Lewati ke konten

Gempa M7,7 NTT Tewaskan 53 Orang, Puluhan Fasilitas Kesehatan Rusak dan 5.000 Pengungsi Terisolasi

| 3 menit baca |Sorotan | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Gempa magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8) dan menewaskan 53 orang.
  • Korban meninggal terbanyak tercatat di Kabupaten Manggarai dengan total 25 jiwa.
  • Hampir 6.000 warga mengungsi, dengan konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Sikka.
  • Kerusakan berat melanda tiga rumah sakit dan 20 puskesmas di wilayah terdampak.
  • Pemprov NTT resmi menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari.

GUNCANGAN gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 meluluhlantakkan wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8.2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 53 orang meninggal dunia hingga Ahad (16/8/2026) pukul 16.00 WIB. Korban tewas tersebar di Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ende, Manggarai Barat, dan Nagekeo.

Sebanyak 135 warga mengalami luka ringan hingga berat, akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Sebagian besar korban luka terkonsentrasi di Kabupaten Manggarai Timur. Petugas gabungan terus mengevakuasi korban di tengah ancaman 995 gempa susulan.

Gubernur NTT Melki Laka Lena menyatakan pemprov menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari. Pemprov mengarahkan seluruh sumber daya untuk pencarian, evakuasi, dan pemenuhan kebutuhan dasar warga. “Keselamatan masyarakat dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak menjadi prioritas utama,” ujar Melki dikutip BBC Indonesia, Ahad, 16 Agustus 2026.

#Krisis Layanan Kesehatan dan Logistik Pengungsi

Kerusakan infrastruktur medis, memperburuk penanganan korban luka, di berbagai daerah terdampak gempa. Kementerian Kesehatan mencatat, tiga rumah sakit mengalami rusak berat pascabencana. Fasilitas tersebut meliputi RS Ruteng, RS Pratama Raja, dan RS Aeramo.

Sebanyak 20 puskesmas, juga mengalami kerusakan berat di lima kabupaten terdampak. Petugas medis terpaksa mendirikan tenda darurat di luar gedung puskesmas. Peralatan medis yang rusak membuat pelayanan kesehatan berjalan sangat terbatas.

BACA JUGA:  Mahasiswa Unimal Latih Siswa Lhokseumawe Hadapi Bencana dan Kuasai Pertolongan Pertama Saat Darurat

Sebanyak 5.000 warga kini bertahan di berbagai titik lokasi pengungsian. Kabupaten Sikka menampung pengungsi terbanyak dengan jumlah mencapai 3.356 jiwa. Sementara itu, Kabupaten Manggarai mencatat sebanyak 2.078 warga yang mengungsi.

Para penyintas bencana sangat membutuhkan tenda darurat, makanan, obat-obatan, dan air bersih. Pengungsi di Manggarai juga memerlukan selimut, velbed, serta pasokan genset. Kebutuhan logistik mendesak tersebut menjadi prioritas utama penanganan bencana.

#Distribusi Bantuan Bencana dan Kondisi Lapangan

Pemerintah mulai menyalurkan bantuan sembako menggunakan pesawat militer Hercules A-1343 dan A-1318. Sebanyak 1.725 paket sembako telah mendarat di Maumere pada Ahad (16/8/2026). Bantuan tersebut dialokasikan untuk warga di Kabupaten Sikka dan Kabupaten Ende.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Pengiriman lain membawa 3.200 paket sembako yang mendarat di Labuan Bajo. Bantuan ini didistribusikan ke Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, dan Nagekeo. Total bantuan tahap awal yang diterbangkan mencapai 4.925 paket sembako.

Pemerintah menyiapkan total 50.000 paket sembako untuk penanganan darurat di NTT. Sebanyak 45.075 paket sisanya akan dikirimkan secara bertahap ke lapangan. Distribusi bantuan menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan para pengungsi di lokasi.

#Kondisi Warga Ngada dan Bantuan Medis

Kondisi memprihatinkan juga melanda wilayah Kabupaten Ngada pascaguncangan gempa bumi. Lebih dari 500 rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah. Warga memilih mengungsi ke rumah tetangga atau daerah yang lebih tinggi.

Pelayanan Puskesmas Ladja dan Puskesmas Maronggela terpaksa dipindahkan ke luar gedung. Gedung puskesmas mengalami kerusakan hampir di setiap sisi ruangan utama. Bantuan medis dilaporkan belum sampai ke wilayah terdampak di Ngada.

BACA JUGA:  Arsip Suara Jaap Kunst Kembali ke Flores Timur Memantik Ingatan Tradisi Masyarakat

Warga Ngada, Charles Abar, menyebut kerusakan jalan memutus akses menuju beberapa desa. Peralatan medis di puskesmas tidak berfungsi, akibat guncangan gempa yang kuat. “Masyarakat masih trauma,” kata Charles menggambarkan kondisi para penyintas bencana.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *