Instalasi seni Bayi Mikroplastik di Kota Lama Surabaya menghadirkan peringatan keras tentang bahaya kesehatan plastik sekali pakai dan mendorong perubahan menuju budaya guna ulang.
Aktivitas akhir pekan di kawasan Kota Lama Surabaya dipenuhi pengunjung yang berhenti cukup lama di depan sebuah instalasi berbentuk bayi transparan. Karya seni bertajuk “Bayi Mikroplastik” dipamerkan oleh Lembaga Kajian Lahan Basah Ecoton dalam acara Urban Market Kota Lama Surabaya sebagai media edukasi publik mengenai dampak kesehatan plastik sekali pakai.
Instalasi yang menampilkan gambaran simbolik tubuh bayi yang terpapar partikel plastic, dirancang sebgai visual untuk memperlihatkan perubahan serius dalam persoalan pencemaran plastik yang sedang masif terjadi.
Riset Ecoton sepanjang 2025–2026 mencatat keberadaan mikroplastik tidak lagi berhenti di sungai, laut, atau tanah, tetapi telah ditemukan dalam tubuh manusia. Akhir-akhir ini telah ditemukan pada air ketuban, darah perempuan, serta air seni.
Temuan ini memperlihatkan fase baru dalam perjalanan peradaban modern yang selama hampir delapan dekade bergantung pada plastik sekali pakai.
Koordinator JEJAK, jaringan Gen Z Jawa Timur Tolak Plastik Sekali Pakai, Alaika Rahmatullah, menyebut masyarakat sedang memasuki era mikroplastik. Menurut Alaika, kemudahan gaya hidup instan menghasilkan konsekuensi kesehatan yang mulai terasa secara nyata.
“Peradaban yang bergantung pada plastik sekali pakai telah menikmati kemudahan selama puluhan tahun. Sekarang manusia menghadapi dampaknya berupa kontaminasi mikroplastik dalam darah dan organ tubuh,” kata Alaika dalam keterangan kegiatan, Sabtu, (28/2/2026).
Pendekatan seni dipilih karena bahasa visual dinilai mampu menjangkau emosi publik. Banyak pengunjung membaca panel informasi sambil berdiskusi mengenai kebiasaan konsumsi sehari-hari, mulai dari penggunaan kemasan sachet hingga botol minuman sekali pakai.

#Fakta Mikroplastik dan Pola Konsumsi Masyarakat
Pameran yang digelar mulai, Jumat, 27 Februari – Ahad, 8 Maret 2026 ini, turut memaparkan sejumlah data mengenai kondisi plastik di Indonesia. Negara ini masih berada dalam kelompok penyumbang sampah plastik terbesar ke laut dunia. Pada saat yang sama, praktik pembakaran sampah rumah tangga masih dilakukan oleh sekitar 57 persen penduduk.
Pembakaran terbuka menghasilkan zat beracun seperti dioksin dan furan yang berisiko masuk ke tubuh melalui udara. Paparan mikroplastik juga berasal dari degradasi kemasan plastik, debu perkotaan, tekstil sintetis, serta limbah yang terfragmentasi menjadi partikel sangat kecil.
Data yang ditampilkan dalam instalasi menunjukkan rata-rata konsumsi mikroplastik masyarakat Indonesia diperkirakan mencapai 15 gram per bulan per kapita. Angka ini menggambarkan tingginya paparan plastik dalam aktivitas harian, baik melalui makanan, minuman, maupun udara.
Dampak kesehatan yang disorot meliputi gangguan hormon, peradangan kronis, potensi kanker, hingga gangguan reproduksi. Para pengunjung terlihat terkejut ketika mengetahui partikel plastik dapat memasuki tubuh tanpa disadari melalui rantai makanan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Ecoton menilai persoalan plastik tidak dapat dilepaskan dari budaya konsumsi praktis. Kemasan sekali pakai berkembang pesat karena dianggap murah dan mudah, namun meninggalkan beban lingkungan serta risiko kesehatan jangka panjang.
Melalui penyajian data ilmiah yang dipadukan dengan instalasi seni, pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih mudah dipahami berbagai kelompok usia. Banyak keluarga yang datang bersama anak-anak ikut berdiskusi mengenai alternatif gaya hidup minim sampah.

#Dorongan Sistem Guna Ulang dan Perubahan Kebijakan
Selain menghadirkan peringatan, pameran juga memperkenalkan solusi melalui sistem guna ulang. Koordinator Refillin Ecoton, Jofanny Ahmad, menjelaskan penelitian perilaku konsumen menunjukkan perubahan kebiasaan mampu mengurangi timbulan sampah secara signifikan.
Melalui sistem guna ulang, konsumen membawa wadah sendiri untuk mengisi ulang kebutuhan rumah tangga. Penelitian Ecoton mencatat satu orang dapat mengurangi 180 hingga 200 kemasan sachet ukuran 40 mililiter setiap bulan.
Menurut Jofanny, dampak kolektif akan sangat besar jika diterapkan secara luas di Surabaya yang berpenduduk sekitar 2,5 juta orang. Pengurangan sampah dari sumber dinilai mampu menekan beban pengelolaan tanpa menambah tekanan fiskal daerah.
“Perubahan tidak cukup berasal dari konsumen. Industri perlu bertanggung jawab dan pemerintah harus berani membatasi bahkan menghentikan produksi plastik sekali pakai. Tanpa langkah itu, generasi mendatang akan terus menerima warisan tubuh yang terkontaminasi,” ujar Jofanny.
Apresiasi juga datang dari komunitas lokal. Koordinator Surabaya Youth Forum, Suryan Musthofa, menilai kampanye lingkungan membutuhkan pendekatan visual agar pesan lebih mudah diterima generasi muda.
Menurut Suryan, masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap plastik. Plastik tidak lagi dilihat sebagai simbol kepraktisan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan manusia dan keberlanjutan lingkungan. Peralihan menuju budaya guna ulang dipandang sebagai langkah penting untuk melindungi generasi masa kini dan masa depan.
Melalui instalasi “Bayi Mikroplastik”, Ecoton berharap diskusi publik bergeser dari persoalan kebersihan menuju isu kesehatan. Pesan yang diangkat menegaskan bahwa pilihan konsumsi sehari-hari memiliki konsekuensi langsung terhadap lingkungan sekaligus tubuh manusia.***