Lewati ke konten

ECOTON Mengajak Membuka Daya Imajinasi Mahasiswa di Green Voice Academy

| 5 menit baca |Rekreatif | 28 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

ECOTON menggelar Green Voice Academy. Pelatihan menekankan aktivisme berbasis mendengar, imajinasi kolektif, dan kerja nyata, melampaui logika viral media sosial.

Lembaga kajian dan advokasi lingkungan Ecological Conservastioan and Wetlands Observation (ECOTON) menggelar Green Voice Academy, sebuah pelatihan intensif untuk mencetak aktivis lingkungan yang kuat secara gagasan, narasi, dan pengorganisasian.

Prigi Arisandi, pendiri ECOTON, saat berbagi kisah personal tentang sungai sebagai ruang hidup dan ingatan keluarga dalam Green Voice Academy di Akademi Lingkungan ECOTON, Wringinanom, Gresik, Jawa Timur. | Foto: Supriyadi

Kegiatan berlangsung di Hall Inspirasi di Wringinanom, Gresik Jawa Timur, Rabu, (4/2/2026)

Berbeda dengan pelatihan aktivisme pada umumnya, Green Voice Academy dirancang sebagai ruang belajar satu hari penuh yang tidak bertumpu pada ceramah satu arah.

Pelatihan menghadirkan Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur 2005 – 2008, Ridho Saiful Ashadi, sebagai fasilitator utama.

Selama lebih dari dua dekade, Ipoel, biasa disapa dikenal sebagai pendamping komunitas akar rumput dalam isu lingkungan, sejak menjalani kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah dan Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang, pada tahun 2006.

Sebelum acara berlangsung, pendiri ECOTON Prigi Arisandi di depan perseta mengatakan, suara paling sahih dalam gerakan lingkungan justru datang dari mereka yang mengalami langsung kerusakan ekologis.

Ia menyebut dirinya sebagai saksi hidup perubahan sungai dari sumber penghidupan menjadi ruang yang kehilangan kehidupan.

Prigi bercerita tentang buyutnya,pencari ikan di sungai (Kali Surabaya). Setiap pagi, sekitar pukul sembilan, buyutnya memasang jebakan ikan—wuyuk dan alat tangkap sederhana lainnya—lalu sore hari kembali untuk mengambil hasilnya dan menjual ke pasar. “Ikan itu ada. Udang itu ada,” kata Prigi.

Namun cerita itu perlahan hilang. Ketika Prigi masih kecil, kisah tentang sungai yang memberi makan keluarga mulai berubah. Ikan dan udang menghilang, bersamaan dengan berdirinya industri di sepanjang sungai. Sungai yang dulu menjadi ruang hidup perlahan menjadi saluran limbah.

Pengalaman itu membawanya menempuh pendidikan biologi. Ia mulai mempelajari parameter ilmiah—oksigen terlarut, zat pencemar, dan penyebab kematian biota air. “Saya belajar kenapa ikan bisa mati,” ujarnya. Dari sana, pilihan hidupnya mengerucut.

“Ini bukan soal berjuang untuk berjuang,” kata Prigi. Baginya, kerja advokasi lingkungan adalah upaya mengembalikan ruang hidup yang pernah ada. Ia ingin anak-anaknya kelak kembali mengenal sungai sebagai tempat bermain dan kehidupan, bukan sekadar cerita masa lalu.

Gerakan yang Prigi jalani bersama ECOTON adalah bentuk tanggung jawab lintas generasi. “Saya ingin memperkenalkan orang tua saya, nenek saya, pada generasi sekarang,” ujarnya. Bukan untuk romantisme, melainkan sebagai pengingat jika kerusakan lingkungan selalu punya wajah dan sejarah yang nyata.

#Metode 4I dan Imajinasi Kolektif

Proses belajar dalam Green Voice Academy menggunakan pendekatan 4I, yaitu Inspirasi, Impian, Inovasi, dan Inisiasi, kata Ipoel.

“Metode ini berangkat dari pengalaman pribadi peserta yang kemudian dinaikkan menjadi pengalaman kolektif, “ ujarnya.

Pada sesi Inspirasi, Ipoel meminta peserta untruk menceritakan pengalaman terbaik mereka dalam mengelola isu lingkungan. Mulai dari isu apa yang pernah ditangani, aktivitas yang dilakukan, dengan siapa bekerja, hingga alasan mengapa pengalaman itu penting.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Belajar dari kekuatan semua orang,” kata Ipoel. “Pengalaman itu tidak dilihat dari besar-kecilnya program, tapi dari makna dan prosesnya.”

Sesi berikutnya, Impian, digelar sebelum makan siang. Peserta diajak membangkitkan kecerdasan visual thinking atau kekuatan imaji.

Mereka diminta membayangkan secara bebas apa yang ingin mereka lihat pada 2030, 2040, hingga 2050, apa yang disukai, dan apa yang ingin disaksikan dengan penuh rasa cinta.

Ipoel menegaskan, proses melahirkan ide tidak harus linear. “Kita boleh berimajinasi. Dan imajinasi itu tidak individual, tapi imajinasi bersama,” ujarnya.

Pendekatan ini, menurut Ipoel, penting untuk membebaskan peserta dari cara berpikir teknokratis yang kerap membatasi kreativitas gerakan. Imajinasi dipandang sebagai fondasi politik ekologis yang sering diabaikan.

Para mahasiswa dari berbagai kampus tengah berdiskusi dan membongkar imajinasi kolektif dalam sesi Green Voice Academy di Akademi Lingkungan ECOTON. | Foto: Supriyadi

#Dari Bursa Ide ke Kerja 90 Hari

Memasuki sesi setelah makan siang, pelatihan berlanjut ke Bursa Inovasi. Ipoel mengajak peserta membagi dalam lima kelompok dan diminta merancang 25 tindakan. Tindakan itu mencakup tiga tujuan utama: bergerak dan memilih kontribusi, meluaskan gerakan, serta melindungi atau memproteksi inisiatif yang ada.

“Kalau ada empat atau lima kelompok, berarti minimal ada 100 sampai 125 ide,” kata Ipoel. Ide-ide tersebut dikumpulkan sebagai “belanja gagasan” yang dapat digunakan peserta saat merancang program lingkungan di wilayah masing-masing.

Sesi pamungkas adalah Inisiasi. Pada tahap ini, ide-ide disederhanakan agar selaras dengan ketersediaan waktu dan sumber daya. Ipole memperkenalkan dua pilihan metrik: pertama, tiga kegiatan prioritas dalam satu kerangka besar; kedua, lima langkah prioritas yang dikerjakan secara konsisten selama 90 hari.

Pendekatan ini dimaksudkan agar gerakan tidak berhenti pada wacana. “Inisiasi itu soal merasionalitaskan mimpi,” ujar Ridho.

Bagi Febriani Marsha Dwi Hardianti, mahasiswa Program Studi Penyuluhan, Fakultas Pertanian Universitas Jember, pendekatan ini memberi perspektif baru. “Saya jadi sadar bahwa pengalaman kecil di lapangan itu berharga dan bisa jadi dasar gerakan,” katanya.

Sementara itu, Aulia Rizky Imelda Wardhani dan Ni Luh Made Kartika Nariswari, mahasiswa Departemen Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang angkatan 2023, menilai metode belajar ini membantu mereka melihat isu lingkungan dari sisi yang lebih manusiawi. “Tidak melulu data, tapi juga rasa dan imajinasi,” ujar Aulia.

Adapun Dewi Fitriana, mahasiswa Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya, menilai sesi inisiasi membuat isu lingkungan yang kompleks terasa lebih mungkin dikerjakan. “Kerangka 90 hari itu membuat ide terasa lebih nyata,” katanya.

Menjelang sore, seluruh peserta diminta memberikan umpan balik atas proses belajar—apa yang paling dirasakan, paling disukai, serta kritik dan masukan. Bagi ECOTON, evaluasi ini merupakan bagian dari prinsip pembelajaran fasilitatif.

Green Voice Academy pun ditutup tanpa deklarasi besar. Namun, dari ruang yang berjarak 50 meteran dari sempadan kali Surabaya itu, menanam keyakinan jika suara yang dirawat dari akar justru memiliki daya tahan paling panjang.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *