Lewati ke konten

Harga Plastik di Surabaya Melejit 60 Persen, UMKM Mulai Lirik Kemasan Alternatif?

| 4 menit baca |Sorotan | 10 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis:  Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Lonjakan harga plastik hingga 60 persen menekan UMKM Surabaya, memicu adaptasi kemasan alternatif, sekaligus membuka peluang perubahan menuju praktik usaha yang lebih ramah lingkungan.

Kenaikan harga plastik di Surabaya dalam beberapa bulan terakhir terasa hingga ke lapisan paling bawah rantai ekonomi. Di Pasar Pacarkeling, aktivitas jual beli tetap berjalan, meski diwarnai keluhan dari pedagang dan pembeli. Harga bahan kemasan melonjak antara 30 hingga 60 persen, mengikuti dinamika pasokan global dan kenaikan harga energi.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, menyebut kondisi ini sulit dihindari. “Kenaikan harga plastik cukup signifikan, sekitar 30 sampai 60 persen. Ini dipicu pasokan global dan harga energi dunia,” ujarnya, Senin, 6 April 2026.

Lonjakan harga plastic, telah memperlihatkan rapuhnya ketergantungan pada bahan berbasis fosil. Plastik yang selama ini dianggap stabil dari sisi harga, kini menjadi sumber tekanan baru di lingkungan. Pelaku usaha kecil harus menyesuaikan diri dengan cepat di tengah ketidakpastian.

Di tingkat distribusi, harga yang diterima pedagang sudah melalui beberapa lapis perantara. Setiap mata rantai menambah biaya, sehingga harga akhir menjadi semakin tinggi. Dampaknya terasa langsung bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada kemasan plastik untuk menjaga kualitas produk.

#UMKM Menahan Harga, Margin Menipis

Melihat fenomena ini bagi pelaku UMKM, merupakan pilihan yang terasa sempit, -akan menaikkan harga atau menanggung beban biaya. Banyak yang memilih opsi kedua demi mempertahankan pelanggan.

Rina, pemilik usaha makanan ringan rumahan di Surabaya, mengaku kenaikan harga plastik langsung memengaruhi biaya produksi. “Kalau harga plastik naik, biaya produksi ikut naik. Kalau harga jual dinaikkan, pembeli bisa berkurang,” katanya saat dimintai tanggapan di hari yang sama.

Perempuan ini mulai mengurangi ketergantungan pada plastik, meski belum sepenuhnya beralih. Beberapa produknya kini dikemas menggunakan bahan kertas. Langkah itu dilakukan untuk menekan biaya sekaligus menjaga daya beli konsumen.

Sementara di sisi lain, pedagang plastik juga menghadapi tekanan serupa. Suyanto, yang telah berjualan lebih dari satu dekade di Pasar Pacarkeling, Surabaya ini mengatakan harga dari distributor terus meningkat. “Sekarang naiknya terasa sekali. Dulu beli satu bal masih lebih murah, sekarang beda jauh,” ujarnya.

Salah satu toko plastik di kawasan Pasar Pacarkeling tetap melayani pembeli di tengah lonjakan harga bahan kemasan. Di balik aktivitas ini, pedagang dan UMKM menghadapi tekanan biaya yang terus meningkat. | Foto: Shella

Keluhan datang dari pelanggan yang mulai mengurangi pembelian. “Biasanya beli banyak, sekarang dikurangi. Ada juga yang mulai cari bahan lain,” kata Suyanto.

Perubahan perilaku ini menunjukkan bahwa kenaikan harga mulai menggeser pola konsumsi. Pelaku usaha kecil menjadi kelompok pertama yang merespons, karena mereka berada di garis depan interaksi dengan konsumen.

#Peluang Inovasi dan Perubahan Lingkungan

Di tengah tekanan, pemerintah kota mencoba membuka ruang adaptasi. Pendampingan dilakukan agar UMKM mulai mengeksplorasi kemasan alternatif yang lebih ekonomis dan berkelanjutan.

Mia Santi Dewi menilai situasi ini dapat menjadi momentum perubahan. “Kami dorong UMKM untuk berinovasi, menggunakan bahan lain yang bisa menekan biaya,” ujarnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Alternatif yang mulai dilirik antara lain kemasan berbahan kertas, serat alami, hingga wadah yang dapat digunakan kembali. Pergeseran ini tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga membuka peluang peningkatan nilai jual produk.

Kesadaran terhadap dampak lingkungan ikut menjadi faktor pendorong. Selama bertahun-tahun, plastik sekali pakai mendominasi karena kepraktisannya. Di sisi lain, limbah yang dihasilkan terus menumpuk dan sulit terurai.

Kenaikan harga plastik menghadirkan insentif ekonomi untuk mengurangi penggunaan. Pelaku usaha dan konsumen mulai mempertimbangkan pilihan yang sebelumnya jarang dilirik. Dalam kondisi seperti ini, kepentingan ekonomi dan kepedulian lingkungan bergerak ke arah yang sama.

Beberapa pelaku usaha melihat perubahan ini sebagai peluang diferensiasi. Produk dengan kemasan ramah lingkungan dinilai memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi konsumen yang semakin sadar isu keberlanjutan.

Upaya pemerintah tidak berhenti pada inovasi kemasan. Perbaikan rantai distribusi juga menjadi fokus, agar harga bahan baku tidak terlalu tinggi ketika sampai ke tangan UMKM. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi beban biaya secara keseluruhan.

Di tingkat kota, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai berpotensi memberi dampak signifikan. Volume sampah dapat ditekan, beban tempat pembuangan akhir berkurang, dan kualitas lingkungan perkotaan membaik.

Perubahan ini masih berada pada tahap awal. Adaptasi membutuhkan waktu, terutama karena plastik telah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Pergeseran menuju bahan alternatif menuntut penyesuaian dari sisi produksi, distribusi, hingga preferensi konsumen.

Meski demikian, tanda-tanda perubahan mulai terlihat. Pelaku UMKM mencoba berbagai pendekatan untuk bertahan, sementara pemerintah berupaya memperkuat dukungan. Di antara tekanan biaya dan tuntutan pasar, muncul ruang untuk inovasi yang sebelumnya tidak banyak dipertimbangkan.

Kenaikan harga plastik memperlihatkan bahwa krisis dapat memicu transformasi. Dari upaya menjaga usaha tetap berjalan, lahir eksperimen-eksperimen baru dalam kemasan dan model bisnis.

Jika perubahan ini terus berkembang, Surabaya berpeluang membangun ekosistem usaha yang lebih tangguh sekaligus lebih ramah lingkungan. Bagi UMKM, tantangan hari ini dapat menjadi pijakan untuk bertahan di masa depan.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini. 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *