Di kampung padat Surabaya, para lansia mengubah lahan sempit menjadi kebun hidroponik, ruang hijau sekaligus ruang sosial yang menumbuhkan kesehatan, kebersamaan, dan kesadaran lingkungan bersama.
Deretan daun hijau tumbuh rapi di atas rangka besi berlapis pipa putih. Air mengalir perlahan, membawa nutrisi ke akar tanaman pakcoy dan sawi yang tampak segar. Pemandangan itu kontras dengan kondisi Kampung Medayu, Surabaya, yang selama bertahun-tahun dikenal padat dan minim ruang terbuka.
Rumah-rumah berdiri saling berhimpitan, menyisakan sedikit ruang kosong di antara gang sempit. Pada siang hari, panas kota terasa menekan. Namun di satu sudut kampung, suasana berubah. Kebun hidroponik menghadirkan warna hijau yang menenangkan, seolah menjadi jeda dari ritme permukiman perkotaan yang padat.
Tidak ada suara mesin atau aktivitas proyek besar. Yang terdengar hanya gemericik air dan langkah kaki para lansia yang datang bergantian. Mereka membawa ember kecil, memeriksa aliran nutrisi, lalu menyapa satu sama lain. Aktivitas sederhana itu perlahan menjadikan kebun sebagai pusat kehidupan baru di lingkungan tersebut.
Kebun ini dikenal warga sebagai “Kebun Lansia Berkarya”. Inisiatif tersebut lahir dari kebutuhan sederhana, yakni menyediakan aktivitas bagi para lansia sekaligus menghadirkan ruang hijau di kampung yang hampir kehilangan lahan terbuka. Dari kebutuhan itu, tumbuh gerakan kecil yang kini memberi dampak nyata.
Setiap pagi dan sore, para lansia berkumpul. Mereka menyiram tanaman, mengecek kondisi daun, dan memastikan sistem hidroponik berjalan baik. Rutinitas itu bukan sekadar merawat sayur, melainkan merawat hubungan sosial yang sebelumnya mulai jarang terjalin.

#Menanam sebagai Cara Merawat Diri
Ketua pengelola hidroponik Medayu, Reni Susilawati, mengatakan kebun ini sejak awal dirancang sebagai ruang aktivitas bagi lansia agar tetap produktif sekaligus terhubung dengan lingkungan sekitar.
“Awalnya kami ingin para lansia tetap punya kegiatan. Dari situ muncul ide menanam, sekaligus menghijaukan kampung. Ternyata dampaknya bukan hanya ke tanaman, tapi ke semangat mereka juga,” ujar Reni, Rabu, (19/2/2026).
Menurut Reni, sebelum kebun hidroponik hadir, area tersebut hanyalah lahan terbatas yang jarang dimanfaatkan. Kini tempat itu berubah menjadi titik temu warga lintas usia. Lansia merasa memiliki peran, sementara warga lain ikut menjaga kebersihan serta keberlangsungan kebun.
“Kami tidak menargetkan hasil besar. Yang penting kebun ini hidup, lansia bisa bergerak, dan kampung jadi lebih hijau,” tambahnya.
Bagi para lansia, kegiatan menanam menjadi cara menjaga kesehatan fisik sekaligus mental. Di usia yang sering diasosiasikan dengan keterbatasan, kebun justru memberi alasan untuk tetap aktif. Mereka bangun lebih pagi, berjalan ke kebun, lalu berbincang sembari bekerja ringan.
Suasana kebun sering diwarnai tawa kecil dan cerita keseharian. Percakapan tentang keluarga, kesehatan, hingga masa lalu mengalir bersama air nutrisi tanaman. Tanpa disadari, kebun itu menjadi ruang terapi sosial yang alami.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelLis, salah satu lansia yang rutin merawat tanaman, mengaku menemukan kebahagiaan sederhana dari aktivitas tersebut. “Kalau tanaman ini tumbuh, kami ikut senang. Rasanya seperti ikut tumbuh juga,” tuturnya.
Panen sayuran menjadi momen yang paling dinanti. Hasilnya tidak dijual secara komersial. Sebagian dimanfaatkan bersama, sebagian lagi dibagikan kepada warga sekitar. Nilai kebersamaan menjadi tujuan utama, bukan keuntungan ekonomi.

#Belajar Lingkungan dari Gang Sempit
Kehadiran kebun hidroponik membawa perubahan nyata bagi lingkungan kampung. Sudut yang sebelumnya gersang kini terasa lebih hidup. Warga mengaku udara menjadi lebih segar, sementara tampilan visual kampung tampak lebih teduh.
Lebih dari itu, kebun juga menjadi sarana edukasi informal. Anak-anak sering mampir sepulang sekolah untuk melihat bagaimana sayuran dapat tumbuh tanpa tanah. Para lansia dengan sabar menjelaskan prosesnya—tentang air bernutrisi, pentingnya kebersihan, dan cara merawat tanaman agar tetap sehat.
Proses belajar berlangsung tanpa ruang kelas dan tanpa metode formal. Pengetahuan berpindah secara alami dari generasi tua ke generasi muda. Nilai menjaga lingkungan ditanamkan melalui praktik langsung, bukan sekadar nasihat.
Di tengah meningkatnya suhu kota dan berkurangnya ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan, kisah Kampung Medayu menghadirkan perspektif berbeda. Penghijauan tidak selalu membutuhkan taman luas atau proyek besar. Ruang hijau dapat tumbuh dari gang sempit selama ada kemauan warga untuk merawatnya.
Kebun hidroponik ini juga mengubah cara pandang terhadap lansia. Mereka tidak lagi diposisikan sebagai kelompok pasif yang hanya menerima program. Sebaliknya, mereka menjadi penggerak utama perubahan lingkungan.
Dari tangan para lansia, tanaman tumbuh, ruang sosial tercipta, dan kampung menemukan identitas baru. Kehadiran kebun menunjukkan bahwa solusi lingkungan sering kali lahir dari inisiatif kecil yang konsisten.
Ruang hijau di Kampung Medayu mungkin tidak luas. Namun keberadaannya cukup untuk mengingatkan bahwa kota masih memiliki peluang untuk bernapas. Selama ada warga yang bersedia merawatnya—setetes demi setetes air, daun demi daun—harapan akan lingkungan yang lebih sehat tetap tumbuh di tengah kepadatan.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.