Lewati ke konten

Ketika Sungai Kehilangan Suara Kehidupan Manusia

| 5 menit baca |Opini | 15 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Dito Herdianto Editor: Marga Bagus

Kerusakan Sungai Citarum memperlihatkan krisis ekologis yang lebih dalam: hilangnya hak sungai untuk hidup, sekaligus kegagalan manusia menjaga sumber kehidupan bersama.

Sungai selalu hadir dalam sejarah peradaban manusia. Sungai menjadi sumber air, ruang ekonomi, jalur budaya, sekaligus penopang ekosistem yang menjaga keseimbangan alam. Namun di Indonesia modern, sungai perlahan kehilangan maknanya. Sungai diperlakukan bukan sebagai ruang hidup, melainkan saluran limbah yang diam menerima beban pencemaran.

Sungai Citarum di Jawa Barat menjadi simbol paling nyata dari paradoks tersebut. Membentang sekitar 297 kilometer dan melintasi kawasan industri serta permukiman padat, Citarum menopang kebutuhan jutaan warga, dari irigasi pertanian hingga air baku rumah tangga. Namun fungsi vital itu justru beriringan dengan tekanan ekologis yang terus meningkat.

Berbagai laporan menunjukkan kualitas air Citarum belum mampu memenuhi baku mutu secara konsisten. Beban pencemaran berasal dari kombinasi limbah domestik, aktivitas industri, serta perubahan tata guna lahan. Ketika air berubah warna akibat limbah produksi industri, publik kembali diingatkan bahwa sungai tidak pernah benar-benar pulih; ia hanya sesekali keluar dari sorotan.

Masalahnya bukan sekadar pencemaran fisik. Sungai kehilangan “suara” karena kerusakannya jarang diperlakukan sebagai krisis eksistensial. Sungai tidak dapat mengajukan gugatan hukum, tidak memiliki hak bicara, dan sering hanya menjadi objek kebijakan setelah kerusakan mencapai titik ekstrem.

Padahal, kerusakan sungai adalah indikator retaknya hubungan manusia dengan alam.

Perahu warga melintas di antara tumpukan sampah plastik di Sungai Citarum. Penelitian Ecoton menemukan sungai ini mengandung cemaran mikroplastik yang masuk hingga rantai makanan dan mengancam kesehatan manusia. | Dok Ekspedisi Sungai Nusantara Ecoton

#Data Ecoton: Mikroplastik dan Ancaman Tak Kasat Mata

Temuan terbaru dari lembaga riset lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) memperlihatkan dimensi pencemaran yang lebih kompleks. Dalam Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN), peneliti menemukan hampir seluruh sungai besar di Indonesia telah tercemar mikroplastik, partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang sulit terlihat namun berbahaya bagi kesehatan.

Dalam laporan panduan citizen science Ecoton, Sungai Citarum tercatat mengandung cemaran hingga 62–198 partikel mikroplastik per 100 liter air, sementara ikan yang hidup di dalamnya ditemukan membawa rata-rata 68 partikel mikroplastik per ekor di saluran pencernaannya.

Temuan ini menunjukkan, pencemaran tidak berhenti di permukaan air. Pencemaran itu masuk ke rantai makanan.

Ecoton juga mencatat, mikroplastik kini ditemukan pada berbagai komponen kehidupan—air, ikan, bahkan tubuh manusia. Sebanyak 84 persen sumber air minum masyarakat Indonesia berasal dari air permukaan, sehingga pencemaran sungai berpotensi langsung berdampak pada kesehatan publik.

Masalah semakin kompleks karena sumber mikroplastik tidak hanya berasal dari sampah rumah tangga, tetapi juga limbah industri tekstil dan kertas, produk sekali pakai, hingga degradasi plastik di lingkungan.

Dalam survei persepsi publik yang dilakukan Ecoton pada 1.188 responden di 30 provinsi, 90,7 persen masyarakat menilai kondisi sungai Indonesia telah tercemar, dan 82 persen merasa pengelolaan sungai masih diabaikan pemerintah.

Angka tersebut menunjukkan bahwa krisis sungai bukan hanya fakta ekologis, tetapi juga pengalaman sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Aktivitas pembersihan sampah di Sungai Citarum. Berdasarkan penelitian Ecoton, partikel mikroplastik ditemukan dalam air sungai dan biota perairan akibat buruknya pengelolaan sampah. | Dok. Ekspedisi Sungai Nusantara Ecoton

#Restorasi dan Pertanyaan tentang Masa Depan

Program Citarum Harum yang dijalankan pemerintah menjadi salah satu upaya ambisius memulihkan sungai. Pengendalian limbah industri, pembersihan sampah, serta edukasi masyarakat mulai menunjukkan perubahan di beberapa sektor.

Namun penelitian akademik menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan lingkungan masyarakat belum selalu berbanding lurus dengan perubahan perilaku nyata dalam menjaga sungai. Artinya, restorasi sungai bukan sekadar proyek teknis, melainkan transformasi sosial.

Sungai menghadapi tekanan dari hulu hingga hilir, urbanisasi cepat, budaya membuang sampah ke aliran air, serta lemahnya penegakan hukum lingkungan. Bahkan penelitian internasional memperkirakan Sungai Citarum setiap hari melepaskan ribuan item sampah makro dan partikel mikroplastik menuju laut, memperluas dampak pencemaran hingga ekosistem pesisir.

Di sinilah muncul gagasan baru dalam diskursus lingkungan global: mengakui sungai sebagai entitas ekologis yang memiliki hak untuk tetap mengalir dan bebas dari pencemaran. Perspektif ini bukan romantisme ekologis, melainkan cara baru melihat keberlanjutan.

Ketika sungai rusak, manusia sesungguhnya sedang merusak sistem penyangga kehidupannya sendiri. Krisis kesehatan, hilangnya biodiversitas, hingga kerentanan ekonomi masyarakat bantaran sungai hanyalah konsekuensi lanjutan dari satu kegagalan mendasar: mengabaikan alam sebagai mitra hidup.

Citarum mengajarkan bahwa sungai tidak pernah benar-benar diam. Ia berbicara melalui air yang berubah warna, ikan yang mati, dan partikel plastik yang masuk ke tubuh manusia. Persoalannya, manusia sering terlambat mendengarkan.

Jika sungai terus kehilangan suara, maka yang sebenarnya hilang bukan hanya ekosistem, melainkan masa depan bersama. Menjaga sungai bukan sekadar agenda lingkungan— itu merupan bentuk keputusan moral tentang bagaimana manusia memilih untuk hidup di bumi yang sama.

Referensi:

*) Dito Herdianto, mahasiswa Ilmu Kelautan, Angkatan 2023, Universitas Islam Sunan Ampel Surabaya. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *