Lewati ke konten

Mahasiswa Unimal Latih Siswa Lhokseumawe Hadapi Bencana dan Kuasai Pertolongan Pertama Saat Darurat

| 5 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 26 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Marga Bagus
  • Mahasiswa Unimal melatih siswa menghadapi gempa, banjir, dan kondisi darurat melalui simulasi serta pertolongan pertama.
  • Pelatihan GASPOLL membekali siswa SMP Negeri 17 Lhokseumawe dengan keterampilan menghadapi keadaan darurat di sekolah.
  • Simulasi gempa dan pelatihan first aid menjadi bagian edukasi kesiapsiagaan bencana mahasiswa Pendidikan Fisika Unimal.
  • Pengalaman banjir 2025 mendorong SMP Negeri 17 Lhokseumawe memperkuat kesiapsiagaan bencana bersama mahasiswa Unimal setempat.
  • Kegiatan GASPOLL mengajarkan siswa menyiapkan evakuasi, tas siaga, serta pertolongan pertama saat keadaan darurat sehari-hari.

Penulis: Angga Pratama, Pers Rilis Kegiatan Mahasiswa Pendidikan Fisika Universitas Malikussaleh (Unimal), Lhokseumawe, Aceh

MAHASISWA Pendidikan Fisika Universitas Malikussaleh (Unimal) menggelar edukasi mitigasi bencana. Kegiatan berlangsung di SMP Negeri 17 Lhokseumawe, Sabtu (8/8/2026). Seluruh siswa dan guru mengikuti rangkaian kegiatan bernama GASPOLL.

GASPOLL merupakan singkatan Gabung Simulasi dan Pola Kesiapsiagaan Bencana. Materinya mencakup mitigasi, respons darurat, serta langkah pascabencana. Siswa juga mempraktikkan simulasi gempa untuk menghadapi keadaan darurat.

Kepala SMP Negeri 17 Lhokseumawe Zainul Fuad Siregar mengapresiasi kegiatan tersebut.
Menurutnya, kesiapsiagaan perlu dipahami seluruh warga sekolah sejak dini. Pengalaman banjir 2025 menjadi pelajaran penting bagi sekolah.

“Ini merupakan edukasi dan pelatihan yang sangat penting bagi kami warga sekolah SMP Negeri 17 Lhokseumawe. Banjir kemarin menjadi pengalaman kami bersama untuk bagaimana cara menyelamatkan diri, barang apa saja yang harus kita bawa, dan hal seperti apa yang harus kita lakukan,” ujar Zainul dalam rilis yang sampaikan, Ahad, (9/8/2026).

Zainul menanmbahkan, kegiatan merupakan bentuk implementasi kerja sama antara sekolah, sekaligus menjawab Morandum of Understanding (MoU) dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Malikussaleh.

“Kita juga mencoba memproyeksikan program Kemendikbud tentang Satuan Pendidikan Aman Bencana di sekolah kami. Ini juga salah satu bentuk menjawab MoU sekolah dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unimal, bahwa kerja sama seperti inilah yang senantiasa terus kita lakukan dan sinergikan,” jelas Zinul.

Mahasiswa menjelaskan pentingnya pelatihan kesiapsiagaan bencana dan pertolongan pertama kepada siswa. | Foto: Dok. Rilis

#Simulasi Gempa dan Respons Keadaan Darurat

Kegiatan yang diawali dengan pemaparan materi mengenai mitigasi bencana.Mahasiswa menjelaskan langkah sebelum, ketika, dan setelah bencana terjadi. Materi disampaikan secara interaktif  supaya mudah dipahami siswa.

Najifa, salah seorang mahasiswa menyampaikan materi tentang mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Sementara Bagas memberikan materi pertolongan pertama pada kecelakaan. Keduanya mengajak siswa memahami prosedur melalui praktik langsung.

Dalam simulasi itu, siswa juga dilatih merespons situasi gempa secara terstruktur. Mereka belajar melindungi diri sebelum menuju lokasi evakuasi. Latihan juga mengenalkan pentingnya mengikuti arahan selama proses penyelamatan.

Materi pertolongan pertama mencakup sejumlah kondisi darurat lingkungan sekolah. Kasus yang diperagakan meliputi tersedak, jatuh, luka, dan pingsan. Siswa kemudian mempraktikkan tindakan dasar menghadapi kondisi tersebut.

Dosen pengampu mata kuliah Syafrizal menilai edukasi ini penting. Aceh memiliki berbagai ancaman bencana yang perlu diantisipasi masyarakat. Risikonya mencakup tsunami, banjir, hingga gempa bumi.

“Aceh ini sangat rawan terhadap bencana, baik tsunami, banjir, maupun gempa bumi. Kita berada pada sesar Sumatera yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Maka, ini menjadi langkah awal untuk meminimalisir dampak yang besar,” ungkap Syafrizal.

Menurut Syafrizal, kesiapsiagaan perlu dibangun melalui pendidikan berkelanjutan. Pengetahuan dasar dapat membantu mengurangi risiko ketika bencana terjadi. Sekolah dinilai memiliki posisi penting dalam proses tersebut.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti sebagai pembelajaran semata. Ini harus menjadi langkah awal membangun budaya kesiapsiagaan bencana secara berkelanjutan, baik di sekolah maupun masyarakat,” ungkap Syafrizal.

Kerja sama yang mempertemukan pembelajaran perguruan tinggi dengan kebutuhan sekolah ini. Mahasiswa menerapkan pengetahuan perkuliahan melalui kegiatan edukasi langsung. Sekolah memperoleh materi praktis mengenai kesiapsiagaan dan pertolongan pertama.

Kaprodi Pendidikan Fisika Unimal Munzir Absa turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap edukasi tidak berhenti setelah kegiatan GASPOLL selesai. Kesiapsiagaan perlu menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga ini menjadi langkah awal dan langkah yang berkelanjutan dalam kita membangun kesiapsiagaan, di manapun kita berada,” kata Munzir.

Siswa mengikuti latihan kesiapsiagaan bencana dengan antusias dalam kegiatan GASPOLL. | Foto: Dok. Rilis

#Dari Tugas Kuliah Menjadi Edukasi Keselamatan

Ketua panitia sekaligus pemateri, Bagas, menjelaskan latar kegiatan tersebut. Menurutnya, GASPOLL merupakan bagian dari tugas perkuliahan mahasiswa. Namun, isu yang diangkat berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat.

Bagas mengaitkan kegiatan dengan perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi. Ia juga menyoroti kondisi Sesar Sumatera yang berpotensi memicu gempa. Karena itu, edukasi mitigasi dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan.

“Kegiatan ini merupakan tugas kuliah, namun juga penting kita lakukan karena urgensi saat ini tentang perubahan iklim, bencana hidrometeorologi, serta kondisi sesar Sumatera yang bisa saja menimbulkan gempa besar,” jelas Bagas.

Antusiasme siswa terlihat selama penyampaian materi dan simulasi berlangsung. Salah seorang siswa mengaku memperoleh pengetahuan baru tentang kesiapsiagaan. Ia terutama mengingat pentingnya menyiapkan tas siaga bencana.

“Ini menjadi ilmu yang sangat bermanfaat bagi kami dan akan kami ingat serta kami coba terapkan di rumah, terutama tentang tas siaga bencana,” ujar seorang siswa.

Kegiatan GASPOLL diikuti dosen dan jajaran pimpinan sekolah. Hadir pula Ketua Program Studi IPA Riza Andriani. Penjamin Mutu Unimal Widya turut mengikuti kegiatan tersebut.

Kegiatan ditutup dengan penguatan pesan mengenai kesiapsiagaan bencana. Mahasiswa berharap pengetahuan itu diterapkan siswa bersama keluarganya. Sinergi kampus dan sekolah juga diharapkan terus berlanjut.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *