- Hujan deras kembali memunculkan genangan di sejumlah ruas jalan Surabaya meski pembangunan box culvert terus dilakukan.
- Kendaraan mogok, usaha kecil terdampak, dan kemacetan panjang menunjukkan persoalan drainase belum sepenuhnya teratasi dari hulu hingga hilir.
Hujan deras yang mengguyur Surabaya selama beberapa jam terakhir kembali menguji efektivitas sistem drainase kota. Di sejumlah titik, termasuk kawasan Simo Kalangan, genangan air muncul dalam waktu singkat dan merendam badan jalan hingga setengah roda mobil. Arus lalu lintas tersendat, kendaraan roda dua mogok, dan aktivitas ekonomi warga terganggu. Situasi ini memunculkan pertanyaan publik: mengapa banjir instan masih terjadi meski saluran box culvert berukuran besar telah dibangun di berbagai lokasi?
Genangan mulai terbentuk setelah hujan berintensitas tinggi turun selama beberapa jam. Di kawasan Simo Kalangan, air meluap dari saluran drainase dan menggenangi jalan utama yang menjadi jalur mobilitas warga.
Ketinggian air di beberapa titik mencapai setengah roda mobil dan setinggi lutut orang dewasa. Kondisi tersebut menyebabkan kendaraan melambat, memicu antrean panjang, dan membuat sejumlah pengendara sepeda motor terjebak di tengah genangan.
Fenomena ini terjadi meskipun Pemerintah Kota Surabaya telah mengembangkan jaringan box culvert sebagai bagian dari program pengendalian banjir. Infrastruktur beton berukuran besar tersebut dirancang untuk memperbesar kapasitas aliran air dan mengurangi genangan saat hujan deras.
Namun, kondisi lapangan menunjukkan kapasitas saluran besar belum otomatis menjamin air dapat mengalir dengan cepat apabila terdapat hambatan pada jaringan drainase yang terhubung di tingkat lingkungan maupun saluran sekunder.
#Motor Mogok dan Pendapatan Harian Hilang
Dampak paling cepat dirasakan oleh para pekerja yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di jalan.
Nurul Hidayah (38), pengemudi ojek online, harus menuntun sepeda motornya setelah mesin mati akibat menerjang genangan di kawasan Simo Kalangan.
“Awalnya saya kira genangannya biasa saja karena di bawah jalan ini kan barusan dipasang box culvert besar. Ternyata airnya meluap cepat sekali dari lubang saluran, seperti mampet di dalam, sampai motor saya langsung mati mendadak karena mesinnya terendam air setinggi knalpot,” ujarnya pada Senin, 22 Juni 2026.
Bagi Nurul, kerugian yang ditimbulkan bukan hanya biaya perbaikan kendaraan, tetapi juga hilangnya kesempatan memperoleh pendapatan harian.
“Kalau sudah banjir dan motor mogok seperti ini, rasanya mau menangis di pinggir jalan. Orderan yang harusnya bisa diselesaikan terpaksa dibatalkan, akun saya bisa kena penalti, dan orderan berikutnya hilang semua,” katanya.

Menurut Nurul, pembangunan drainase besar seharusnya mampu memberikan perlindungan bagi warga yang setiap hari bekerja di jalanan. Ia berharap pemerintah mengevaluasi kondisi saluran di bawah permukaan yang diduga mengalami penyumbatan atau tidak terhubung secara optimal dengan sistem pembuangan utama.
#Air Got Meluap, Pedagang Kehilangan Pembeli
Genangan juga berdampak pada pelaku usaha mikro yang berjualan di sekitar jalan raya.
Supardi (52), pemilik warung penyetan di tepi Jalan Simo Kalangan, mengaku air got meluap masuk ke area usahanya sesaat setelah hujan deras berlangsung cukup lama.
“Air luapan dari got itu hitam, bau, dan naiknya cepat sekali kalau hujan deras lebih dari satu jam. Saluran air di depan warung saya ini ukurannya kecil dan sepertinya tidak pernah dikeruk lumpurnya,” ujarnya.
Akibat luapan tersebut, pelanggan enggan berhenti dan memilih mencari lokasi lain yang lebih aman dari genangan.
“Modal untuk belanja bahan dagangan hari ini terancam hangus begitu saja karena tidak ada satu pun pembeli yang mau makan di tengah genangan air sekotor ini,” kata Supardi.
Ia berharap pemeliharaan saluran kecil di kawasan permukiman dan pusat aktivitas ekonomi mendapat perhatian yang sama besar dengan pembangunan infrastruktur utama.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel#Konteks: Box Culvert Tidak Bekerja Sendiri
Dalam sistem drainase perkotaan, box culvert berfungsi sebagai saluran utama yang menampung debit air dalam jumlah besar. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi saluran lingkungan, saluran sekunder, dan konektivitas menuju rumah pompa maupun sungai.
Ketika saluran-saluran kecil mengalami sedimentasi lumpur, tersumbat sampah, atau memiliki kapasitas yang tidak memadai, air hujan akan tertahan sebelum mencapai box culvert. Akibatnya, genangan muncul lebih cepat di permukaan jalan.
Selain itu, ketidaksinkronan antara saluran sekunder dan rumah pompa dapat memperlambat proses pembuangan air. Dalam kondisi hujan ekstrem, hambatan sekecil apa pun dapat menyebabkan air meluap kembali ke jalan dan permukiman.
Persoalan ini menunjukkan bahwa pengendalian banjir tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur baru, tetapi juga pada pemeliharaan rutin dan integrasi seluruh jaringan drainase kota.
#Dampak terhadap Warga dan Ekonomi Lokal
Banjir instan membawa konsekuensi yang meluas. Bagi pengendara, genangan meningkatkan risiko kerusakan kendaraan dan kecelakaan. Bagi pekerja informal seperti pengemudi ojek online, setiap jam yang hilang berarti berkurangnya pendapatan.
Sementara itu, bagi pedagang kecil, genangan dapat menurunkan jumlah pelanggan, merusak bahan dagangan, dan mengurangi omzet harian. Dalam jangka panjang, kerugian ekonomi yang dialami warga berpotensi lebih besar dibanding biaya pemeliharaan drainase yang dilakukan secara berkala.
Kemacetan yang terjadi juga berdampak pada produktivitas kota karena memperlambat mobilitas pekerja, distribusi barang, dan aktivitas perdagangan.
Kondisi ini menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Surabaya untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase yang telah dibangun.
Langkah yang dapat dilakukan antara lain mempercepat pengerukan sedimentasi pada saluran sekunder, membersihkan sampah secara berkala, memetakan titik hambatan aliran, serta memastikan konektivitas antara box culvert, rumah pompa, dan sungai berjalan optimal.
Selain itu, pemantauan rutin terhadap kawasan rawan genangan perlu diperkuat agar potensi penyumbatan dapat terdeteksi lebih awal sebelum memasuki musim hujan.
Partisipasi warga dalam menjaga kebersihan saluran juga menjadi faktor penting agar sistem drainase dapat berfungsi sesuai kapasitas yang direncanakan.
Genangan yang kembali melumpuhkan sejumlah ruas jalan Surabaya menunjukkan bahwa pembangunan drainase besar belum cukup apabila tidak diikuti pemeliharaan dan integrasi sistem secara menyeluruh.
Ketika saluran lingkungan tersumbat dan aliran air tidak mengalir lancar menuju rumah pompa maupun sungai, box culvert yang dirancang menampung debit besar pun kehilangan efektivitasnya. Di tengah ambisi membangun kota yang tangguh terhadap banjir, pengalaman warga di jalanan menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan infrastruktur bukan hanya terletak pada besarnya proyek yang dibangun, melainkan pada sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat sehari-hari.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.