Lewati ke konten

Hari Peduli Sampah, Mikroplastik Jadi Kutukan Tubuh Manusia Modern

| 5 menit baca |Mikroplastik | 20 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus

Riset Ecoton menemukan mikroplastik dalam darah, ketuban, hingga otak manusia. Ancaman senyap ini mencerminkan krisis sampah plastik dan kesehatan Indonesia masa depan.

Peneliti Ecoton mengamati sampel air hujan yang terkontaminasi mikroplastik menggunakan mikroskop stereo dengan pembesaran 400–1000 kali di Laboratorium Ecoton, Wringinanom, Gresik, Jawa Timur. Temuan ini menegaskan bahwa partikel plastik tak kasatmata telah beredar di udara dan kembali ke bumi bersama hujan. | Dok. Ecoton

Mikroplastik tak lagi hanya serpihan kecil yang mengambang di laut, beterbangan di udara atau terperangkap di sedimen sungai. Remahan itu kini terdeteksi dalam tubuh manusia. Hal ini terungkap dalam penelitian Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), jika partikel plastik yaitu mikroskopik ditemukan dalam feses, air susu ibu, air seni, ketuban, hingga darah perempuan.

Peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini, menyebut fenomena ini sebagai kutukan akibat kelalaian manusia mengelola sampah plastik. “Ini seperti kutukan akibat kita menyia-nyiakan sampah plastik. Plastik yang kita buang tanpa pengolahan layak pada akhirnya kembali ke tubuh kita,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin, 23 Februari 2026.

Bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional, 21 Februari, Sofi menyoroti posisi Indonesia dalam pusaran krisis global. Indonesia disebut sebagai penyumbang sampah plastik ke lautan tertinggi ketiga di dunia setelah India dan Nigeria. Kebiasaan membakar sampah serta membuangnya ke sungai memperparah situasi.

Akibatnya, paparan mikroplastik pada manusia meningkat signifikan. Estimasi konsumsi mikroplastik penduduk Indonesia disebut mencapai sekitar 15 gram per bulan—setara berat tiga kartu ATM. Partikel ini dapat masuk melalui makanan, air minum, udara, bahkan kontak kulit.

Menurut Sofi, plastik tidak seharusnya berada dalam tubuh manusia. Namun realitas menunjukkan remahan kecil itu telah menembus hingga ruang paling intim kehidupan, yakni rahim.

Ia mengingatkan generasi muda, khususnya Gen Z, untuk mulai mengurangi plastik sekali pakai dan menghindari produk kosmetik yang mengandung scrub plastik. “Mikroplastik bisa masuk lewat pernapasan, mulut, dan kulit,” katanya.

Sebanyak 600 siswa SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage, Sidoarjo, belajar mengenali bahaya mikroplastik setelah menemukan partikel plastik dalam sampel air hujan. Edukasi sejak dini ini menjadi langkah penting membangun kesadaran lingkungan dan mendorong aksi nyata pengurangan sampah plastik. | Dok. Ecoton

#Mikroplastik dalam Darah dan Ketuban

Temuan paling mencolok datang dari penelitian kolaboratif Ecoton bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Penelitian terhadap perempuan di Gresik, Jawa Timur, menunjukkan 100 persen sampel darah mengandung mikroplastik.

Jumlah partikel yang terdeteksi berkisar antara 2 hingga 18 partikel per mililiter darah. Seluruhnya berukuran lebih besar dari 0,45 mikrometer. Jenis yang ditemukan didominasi fiber dan fragmen – bentuk yang lazim berasal dari degradasi tekstil sintetis dan kemasan plastik.

Analisis polimer pada lima sampel menunjukkan keberadaan polyethylene (PE) pada empat sampel serta poly(n-butyl methacrylate) (PBMA) pada satu sampel. PE lazim digunakan pada kemasan plastik sekali pakai, kantong belanja, hingga botol air minum. Adapun PBMA umum dipakai dalam pelapis dan perekat, termasuk pada aplikasi tertentu di bidang biomedis.

Tak berhenti di darah, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, mengungkap hasil uji terhadap 42 sampel amnion atau air ketuban ibu melahirkan di Gresik. Hasilnya: seluruh sampel positif mengandung mikroplastik.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Jenis polimer yang mendominasi adalah polyethylene, yang berasal dari botol plastik air minum, wadah makanan panas berbahan plastik bening, tas kresek, dan gelas plastik,” ujar Rafika.

Ia menekankan bahwa temuan ini berarti mikroplastik telah masuk ke dalam rahim—ruang yang selama ini dianggap paling aman bagi pertumbuhan manusia. Penelitian tersebut juga menunjukkan korelasi antara keberadaan mikroplastik dengan meningkatnya kadar malondialdehyde (MDA), penanda stres oksidatif dan peradangan.

Peningkatan peradangan itu dikhawatirkan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin. Meski penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan dampak jangka panjangnya, sinyal bahayanya sudah cukup terang.

Infografik ini menggambarkan invasi mikroplastik ke dalam tubuh manusia—dari darah, air ketuban, hingga jaringan otak. Temuan penelitian menunjukkan 100 persen sampel darah dan ketuban terkontaminasi, dengan paparan rata-rata konsumsi mencapai 15 gram per bulan. Krisis sampah plastik tak lagi soal lingkungan, tetapi ancaman nyata bagi kesehatan generasi mendatang. | Desain AI

#Jejak Plastik di Jaringan Otak

Ancaman mikroplastik tak berhenti pada darah dan rahim. Penelitian kolaboratif antara Greenpeace dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada Maret 2025 melaporkan keberadaan mikroplastik dalam jaringan otak manusia.

Temuan tersebut merujuk pula pada riset di Amerika Serikat pada 2024 yang menemukan akumulasi mikroplastik dan nanoplastik di otak manusia dengan konsentrasi 7 hingga 30 kali lebih tinggi dibandingkan hati dan ginjal. Bahkan, konsentrasi plastik pada sampel otak 2024 meningkat sekitar 50 persen dibandingkan sampel 2016.

Matthew Campen, profesor ilmu farmasi dari University of New Mexico, menyebut fenomena ini mencerminkan akumulasi lingkungan yang semakin ekstrem. Produksi plastik global kini melampaui 300 juta ton per tahun, dengan sekitar 2,5 juta ton mengapung di lautan.

Partikel berukuran di bawah 5 milimeter itu dapat membawa zat kimia toksik dan berpotensi mengganggu fungsi saraf. Risiko penurunan kemampuan kognitif secara bertahap menjadi kekhawatiran baru di tengah masyarakat yang semakin terpapar plastik dalam keseharian.

Rangkaian temuan ini menunjukkan satu pola yang tak bisa diabaikan, plastik yang dibuang sembarangan tidak pernah benar-benar hilang. Zarah itu terfragmentasi, beredar dalam siklus air dan udara, masuk ke rantai makanan, lalu kembali ke tubuh manusia.

Jika ini adalah kutukan, maka kondisi ini bukanlah takdir. Semua itu hasil pilihan, cara produksi, konsumsi, dan pengelolaan sampah yang selama ini diabaikan. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah mikroplastik ada dalam tubuh manusia, melainkan seberapa jauh kita bersedia mengubah kebiasaan sebelum serpihan itu menjadi warisan biologis generasi berikutnya.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *