SEMAKIN hari, tubuh manusia makin mirip tong sampah plastik berjalan. Temuan mikroplastik di pembuluh darah, ginjal, urin, hingga tali pusar membuat kita bertanya, sebenarnya ada ruang tubuh mana yang masih aman? Penelitian terbaru justru mengungkap bahwa ancaman plastik begitu dekat, bahkan sebelum seorang bayi lahir.
Bukan cuma ibu hamil, mikroplastik juga ditemukan dalam mekonium, feses pertama bayi. Di saat manusia baru beberapa jam menghirup udara dunia, ia sudah “dibekali” residu plastik yang diwariskan lingkungan. Semua ini menyisakan pertanyaan, “Akankah tubuh kita selamanya menjadi museum kecil limbah plastik?”
#Pembuluh Darah yang Tak Lagi Kosong: Plastik Menumpuk Menyumbat Hidup

Penelitian Marfella dkk. (2024) memecah keheningan, mikroplastik ditemukan menempel di plak pembuluh darah manusia. Tidak sekadar menempel manja, partikel-partikel ini ikut menjadi penghuni tetap dinding arteri. Jenis yang paling dominan adalah polietilen (PET)—sebanyak 58 persen, dengan kandungan mencapai 21,7±24,5 µg/mg plak. PVC menyusul di angka 12,1 persen.
“Hal ini bisa kita bayangkan, plastik dari botol air mineral, kemasan makanan, dan berbagai produk rumah tangga ternyata bisa masuk, tertahan, lalu menghalangi aliran darah,” kata Alaika Rahmatullah dari Divisi Edukasi dan Kampanye Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). “Ini bukan skenario film distopia, ini laporan ilmiah,” tandasnya dalam wawancara, Sabtu (15/11/2025).
ECOTON sendiri dalam beberapa bulan terakhir berkonsentrasi penuh meneliti kualitas air hujan yang kini turut mengandung mikroplastik. Penelitian mereka menemukan jejak mikroplastik di sejumlah kota di Jawa Timur, termasuk Surabaya dan Malang.
“Jika melihat kondisi ini, konsekuensi kesehatann kita tidak main-main. Risiko stroke bisa meningkat, angin makin mudah muncul di tubuh manusia, dan serangan jantung menjadi ancaman nyata,” ungkap Alaika.
Plastik yang tadinya kita pakai hanya beberapa menit, ternyata bisa menyumbat pembuluh darah selama bertahun-tahun. “ Ini sesuatu ironis betul, kan?” ujar Alaika.

#Ginjal dan Urin Manusia Kini Menjadi Lokasi “Pembuangan Plastik” Baru
Jika selama ini ginjal dikenal sebagai penyaring berbagai toksin, kini ia kebagian tugas baru, menyaring mikroplastik. Dalam temuan laboratorium, terdapat 23 partikel mikroplastik dalam urin manusia, dan 43 partikel dalam jaringan ginjal. Ukurannya bervariasi, mulai dari 3 hingga 13 mikrometer di urin, dan 1–29 mikrometer di ginjal.
“Dalam penelitian kami, hasilnya tidak jauh berbeda dengan riset-riset lain, termasuk dari luar negeri,” jelas Kepala Laboratorium ECOTON, Rafika Aprilianti. “Jenis partikelnya sangat beragam, mulai dari cerulean blue, polietilen, polistiren, sampai pigmen seperti hematite dan titanite. Tapi, seperti biasa, polimer plastik PET dan PS selalu yang paling dominan.”
Rafika menambahkan, masalah ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan akumulasi dari kebiasaan sehari-hari. “Mikroplastik itu hadir dalam tubuh manusia tanpa undangan, tanpa permisi, dan tanpa rencana untuk pergi,” ujarnya.
“Ia masuk lewat makanan yang kita makan, air minum yang kita teguk, kosmetik yang kita pakai, hingga udara yang kita hirup. Tubuh kita, tanpa kita sadari, sudah berubah menjadi semacam laci penyimpanan plastik mikroskopik, ” kata Rafika menjelaskan.

#Rahim, Tali Pusar, dan Janin: Mikroplastik Tidak Mengenal Batas Generasi
Dulu orang bilang rahim adalah tempat paling aman bagi seorang manusia. Tapi kini, anggapan itu retak. Penelitian Sun, Su, Mao, et al. dalam Ecotoxicology and Environmental Safety menunjukkan bahwa mikroplastik mampu menembus plasenta dan mencapai janin.
Artinya, sebelum manusia lahir dan diberi nama, ia sudah “berkenalan” dengan plastik ketika masih berada di dalam kandungan.
“Kelarutan median total mikroplastik terdapat pada tali pusar 10.397 partikel/gram, darah ibu hamil 8.176 partikel/gram, dan darah vena tali pusar (darah janin) 2.726 partikel/gram,” demikian disebutkan dalam penelitian tersebut. Bahkan lebih dari 90 persen mikroplastik yang terukur berdiameter antara 20 hingga 100 mikrometer.
Kepala Laboratorium ECOTON, Rafika Aprilianti menegaskan, temuan peneliti sejalan dengan hasil pengujian di laboratoriumnya. “Temuan internasional itu mengonfirmasi apa yang sudah kami curigai, mikroplastik tidak mengenal batas generasi. Ia tidak hanya masuk ke tubuh orang dewasa, tapi juga ikut ‘menumpang’ ke tubuh bayi yang belum lahir,” ujarnya.
“Ketika plastik sudah ada di tali pusar dan cairan ketuban, itu berarti sistem biologis paling dasar kita telah ditembus oleh polusi yang kita ciptakan sendiri,” tambahnya.
Sejak 2023, ECOTON memang telah melakukan penelitian serius mengenai bahaya mikroplastik terhadap bayi. Temuan mereka bahkan pernah diungkap pada momen INC-5 di Busan oleh Aeshnina Azzahra Aqilani, Captain River Warrior Indonesia, – komunitas di bawah naungan ECOTON – yang membawa instalasi berupa 12 replika bayi dalam toples.

Instalasi seni tersebut juga dipamerkan di Stan Pameran Aliansi Zerowaste Indonesia, Busan Exhibition and Convention Center (BEXCO) 2, Hall 321–322, pada 25 November – 1 Desember 2024.
Replika-replika bayi yang menggambarkan kondisi bayi terkontaminasi mikroplastik, cukup menjadi perhatian pengunjung. Karena dengan replika itu menegaskan bahwa tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman dari plastik. Bahkan kotoran bayi sekalipun menunjukkan adanya paparan mikroplastik dari lingkungan setelah lahir, seperti melalui ASI, susu formula, botol susu plastik, atau barang-barang plastik lain.
Dalam penjelasannya juga, Rafika menyampaikan bahwa temuan paling mengejutkan adalah konsentrasi mikroplastik tertinggi justru berada pada tali pusar, yakni mencapai 10.397 partikel/gram.
“Jumlah itu lebih tinggi dibanding darah ibu hamil yang mengandung 8.176 partikel/gram serta darah janin yang mencatat 2.726 partikel/gram, “ jelasnya. Ia juga memaparkan bahwa lebih dari 90 persen mikroplastik yang terdeteksi memiliki ukuran antara 20 hingga 100 mikrometer—ukuran yang cukup kecil untuk menembus berbagai jaringan tubuh.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Cairan ketuban pun tidak lolos, “ tandasnya. Sebanyak 80 persen amnion dilaporkan terkontaminasi mikroplastik jenis CPE dan PE. Inilah tragedi lingkungan yang paling sunyi, polusi yang bahkan meresap ke generasi yang belum lahir, mewariskan risiko sebelum mereka melihat dunia.

#Bayi yang Baru Lahir Pun Sudah Membawa “Warisan Plastik”
Dalam meconium, feses pertama bayi, terdapat polimer PE, PP, PA, PS, dan EVA. Sumbernya berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumsi ibu, udara yang dihirup, dan produk skincare yang digunakan selama kehamilan.
Lebih miris lagi, feses bayi mengandung mikroplastik 14,3 kali lebih banyak dibanding manusia dewasa. Sebagian besar berasal dari susu formula, botol plastik, mainan, hingga udara di dalam rumah.
Susu formula dalam kemasan kotak bahkan mengandung mikroplastik lebih banyak daripada versi kaleng. Ketika diseduh, jumlahnya naik 1,7 kali lipat. Ketika botol dipanaskan, jumlah partikel bisa melonjak hingga 6,8 kali.
Dampak kesehatan pun tidak remeh, gangguan perkembangan otak, perubahan epigenetik, peradangan usus, disfungsi hormon, kerusakan hati, hingga resistensi insulin.
Temuan ECOTON mengungkap bahwa sebagian besar paparan mikroplastik pada bayi justru datang dari aktivitas harian yang dianggap normal. “Proses menyeduh susu formula, penggunaan botol plastik, hingga paparan debu rumah menjadi pintu masuk utama, “ jelas Alaika.
Bahkan ECOTON juga mencatat, udara dalam ruang tertutup, terutama rumah dengan ventilasi buruk, menjadi salah satu penyumbang mikroplastik terbesar. “Serat dari pakaian, furnitur sintetis, hingga karpet dapat terlepas ke udara dan dihirup bayi. Kondisi ini memperlihatkan betapa dekatnya sumber polusi dengan kehidupan awal manusia, bahkan ketika bayi belum bisa berjalan atau berbicara, “ tambah Alaika.

#Bahan Plastik yang Kita Pakai Sehari-hari Ternyata Sangat Berbahaya
Bisfenol dan ftalat—dua bahan kimia yang kerap ditemukan dalam plastik sehari-hari, mulai dari botol minum hingga pembungkus makanan—ternyata masih menjadi pengetahuan asing bagi banyak mahasiswa.
Padahal, kedua zat ini telah terbukti berbahaya bagi kesehatan manusia. Dalam penelitian ECOTON, bisfenol terbukti dapat mengacaukan hormon, meningkatkan risiko obesitas, hingga mengganggu perkembangan saraf.
Bagi Anjar Bintoro, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), plastik sekali pakai adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, ia mengakui belum memiliki pengetahuan mendalam tentang mikroplastik.
“Saya baru sadar betapa berbahayanya mikroplastik, setelah ikut studi independen bersama GrowGreen. Di ECOTON saya akhirnya tahu apa itu mikroplastik dan bagaimana ia bisa merusak tubuh manusia,” ujar Anjar.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Siti Nor Shofiyah dari kampus yang sama dengan Anjar, yang juga Koordinator GrowGreen. Selama ini ia menjalani hidup layaknya anak muda kebanyakan—akrab dengan plastik sekali pakai.
Pengetahuan tentang mikroplastik hanya sebatas istilah yang pernah ia dengar ketika masih sekolah. “Saat kuliah ini, membangun komunitas, dan mengikuti studi independen di ECOTON, barulah saya tahu detail dan jelas tentang mikroplastik,” kata Shofiyah.

Dalam proses belajarnya, Anjar mengetahui bahwa mikroplastik adalah partikel plastik mikroskopis yang mudah masuk ke tubuh melalui udara, air, dan makanan. “Saya baru paham bahwa benda sekecil itu bisa ikut masuk ketika kita bernapas, minum, atau makan. Masuknya gampang sekali,” ujar Anjar.
Shofiyah menambahkan bahwa mikroplastik mampu menempel atau melekat pada permukaan suatu bahan—proses yang disebut mengadsorpsi—sehingga partikel ini dapat membawa polutan lain dan menjadi jauh lebih berbahaya. Jika masuk ke tubuh, kombinasi tersebut berpotensi memicu kanker, diabetes, gangguan hormon, stroke, hingga kemandulan. “Begitu yang saya pahami dari artikel yang saya baca dan penjelasan teman-teman ECOTON selama menjalani studi independen ini,” ujarnya.***
Referensi:
Sun, H., Su, X., Mao, J., Liu, Y., Li, G., & Du, Q. (2024). Microplastics in maternal blood, fetal appendages, and umbilical vein blood. Ecotoxicology and Environmental Safety, 287, 117300.
Xu, Zhimian, Jiemiao Shen, Lihong Lin, Jieting Chen, Lei Wang, Xingying Deng, Xinyue Wu, et al. 2023. “Exposure to irregular Microplastic Shed from Baby Bottles Activates the ROS/NLRP3/Caspase-1 Signaling Pathway, Causing Intestinal Inflammation.” Environmental International 181 (203).
Massardo, S., Verzola, D., Alberti, S., Caboni, C., Santostefano, M., Verrina, E. E., … & Artini, C. (2024). MicroRaman spectroscopy detects the presence of microplastics in human urine and kidney tissue. Environment International, 184, 108444.
Braun et al., 2021; Liu et al., 2022; Mathew et al., 2025; Zhang et al., 2021; Mišianová et al., 2024; Zhang et al., 2023; Xu et al., 2023; Kadac-Czapska et al., 2024)