Lewati ke konten

Kya-Kya Surabaya: Menenun Ingatan di Atas Aspal Pecinan

| 5 menit baca |Rekreatif | 13 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Kawasan Kya-Kya Kembang Jepun kembali hidup sebagai ruang publik dan ekonomi kota, mempertemukan sejarah Pecinan Surabaya dengan dinamika urban, wisata, dan kehidupan warga hari ini.

Di bawah gerbang Kya-Kya Kembang Jepun, arus kendaraan melambat tanpa perlu rambu. Pengendara motor, mobil, dan pejalan kaki berbagi ruang yang sama, bergerak pelan di antara deretan bangunan tua yang berdiri rapat. Lampion merah menggantung di atas jalan, menciptakan suasana yang seolah menghubungkan masa lalu dan masa kini dalam satu pandangan.

Kawasan ini berada di sepanjang Jalan Kembang Jepun, salah satu jalur perdagangan tertua di Surabaya. Sejak abad ke-18, wilayah ini berkembang karena kedekatannya dengan Sungai Kalimas, jalur distribusi utama yang menghubungkan pelabuhan dengan pusat aktivitas ekonomi kota.

Ketika Surabaya tumbuh sebagai kota niaga pada masa kolonial, komunitas Tionghoa mulai menetap di sekitar kawasan ini. Mereka membangun ruko yang berfungsi ganda, tempat tinggal sekaligus ruang usaha. Pola ruang seperti ini membuat kehidupan ekonomi dan sosial berjalan tanpa sekat. Aktivitas perdagangan berlangsung sejak pagi hingga malam, menciptakan ritme kota yang terus bergerak.

Pembentukan kawasan Pecinan tidak dapat dilepaskan dari kebijakan kolonial yang mengelompokkan permukiman berdasarkan etnis. Walakin, dalam praktiknya, batas itu tidak sepenuhnya kaku. Aktivitas perdagangan membuka ruang perjumpaan lintas komunitas. Pedagang Jawa, Madura, Arab, hingga pendatang dari wilayah lain bertemu di koridor yang sama.

Hadi, warga yang telah tinggal lebih dari 30 tahun di sekitar Kembang Jepun, mengatakan kawasan ini sejak dulu dikenal sebagai ruang percampuran. Menurutnya, identitas Pecinan tidak pernah berdiri sendiri. “Semua orang datang ke sini. Dari dulu memang tempatnya ramai dan terbuka,” ujarnya, saat berkisah tentang lokasi ini, Senin, (2/3/2026)

Kembang Jepun menjadi simpul ekonomi yang membentuk wajah Surabaya sebagai kota pelabuhan. Dari kawasan inilah barang-barang kebutuhan sehari-hari hingga komoditas perdagangan besar didistribusikan ke berbagai wilayah. Jejak sejarah itu masih terlihat dari bentuk bangunan, pola jalan, hingga aktivitas usaha yang bertahan hingga kini.

Sayang, perubahan kota perlahan menggeser pusat perdagangan. Munculnya pusat bisnis baru membuat aktivitas ekonomi di kawasan lama menurun. Banyak toko tutup, bangunan kosong, dan suasana malam hari menjadi sunyi. Pada masa itu, Kya-Kya lebih sering dilewati daripada disinggahi.

Revitalisasi menghidupkan kembali Kya-Kya, namun warga berharap kawasan ini tetap menjadi ruang hidup, bukan sekadar latar foto. Karena kota yang lestari bukan hanya indah dilihat, tapi juga dihuni. | Foto: Shella

#Revitalisasi dan Wajah Baru Ruang Publik

Perubahan mulai terasa ketika kawasan ini ditata ulang sebagai bagian dari revitalisasi Kota Lama Surabaya. Pemerintah kota bersama komunitas lokal berupaya menghidupkan kembali Kya-Kya sebagai ruang publik dan destinasi wisata budaya.

Lampion dipasang di sepanjang jalan, acara kuliner digelar secara berkala, dan ruang pedestrian diperluas agar lebih ramah bagi pengunjung. Jalan yang sebelumnya didominasi kendaraan mulai memberi tempat bagi aktivitas berjalan kaki dan interaksi sosial.

Transformasi ini menghadirkan dinamika baru. Pengunjung datang tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga mencari pengalaman ruang kota lama. Banyak yang datang untuk berfoto, menikmati makanan, atau sekadar merasakan suasana malam yang berbeda dari pusat perbelanjaan modern.

Rizal, pedagang di kawasan itu, merasakan dampak langsung perubahan. Menurutnya, akhir pekan kini menjadi waktu paling ramai. “Dulu malam sepi sekali. Sekarang orang datang terus. Walaupun tidak semua beli, tapi suasananya hidup,” katanya.

Kehadiran wisatawan membawa peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha kecil. Warung makan, kedai minuman, hingga penjual suvenir mulai bermunculan. Aktivitas ekonomi yang sempat meredup perlahan kembali bergerak.

Perubahan itu juga menggeser karakter kawasan. Jika dahulu transaksi grosir menjadi pusat aktivitas, kini pengalaman wisata menjadi daya tarik utama. Kya-Kya tidak lagi jadi ruang perdagangan, tetapi juga panggung budaya kota.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sebagian warga melihat perubahan ini sebagai peluang, sementara yang lain memandangnya dengan kehati-hatian. Mereka khawatir revitalisasi yang terlalu berorientasi wisata dapat menghilangkan kehidupan asli kawasan.

Aspal Kya-Kya bukan sekadar jalan, tetapi ruang yang menenun masa lalu dan masa kini. Ruko tua, langkah pengunjung, dan suara pedagang menjadi bukti bahwa kota hidup dari ingatan warganya. | Foto: Shella

#Antara Ingatan Warga dan Masa Depan Kawasan

Bagi warga lama, Kya-Kya tak hanya destinasi wisata saja. Tempat ini sudah menjadi ruang hidup yang menyimpan ingatan kolektif. Slamet, seorang warga yang sejak kecil mengenal kawasan ini, mengingat bagaimana Kembang Jepun menjadi tempat bertemunya berbagai komunitas pekerja.

Menurutnya, keberagaman sosial adalah identitas utama kawasan. “Dari dulu di sini campur. Itu yang bikin hidup,” katanya.

Relasi antara ruang dan ingatan terasa kuat di setiap sudut jalan. Ruko tua bukan hanya peninggalan arsitektur, tetapi bagian dari sejarah keluarga yang bertahan lintas generasi. Banyak usaha diwariskan dari orang tua kepada anak, menjaga kesinambungan kehidupan kawasan.

Muncul kemudian tantangan baru. Kenaikan nilai ekonomi kawasan berpotensi meningkatkan biaya sewa dan mendorong perubahan jenis usaha. Risiko gentrifikasi (proses perubahan kawasan) menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pelaku usaha kecil.

Lani, misalnya salah satunya. Pemilik usaha kecil di sekitar kawasan. Ia berharap perubahan tidak menghapus fungsi dasar Kya-Kya sebagai ruang hidup. “Kalau hanya jadi tempat foto, nanti hilang rasanya,” ujarnya. “Yang penting orang masih bisa tinggal dan kerja di sini.”

Kya-Kya hari ini berada di persimpangan antara pelestarian dan perubahan. Revitalisasi memberi napas baru, tetapi juga menuntut keseimbangan antara kebutuhan wisata dan keberlanjutan komunitas lokal.

Cerita kawasan ini mencerminkan dinamika kota modern, sejarah tidak berhenti di masa lalu, melainkan terus ditulis ulang melalui aktivitas sehari-hari. Ingatan kota hidup dalam langkah warga, suara transaksi, dan ruang yang tetap digunakan.

Di bawah gerbang Kya-Kya, Surabaya memperlihatkan wajahnya apa adanya, kota yang tumbuh dari perjumpaan, bertahan lewat perubahan, dan menyimpan sejarah dalam kehidupan yang terus bergerak.

Selama jalan Kembang Jepun masih dilalui orang, selama ruko masih membuka pintu setiap pagi, cerita Pecinan Surabaya tidak akan berhenti. Lokasi simbol toleransi berbagai etnis di Surabaya itu akan terus berjalan, mengikuti ritme kota yang tak pernah benar-benar diam.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *