagi kesehatan manusia dan lingkungan. | Foto: Dok Nina

#Dari Busan ke Stockholm: Suara yang Tak Bisa Diabaikan

Dari Busan yang dingin hingga Stockholm yang jauh di utara, nama Nina terus menggema. Di saat banyak pemimpin dunia masih sibuk menimbang untung rugi industri plastik, Nina memilih menuntut satu hal sederhana, berpihaklah pada kehidupan.

Ia bukan politisi, bukan ekonom, bukan diplomat. Ia hanyalah “anak sungai” yang berani melawan arus. Dan mungkin karena itulah suaranya terdengar lebih jujur.

Kelak, di Balai Kota Stockholm, 19 November mendatang, Nina akan berdiri di panggung menerima penghormatan sebagai penggerak muda yang berani memperjuangkan hak-hak anak di seluruh dunia.

Melalui acara tahunan ini, Global Child Forum bersama KidsRights Foundation ingin menyoroti peran penting dunia usaha dalam mendukung kepemimpinan anak muda, sekaligus memperkuat komitmen bersama menuju masa depan yang berkelanjutan, adil, dan berlandaskan hak asasi bagi semua anak.

Dan nanti, ketika Nina menggenggam Patung Nkosi, simbol perdamaian anak dunia, itu bukan sekadar kemenangan satu gadis dari Gresik. Itu adalah kemenangan bagi sungai-sungai yang selama ini dibungkam oleh limbah, dan bagi semua anak yang berani bersuara ketika dunia memilih diam.

Karena dari sungai yang berbau limbah itulah, kita belajar satu hal sederhana tapi abadi, “Bumi tidak butuh pemimpin yang pintar bicara, tapi manusia yang berani peduli.”***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *