Temuan mikroplastik dalam jaringan tumor manusia memicu kritik terhadap percepatan proyek Waste-to-Energy di Indonesia yang dinilai berpotensi meningkatkan paparan zat kimia berbahaya dari plastik.
Ekspansi teknologi pengolahan sampah berbasis pembakaran kembali menuai sorotan setelah muncul temuan ilmiah terbaru mengenai keberadaan mikroplastik dalam jaringan tumor manusia. Lembaga Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menilai temuan tersebut harus menjadi peringatan serius bagi arah kebijakan pengelolaan sampah di Indonesia yang saat ini mendorong pembangunan fasilitas Waste-to-Energy (WtE).
Peneliti dari NYU Langone Health di Amerika Serikat mendeteksi mikroplastik dalam sembilan dari sepuluh sampel tumor prostat pada studi percontohan yang dipresentasikan oleh tim Perlmutter Cancer Center. Penelitian itu menunjukkan jaringan tumor mengandung sekitar 2,5 kali lebih banyak partikel plastik dibanding jaringan prostat non-kanker di sekitarnya.
Bagi Ecoton, temuan tersebut memperkuat kekhawatiran global mengenai dampak kesehatan paparan mikroplastik yang semakin luas. Manajer Kampanye dan Edukasi Ecoton, Alaika Rahmatullah, mengatakan temuan ilmiah ini tidak bisa dilepaskan dari konteks kebijakan domestik Indonesia yang sedang mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis termal.
Menurut dia, penelitian Ecoton sebelumnya juga menemukan mikroplastik dalam air ketuban ibu hamil serta paparan senyawa kimia berbahaya plastik dalam darah pekerja pemilah sampah di Gresik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa paparan plastik tidak lagi terbatas pada lingkungan, tetapi telah memasuki tubuh manusia.
“Jika mikroplastik kini ditemukan dalam jaringan tumor manusia, maka setiap kebijakan yang berpotensi meningkatkan pelepasan partikel plastik ke lingkungan harus ditinjau ulang secara serius,” ujar Alaika, Ahad, (1/3/2026).
Mikroplastik diketahui dapat terbentuk dari degradasi produk plastik maupun proses termal yang melibatkan suhu tinggi. Partikel berukuran sangat kecil ini mudah terbawa udara, air, dan rantai makanan sehingga berpotensi terakumulasi di jaringan tubuh manusia dalam jangka panjang.
Sejumlah studi internasional menunjukkan mikroplastik dapat membawa bahan kimia aditif seperti ftalat dan bisfenol yang dikenal sebagai pengganggu hormon. Meski hubungan langsung dengan kanker masih terus diteliti, tren temuan ilmiah menunjukkan peningkatan kekhawatiran terhadap dampak kesehatan jangka panjang.
#WtE sebagai Jalan Pintas yang Dipersoalkan
Pemerintah Indonesia saat ini mempercepat proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang secara teknis dikenal sebagai Waste-to-Energy. Teknologi ini menggunakan proses termal untuk mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan listrik melalui sistem pemulihan energi.
Secara teori, WtE berbeda dari pembakaran konvensional karena dilengkapi sistem pengendalian emisi gas buang. Namun Ecoton menilai penerapannya di Indonesia menghadapi persoalan mendasar, terutama terkait karakteristik sampah nasional.
Penelitian Universitas Islam Indonesia pada 2024 menunjukkan kadar air sampah Indonesia mencapai 50–70 persen dengan komposisi sampah organik lebih dari 60 persen. Kondisi ini menyebabkan nilai kalor rendah, sekitar 1.000–1.300 kilokalori per kilogram, sering kali di bawah ambang minimum pembakaran stabil.
Akibatnya, fasilitas insinerator berpotensi membutuhkan tambahan bahan bakar fosil untuk mempertahankan suhu operasi. Menurut Alaika, kondisi tersebut membuat klaim energi bersih menjadi problematis. “Insinerator berpotensi tidak efisien dan justru kontradiktif dengan narasi transisi energi,” katanya.
Kajian Zero Waste Europe pada 2020 juga menunjukkan intensitas karbon insinerator WtE dapat mencapai sekitar 540 gram CO₂ per kilowatt jam, hampir dua kali lipat rata-rata jaringan listrik Uni Eropa. Temuan ini memperkuat argumen bahwa teknologi insinerasi bukan otomatis solusi rendah karbon.
Selain aspek teknis, Ecoton menilai model bisnis PSEL berpotensi menciptakan ketergantungan terhadap pasokan sampah. Fasilitas WtE membutuhkan sekitar 1.000 ton sampah per hari agar tetap beroperasi optimal. Kebutuhan tersebut dinilai dapat menghambat upaya pengurangan sampah dari sumber.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Sampah juga disebut lebih mahal dibanding pembangkit berbasis batubara, sehingga pemerintah memberikan dukungan subsidi. Dalam jangka panjang, kebijakan ini dinilai berisiko membebani fiskal daerah.
Alaika menyebut kondisi tersebut dapat menciptakan situasi “lock-in policy”, yakni kebijakan yang sulit diubah karena telah terikat kontrak jangka panjang hingga 30 tahun. “Indonesia bisa terjebak dalam kebutuhan terus-menerus memberi makan insinerator dengan sampah plastik,” ujarnya.
#Keadilan Lingkungan dan Pilihan Alternatif
Selain persoalan teknis dan ekonomi, Ecoton menyoroti aspek perlindungan kesehatan masyarakat dalam regulasi pembangunan fasilitas WtE. Saat ini, aturan nasional menetapkan jarak minimum fasilitas termal sekitar 300 meter dari permukiman warga.
Padahal sejumlah rekomendasi kesehatan lingkungan internasional menyarankan radius aman hingga 1.500 meter. Perbedaan ini dianggap signifikan karena berbagai penelitian mencatat peningkatan risiko kanker paru, leukemia, sarkoma, serta penyakit kardiovaskular pada komunitas yang tinggal dekat fasilitas insinerasi.
Menurut Ecoton, kondisi tersebut mencerminkan persoalan keadilan lingkungan. Fasilitas pengolahan sampah kerap ditempatkan di wilayah berpenghasilan rendah dengan daya tawar politik terbatas. Warga sekitar menanggung risiko kesehatan, sementara manfaat energi dinikmati masyarakat luas.
Minimnya partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan juga dinilai memperlihatkan ketidakadilan prosedural. Temuan Ecoton mengenai paparan senyawa kimia berbahaya dalam darah perempuan pemilah sampah di tempat pembuangan akhir disebut menjadi bukti tambahan bahwa perlindungan kesehatan masyarakat perlu diperkuat.
Koordinator Zero Waste Cities Ecoton, Firly Mas’ulatul Janah, mengatakan solusi alternatif sebenarnya telah tersedia melalui pendekatan pengurangan sampah berbasis sumber. Program zero waste, pemilahan rumah tangga, dan penguatan sistem daur ulang dinilai lebih efisien serta berkelanjutan.
“Kami memahami pemerintah menghadapi tekanan besar dalam mengatasi krisis sampah. Namun pendekatan berbasis pembakaran perlu ditinjau ulang secara komprehensif,” ujar Firly.
Ecoton mendorong pemerintah mengambil sejumlah langkah, antara lain moratorium pembangunan WtE termal hingga tersedia kajian kesehatan independen, revisi aturan zona penyangga menjadi minimal 1.500 meter, penguatan kebijakan pengurangan plastik sekali pakai di tingkat daerah, investasi serius pada sistem zero waste, serta riset nasional mengenai keberadaan mikroplastik dalam jaringan tubuh masyarakat Indonesia.
Perdebatan mengenai WtE menunjukkan, persoalan sampah tidak hanya menjadi isu teknologi, tetapi pilihan arah pembangunan. Di tengah tekanan krisis sampah perkotaan, kebijakan yang diambil hari ini dinilai akan menentukan kualitas lingkungan dan kesehatan publik di masa depan.
Temuan mikroplastik dalam tubuh manusia menjadi pengingat bahwa dampak plastik tidak berhenti di tempat pembuangan, melainkan kembali kepada manusia melalui udara, air, dan makanan yang dikonsumsi setiap hari.***