Lewati ke konten

Dua Puluh Ton Pestisida Cemari Sungai Cisadane Hingga Hilir

| 5 menit baca |Eksploratif | 21 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Tim Redaksi Editor: Supriyadi

Insiden kebakaran gudang pestisida di Tangerang Selatan memicu pencemaran sepanjang 22,5 kilometer Sungai Cisadane, mengancam ekosistem, air minum, dan ekonomi warga.

Asap pekat masih membekas di ingatan warga Taman Tekno BSD, Kota Tangerang Selatan, ketika bau menyengat mulai tercium dari arah sungai pada Senin, 9 Februari 2026. Gudang milik PT Biotek Saranatama terbakar. Di dalamnya tersimpan pestisida jenis cypermethrin dan profenofos. Sekitar 20 ton bahan kimia itu dilaporkan hangus.

Data Dinas Bina Marga dan Pengairan Umum Kota mencatat Sungai Cisadane membentang sekitar 73 kilometer, dengan anak sungai utama seperti Kali Cirompang, Cibarengkok, Medang, Jalatreng, dan Cisalak. Saat musim hujan, debitnya bisa mencapai 950.000 liter per detik. Namun, besarnya aliran tak serta-merta menetralkan racun yang telah larut dalam kolom air—Cisadane tetap menunjukkan tanda-tanda sakit kritis.| Foto: Pinterest/Ircham Muhammad

Namun yang terbakar bukan hanya stok dagangan. Air sisa pemadaman yang bercampur residu pestisida mengalir ke Sungai Jaletreng, anak Sungai Cisadane. Dari sana, aliran bergerak menuju hilir.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq menyatakan pencemaran meluas hingga sekitar 22,5 kilometer, melintasi Tangerang Selatan, Kota Tangerang, hingga Kabupaten Tangerang.

“Kurang lebih 20 ton pestisida terbakar, dan air sisa pemadaman yang bercampur residu kimia mengalir hingga mencemari sungai. Kondisi ini sangat berdampak serius terhadap ekosistem perairan dan masyarakat di sekitarnya,” ujar Hanif dalam keterangan resmi, yang dikutip Tempo, Rabu, 11 Februari 2026.

Warga melihat perubahan semakin jelas. Air sungai berubah warna menjadi putih, berbusa, dan baunya mengganggu penciuman.

Tamam, warga bantaran, menyebut aromanya menyerupai minyak tanah. Meski petugas memastikan cairan tersebut bukan bahan bakar mudah terbakar, perubahan fisik itu menjadi isyarakat keras bagi lingkungan akan pencemaran.

Tak lama, ikan-ikan mengambang. Ikan mas, baung, patin, nila, hingga sapu-sapu ditemukan mati. Sungai yang biasa menjadi ruang hidup dan sumber penghidupan berubah menjadi lorong kematian.

KLH/BPLH mengambil sampel air di hulu dan hilir Cisadane, serta sepuluh sampel ikan mati untuk diuji laboratorium. Pemeriksaan juga menyasar air tanah dan biota lain dengan melibatkan ahli toksikologi.

Dinas Lingkungan Hidup Tangerang Selatan mengambil sampel di empat titik dan menjanjikan hasil uji dalam 14 hari kerja.

Di tengah penantian itu, satu fakta tak terbantahkan: sungai telah menerima limpahan bahan berbahaya dan beracun.

#Karakter Racun dan Risiko Ekologis

Menurut pendiri Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton), Prigi Arisandi, dua bahan yang tumpah memiliki tingkat toksisitas tinggi bagi organisme air.

Cypermethrin dan profenofos itu dirancang untuk menyerang sistem saraf serangga. Ketika masuk ke sungai, dampaknya bisa sangat serius bagi ikan dan biota air lainnya, bahkan dalam konsentrasi rendah sekali pun,” ujar Prigi, Kamis, (12/2/2026).

Infografik: Kebakaran gudang pestisida PT Biotek Saranatama melepaskan 20 ton bahan kimia ke Sungai Cisadane. Pencemaran membentang hingga 22,5 kilometer, memicu kematian biota, gangguan pasokan air baku, dan estimasi biaya pemulihan hingga lebih dari Rp50 miliar.

Cypermethrin merupakan insektisida golongan piretroid sintetis yang bekerja sebagai racun kontak dan lambung untuk membunuh ulat, wereng, serta serangga pengunyah pada padi, cabai, tomat, kubis, kedelai, dan jagung.

Profenofos termasuk organofosfat, racun kontak yang digunakan pada kapas, cabai, bawang merah, dan sayuran.

Target kedua senyawa itu pada sistem saraf. Pada ikan, paparannya dapat memicu gangguan saraf, kejang, gangguan pernapasan, hingga kematian. Piretroid seperti cypermethrin dikenal sangat beracun bagi ikan bahkan pada kadar rendah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Organofosfat seperti profenofos bekerja dengan menghambat enzim asetilkolinesterase, sehingga mengganggu transmisi impuls saraf.

“Efeknya bisa akut, seperti kematian ikan massal. Tapi yang lebih berbahaya justru efek kronisnya, yaitu pada gangguan reproduksi, telur tidak menetas, sampai perubahan struktur komunitas biota sungai,” kata Prigi.

Masuknya bahan kimia juga dapat menurunkan kadar dissolved oxygen (DO) atau oksigen terlarut. Untuk menopang kehidupan ikan, DO minimal sekitar 2,6 mg/L, sedangkan untuk air baku minum ambang yang lebih aman sekitar 4 mg/L.

“Kalau DO turun akibat reaksi kimia dan pembusukan bahan organik, ikan akan mengalami stres berat. Dalam kondisi tertentu, itu bisa mempercepat kematian,” tambahnya.

Cisadane merupakan ekosistem penting sekaligus sumber air baku bagi jutaan warga. PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang sempat menghentikan produksi selama tujuh jam sebagai langkah antisipatif. Tim pengolah air mencium bau menyerupai minyak tanah dari air baku yang diolah.

“Ini bukan hanya soal kualitas air, tapi soal rasa amannya warga. Sungai yang tercemar berarti risiko kesehatan dan ekonomi ikut terdampak,” tegas Prigi.

Dengan jarak sekitar 30 kilometer dari titik pelepasan limbah menuju laut utara Tangerang, potensi dampak tidak berhenti di batas wilayah administratif saja.

“Kalau residu terbawa sampai muara, dampaknya bisa meluas ke ekosistem pesisir. Pemulihannya tentu jauh lebih mahal dan panjang,” ujarnya.

Pemeriksaan kualitas air cisadane yang dilakukan pegawai DLH Kota Tangerang bersama kepolisian. Foto: Antara/Irfan

#Restorasi Mahal dan Tanggung Jawab Lingkungan

Prigi menegaskan, pemulihan sungai tercemar B3 harus dilakukan secara sistematis. “Langkah pertama adalah tanggap darurat dan clean up. Residu harus segera diangkat dan diolah sebagai limbah B3 agar tidak menyebar lebih jauh.”

Biaya angkutan dan pengolahan limbah B3 di Jawa berkisar Rp1,5–3 juta per meter kubik. Untuk bentang sungai 20–30 kilometer, estimasi pembersihan awal berada pada kisaran Rp5 miliar hingga Rp20 miliar.

“Setelah itu harus ada monitoring jangka panjang. Jangan berhenti di bersih secara kasat mata. Air dan sedimen harus diuji rutin untuk memastikan tidak ada akumulasi racun.”

Monitoring selama 12 bulan diperkirakan memerlukan Rp1–5 miliar. Tahap berikutnya adalah rehabilitasi habitat dan kompensasi sosial-ekonomi bagi warga terdampak.

Secara keseluruhan, estimasi pemulihan bisa mencapai Rp13 miliar hingga lebih dari Rp50 miliar. “Yang paling penting adalah pertanggungjawaban. Tanpa penegakan hukum dan audit keselamatan yang ketat, kejadian seperti ini sangat mungkin terulang,” kata Prigi.

Cisadane menopang jutaan orang. Ketika racun masuk ke tubuh sungai, yang tercemar bukan saja hanya air, tapi kepercayaan publik. Pemulihan akan panjang dan mahal, jika tidak dilakukan  dengan komitmen hukum dan politik yang tegas agar tragedi serupa tak berulang.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *