Lewati ke konten

Jalan Panjang Pantai Kenjeran Surabaya Dipenuhi Warga Punguti Sampah

| 6 menit baca |Ekologis | 25 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Aksi bersih pantai dan kampung dalam HPSN 2026 menggerakkan 61.500 warga Surabaya, memperlihatkan kolaborasi besar sekaligus persoalan serius persoalan sampah pesisir kota.

Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya dan UIN Sunan Ampel Surabaya yang tengah menjalani program magang di Ecoton turut terlibat dalam aksi kurve bersih pantai HPSN 2026, memunguti sampah bersama relawan di kawasan pesisir Kenjeran. | Foto: Amiruddin Muttaqin

Matahari belum tinggi ketika garis pantai di Pantai Batu-Batu, kawasan Kenjeran, mulai dipadati warga. Ahad pagi itu, ribuan orang berdiri berbaris mengikuti apel di Taman Suroboyo. Suasana masih lembap oleh angin laut ketika peserta menerima arahan sebelum bergerak menyisir pesisir.

Usai apel, mereka berjalan membawa karung, sarung tangan, dan penjepit sampah sesuai kelompok masing-masing. Plastik tipis, potongan kayu, hingga serpihan popok bayi di balik batu pemecah ombak, sebagian lain terbawa arus pasang.

Aksi bersih pantai menjadi bagian dari peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 di Kota Surabaya. Pemerintah kota mencatat total 61.500 partisipan terlibat dalam kerja bakti serentak bertema “Kolaborasi Untuk Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah)”.

Sekitar 1.500 peserta berkumpul di titik utama kegiatan yang membentang dari pesisir hingga area Taman Suroboyo. Mereka terdiri atas warga Kecamatan Bulak, pelajar, aparat pemerintah, hingga personel TNI–Polri. Pada waktu yang sama, puluhan ribu warga lain bergerak di ratusan titik lingkungan permukiman.

Karung-karung sampah cepat terisi. Dalam satu kali aksi serentak, volume sampah yang terkumpul mencapai sekitar 2,7 hingga 3,2 ton, didominasi plastik sekali pakai. Angka tersebut memperlihatkan betapa pesisir Surabaya masih menjadi titik akhir perjalanan sampah dari darat.

Bagi banyak peserta, kegiatan itu bukan kerja bakti. Tetapi bukti jika Kota Surabaya juga dipenuhi sampah dan bau tak sedap pun menjadi penciuman sehari-hari oleh warga. Hal ini menunjukkan sampah masih menjadi persolan serius di kota ini.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menyebut, momentum HPSN sebagai upaya konsolidasi gerakan lingkungan dari tingkat kota hingga kampung. Ia juga menegaskan kebersihan tidak dapat bergantung pada pemerintah semata.

“Saya ingin momentum HPSN 2026 ini, menjadi awal untuk memulai gerakan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga di setiap perkampungan dan bersinergi dengan Kampung Pancasila,” kata Eri, Ahad, (15/2/2026).

Menurut dia, perubahan harus dimulai dari rumah tangga melalui pemilahan sampah. Pemerintah kota mendorong gerakan ini, berjalan beriringan dengan program Kampung Pancasila yang selama ini menjadi basis aktivitas sosial warga.

Eri juga mengaitkan kegiatan ini dengan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai penguatan pengelolaan lingkungan hidup. Aksi massal, menurut dia, sebagai simbol bahwa persoalan sampah membutuhkan dukungan lintas sektor, bukan hanya kebijakan pemerintah kota semata.

“Kita akan pasang pembatas sampah di hulu, tengah, dan hilir. Surabaya ini posisinya di hilir, semua sampah dari atas lari ke sini seolah-olah Surabaya yang kotor. Dengan pembatas ini, kita akan tahu sampah itu kiriman atau warga lokal yang buang, supaya edukasinya bisa tepat sasaran,” tambahnya.

Instalasi kran karya Ecoton mewarnai kawasan pesisir Kenjeran, menjadi simbol kritik terhadap pencemaran plastik yang terus mengalir ke laut. | Foto: Amiruddin Muttaqin

#Kerja Bakti Massal dan Fenomena “Aji Mumpung”

Di luar kawasan pantai, suasana serupa berlangsung di gang-gang permukiman. Sejak pukul enam pagi, warga di 243 titik yang tersebar di 31 kecamatan membersihkan saluran air, memangkas ranting, dan mengangkut sampah rumah tangga.

Sapu lidi, gerobak dorong, serta karung plastik menjadi pemandangan umum. Namun di balik semangat gotong royong itu, pemerintah kota menemukan persoalan lama yang terus berulang.

Eri menyoroti kebiasaan sebagian warga yang memanfaatkan kerja bakti untuk membuang barang besar seperti kasur, sofa, atau lemari rusak. Fenomena yang ia sebut sebagai praktik “aji mumpung” itu dinilai mengaburkan tujuan kerja bakti lingkungan.

Menurut dia, kerja bakti seharusnya berfokus pada kebersihan saluran dan lingkungan sekitar, bukan menjadi momentum pembuangan furnitur bekas. Pemerintah kota pun meminta aturan teknis mengenai jenis sampah yang boleh diangkut saat kegiatan massal diperjelas.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sebagai efek jera, Eri menyatakan akan memperkuat koordinasi dengan Pengadilan Negeri untuk memberikan denda besar bagi warga yang membuang sampah sembarangan, termasuk melempar dari kendaraan atau membuang ke sungai. “Dendanya jangan diringankan lagi supaya jadi pelajaran,” katanya.

Kepala DLH Kota Surabaya, Dedik Irianto, menjelaskan bahwa seluruh sampah hasil kerja bakti akan ditimbang untuk memantau volume yang berhasil dikurangi sebelum masuk ke TPA Benowo.

“Target kita membentuk perilaku hidup bersih. Pak Wali Kota juga mengarahkan agar setiap kantor melakukan ‘kurve’ atau pembersihan lingkungan kantor setiap pagi sebelum mulai bekerja,” ujarnya.

Menurut Dedik, kesadaran warga dalam memilah sampah menunjukkan tren membaik. Namun tingginya mobilitas penduduk di kota besar seperti Surabaya menjadi tantangan tersendiri. “Perubahan populasi yang cepat membuat edukasi harus dilakukan berulang,” katanya.

Hasil pungutan sampah oleh mahasiswa bersama tim Ecoton ditimbang untuk mengetahui volume sampah yang berhasil dikumpulkan dalam aksi kurve bersih pantai HPSN 2026 di kawasan Kenjeran. | Foto: Amiruddin Muttaqin

#Ecoton dan Pelajar Ikut Terlibat

Kegiatan itu juga melibatkan organisasi lingkungan Ecoton. Amiruddin Muttaqin dari Ecoton mengatakan keterlibatannya merupakan partisipasi atas undangan Wali Kota Surabaya.

“Kami hadir sebagai bentuk dukungan dan kolaborasi. Isu sampah pesisir dan sungai memang tidak bisa diselesaikan satu pihak saja,” ujar Amiruddin. Menurut dia, persoalan sampah di wilayah hilir seperti Surabaya kerap dipengaruhi kiriman dari daerah hulu.

Eri sebelumnya mengakui, posisi Surabaya berada di hilir aliran sungai, sehingga sering menerima limpahan sampah dari atas. Saat ini, kata dia, sampah plastik di pantai mulai berkurang, namun popok bayi masih mendominasi.

Pemerintah kota berencana memasang pembatas atau penahan sampah di hulu, tengah, dan hilir sungai. “Dengan pembatas ini, kita bisa tahu apakah sampah itu kiriman atau warga lokal yang buang, supaya edukasinya tepat sasaran,” kata Eri.

Di antara barisan peserta, para siswa SMP dan SMA Surabaya tampak memunguti sampah dengan sarung tangan dan kantong plastik.

Guru SMP 7 Surabaya Ita Julaika mengatakan, “Kita bekerja sama-sama, siswa, guru, pegawai, petugas kebersihan, juga bapak-bapak dari angkatan laut. Semua turun tangan menjaga kebersihan pantai Kota Surabaya,” ujarnya.

Ita juga menilai persoalan sampah di Surabaya masih cukup memprihatinkan. Namun ia mengapresiasi gerakan rutin yang digagas pemerintah kota. “Cukup memprihatinkan, tapi dengan gerakan Pak Eri yang luar biasa, tiap minggu sekali ada kegiatan untuk menjaga pantai, khususnya di sekitar Suramadu dan kawasan pantai ini,” katanya.

Menurutnya, konsistensi gerakan rutin tersebut menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan pesisir.

Eri menutup kegiatan dengan pesan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Ia meminta warga memilah sampah sebelum dibuang ke tempat penampungan sementara (TPS). “Lingkungan yang bersih berkaitan langsung dengan kesehatan anak-anak dan hilangnya penyakit dari kota ini,” katanya.

Pagi itu, karung-karung sampah diangkut menuju truk. Di atas pasir Pantai Batu-Batu, angka 61.500 partisipan menjadi catatan Pemerintah Kota Surabaya. Namun, seperti diakui para peserta, pekerjaan menjaga kota tetap bersih baru saja dimulai. Sementara jalan panjang mengingatkan regulasi persoalan sampah belum benar-benar ditegakkan, terutama sampah yang dibuang kel laut dan sungai. ***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *